
"Apa sih maunya Mas Gito itu?" Tante Rina ngedumel dan bibirnya komat kamit, dan saat ini tinggal mereka bertiga. Ara, Tante Rina dan nenek, Reno sudah berpamitan ke kantor sebentar karena ada rapat yang tidak bisa ia tinggalkan, namun lelaki itu sudah berjanji akan segera kembali setelah semua selesai.
Walau tak rela, akhirnya Ara mengizinkan lelaki itu pergi, dan selang beberapa menit Reno pergi, Pak Gito juga pergi dengan alasan ada pekerjaan.
"Sudahlah, Nduk. Ndak usah di ambil hati kelakuan si Gito itu," ujar nenek lembut, "kesel aja, Bu. Masak kita nggak boleh ngurus keturunan kakakku," Ara tersenyum mendengar gerutuan sang tante, "iya ibu tahu, tapi jangan keras kamu lawan keras. Hasilnya akan buruk lho," nenek masih menasehati, walau dirinya juga geram dan kesal namun berpikir positif coba ia terapkan.
"Sudahlah, Tante. Kan mulai sekarang Ara akan tinggal bareng kalian," Ara berkata sambil tersenyum, nenek dan tante Rina lupa jika hari Sabtu Om Indra akan datang ke kota ini, dan sementara ayah Andri yang Ara kira adalah kembaran ayahnya.
"Oya, Tan. Om Indra kok nggak ikut kesini, trus si kembar di kampung sama siapa?" cecar Ara yang membuat kedua wanita kesayangannya terkejut dengan pertanyaan itu.
"Emm, itu...." Tante Rina bingung menjelaskan, "trus itu muka Om Indra kenapa ya, bukannya terakhir Ara kesana Om Indra sehat sehat dan baik baik aja?" lagi Ara mencecar pertanyaan pada sang tante.
"Hust, udah. Kenapa malah ngelantur gini ngomong nya," nenek menengahi, takut jika Tante Rina keceplosan dan Ara tahu sebelum waktunya tiba, walau sebenarnya tidak masalah. Tapi Ayah Andri takut jika Ara malu atau takut melihat lelaki yang kini buruk rupanya ternyata ayah kandung yang ia kira sudah meninggal ternyata masih hidup.
"Oya, kamu sama Nak Eno mau nikah kapan?" tante Rina mengalihkan pembicaraan, Ara terlihat berpikir.
__ADS_1
"Kurang tahu, Tan. Emang itu yang nentuin siapa?" Ara balik bertanya, "pihak pembelai perempuan 'lah, Nduk," nenek yang menjawab. Ara hanya mengangguk mengerti.
"Trus nanti itu gimana?"
"Gimana, gimana?" tanya nenek dan Tante Rina bingung, Ara menyugar rambut panjangnya, ia juga bingung mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
"Biar nanti saya yang cari hari baik," pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang Ara kenal sebagai pamannya, Ara melempar senyum pada lelaki itu.
"Kamu masih bisa sabar buat jadi istri dia 'kan?" Ayah Andri bertanya, kini keduanya sudah saling berhadapan, Ara menatap dalam netra itu, rasanya lebih hangat dan nyaman dari pada awal mereka bertemu.
"Boleh saya memeluk kamu?" Ara segera mengangguk mendengar permintaan Ayah Andri, lelaki itu tersenyum bahagia, kemudian merengkuh tubuh putrinya.
'Kenapa rasanya nyaman sekali,' Ara berbicara pada dirinya sendiri, Ayah Andri meletakkan dagunya di atas kepala Ara. Bibirnya melengkung sempurna, tante Rina dan nenek ikut tersenyum. Nenek mengusap pelan airmata yang mengalir di pipinya namun tidak terlalu deras.
"Lihatlah nduk, suamimu sudah kembali. Dan kini putri serta suamimu sudah bersama, kau tak perlu khawatir. Banyak yang akan menjaga nya," bisik Nenek lirih, tante Rina yang mendengar langsung memeluk sang ibu dan menyenderkan kepalanya pada pundak sang ibu.
__ADS_1
***
Di kantor Reno's Co'orporation.
"Saya sudah menemukan tempat persembunyian mereka, Bos," seorang lelaki kini dengan posisi tengah berdiri dan menunduk, netranya hanya menatap lantai marmer yang berwarna putih.
Lelaki yang sedang duduk itu mengangguk menerima sebuah amplop berwarna cokelat yang lelaki itu tugaskan mengawasi pergerakan seseorang.
"Kenapa hanya Ayah Andri dan Ara yang bisa memasukkan pria brengsek itu ke penjara," desis lelaki itu, "padahal gue juga ingin sekali memasukkan dia kesana, berani beraninya hampir mencelakai calon Istri gue," desis lelaki itu lagi.
"Sabar, Ren. Kalau Ria yang di begitukan gue juga nggak terima, tapi saat ini yang bisa kita lakukan adalah bersabar sampai operasi wajah ayah 'Si Kecil' selesai. Setelah itu baru kita beri pelajaran dia," Anton memanas manasi Reno yang tengah kesal.
"Makanya, suruh cepat sepupu loe itu kesini dan segera mengoperasi Ayah Andri!" ketus Reno, dan sebuah gumpalan tissu mendarat di wajah Anton.
"Udah, dia bisa majunya lusa. Sorry gue lupa bilang," ujar Anton yang kemudian menggigit lidah takut salah bicara dan membuat sahabat atau calon kakak iparnya marah. Jika ia marah pasti tidak akan membiarkan Anton dekat dekat lagi dengan Ria, walau dengan alasan melindungi dari Pak Gito.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi, dan terus awasi mereka," Mas Seno menyuruh lelaki suruhannya itu pergi agar tak mendengar perdebatan tak berguna itu.
Lelaki yang suruhan Reno itu mengangguk lalu membungkuk sebagai tanda hormat dan berpamitan, ketiga lelaki itu mengangguk dengan ekpresi yang berbeda beda.