Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 123


__ADS_3

Sepanjang koridor, Ria berlari sambil menarik pergelangan tangan Anton. Lelaki itu tersenyum senang melihat tangan mereka berpegangan, walau sedikit terseok namun ia tetap menikmati. Ingin sekali Anton menggendong tubuh mungil Ria agar tidak kelelahan dan agar lebih cepat sampai di ruangan Ara, daripada gadis ini menarik dirinya yang bertubuh lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya.


"Buruan, Kak, jalannya!!" ketus Ria masih sambil menarik tangan Anton, "stop, Ria stop berhenti dulu," Anton menahan tubuhnya agar tidak bisa di tarik lagi oleh Ria.


Ria refleks berhenti lalu menatap kesal wajah Anton, "kenapa harus berhenti, aku pengen segera ke kamar kak Ara, Kakk!!!" Ria mendesis sambil menyentak tangan besar Anton.


Anton yang benar benar gemas, segera mengangkat tubuh mungil Ara sehingga membuat gadis itu memekik kaget dan memukul dada bidangnya, "diem, ini biar lebih cepat sampai. Kalau kamu nggak bisa diem aku jatuhin entar," ucap Anton terdengar seperti ancaman untuk Ria.


"Tapi aku malu di gendong kaya gini," cicit Ria yang kemudian mengerucutkan bibirnya membuat Anton gemas, "di mana ruangan kakakmu?" Anton memilih tak menatap bibir yang akan membuat dirinya hilang kendali.


"Di ruangan biasa," cicit Ria yang kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Anton karena merasa malu, gadis itu kemudian menghirup wangi maskulin yang membuat pikiran nya tenang.


Anton melangkah dengan elegan, Ria mencuri pandang sekitar dan mendapati banyak tatapan iri pada mereka, "wah suaminya romantis ya, pasti istrinya hamil anak pertama," seloroh seorang ibu ibu yang mereka lewati.


"Iya, ya, mau dong di gendong. Suami saya aja masih pacaran nggak pernah romantis sampai sekarang pun begitu," sahut ibu ibu yang satu.


"Halah, cewek manja pasti itu," seorang perempuan muda mencibir, Ria melirik ekpresi wajah Anton saat mendengar ucapan perempuan itu, rahang nya mengeras namun Anton tetap berjalan melewati mereka.


"Maaf membuat mereka berkata yang tidak tidak," Ria bersuara lirih menyerupai bisikan, Anton menunduk dan tersenyum lalu menggeleng, "tak masalah," jawabnya yang kemudian menatap kembali jalanan menuju kamar rawat Ara.


Anton menurunkan Ria begitu mereka sudah sampai di depan ruangan Ara, "terima kasih," kata Ria, Anton hanya menggeleng sembari tersenyum kecil, "tak masalah," lalu Ria masuk terlebih dahulu dan Anton menyusul.


Namun sebelum masuk, lelaki itu memegang dadanya, dan ia merasakan degub jantungnya bertambah cepat. "Semoga dia tidak menyadarinya," gumam Anton yang kemudian hendak membuka pintu dan melihat seorang lelaki yang pernah ia lihat sedang berlarian.

__ADS_1


Tanpa permisi, lelaki itu menekan knop pintu membuat pegangan Anton pada knop itu terlepas, dan lelaki itu mendorongnya membuat pintu itu terbuka, lelaki itu berjalan dan setelah berlari menuju tempat Ara terbujur lemas tak sadarkan diri, dan tangannya terdapat infus.


"Ra, kamu sakit apa? Jangan buat Kak Fandi cemas, ayo bangun," ucap lelaki yang tadi berlarian ternyata kak Fandi, Reno hanya diam dan memandang wajah sedih lelaki yang tengah menangisi calon istrinya itu.


Kak Fandi mendongak dan menatap Reno, "katakan! Sebenarnya dia sakit apa!?!" Kak Fandi mendesis menahan kesal saat mendapati Reno malah menemani wanita yang dia cintai.


"Dia sakit gegar otak,"


"Kenapa bisa!!" Kak Fandi berteriak kaget.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Kak Fandi mengulang pertanyaannya namun kali ini nadanya menurun, terlihat nafasnya memburu, matanya kian memerah.


"Saat kecil dia tertabrak mobil dan sempat koma, saat sadar dia kehilangan ingatannya," nenek menjelaskan, Reno mengangguk.


"Kenapa dia tak memberitahu aku," Kak Fandi menangis, lelaki itu menjatuhkan kepalanya di lengan Ara.


Kak Fandi terkekeh, "kenapa dia harus memberitahu dirimu, memang siapa dirimu baginya?" pertanyaan yang terdengar seperti cibiran, Reno tidak tersinggung karena baginya lelaki ini belum tahu apapun tentang kehidupan Ara dan dirinya dahulu.


"Ayah keluar dulu, titip Ara," Ayah Andri berpamitan, tangannya menepuk pundak Reno yang langsung diangguki oleh Reno.


Kak Fandi menarik kursi dan memilih duduk di samping Rara nya, sedang Reno berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada tembok, ketiga wanita kesayangan Ara yang berbeda generasi dan sedang duduk di sofa itu saling memeluk satu sama lain dan mereka saling menguatkan, tante Rina masih sesekali sesengukan.


"Saya keluar dulu," Om Indra berpamitan pada Tante Rina, istrinya tersebut mendongak lalu mengangguk. Kak Fandi yang mendengar suara lelaki dewasa menoleh dan menatap bingung akan sosok yang kini tengah berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Rara," pintu terbuka dan menampilkan Pak Gito yang terlihat sangat cemas, ia masih belum menyadari keberadaan Om Indra yang berdiri di belakang pintu.


"Dia kenapa lagi, hahh!!??" Pak Gito berteriak dan menatap tajam pada Reno yang kini berdiri tegap karena kaget, Reno hanya memutar bola malas dan tanpa berniat menjawab pertanyaan konyol ayah sambung Ara.


"Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi, hahh?" kini Pak Gito sudah berada di depan Reno dan menarik kerah kemeja yang Reno kenakan, "tanya pada diri anda sendiri, kenapa keadaan Ara bisa seperti ini," Reno mendekatkan wajahnya pada Pak Gito, Reno melihat wajah Pak Gito memerah menahan marah, giginya terdengar bergemrutuk.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Kak Fandi yang mendengar ucapan Reno bertanya, wajah pak Gito memucat, sedang Reno menyeringai puas.


"Oya, Om. Om nggak jadi keluar?" Reno bertanya lalu memiringkan kepalanya menatap Om Indra yang masih berdiri dan diam melihat kelakuan Pak Gito, "ini mau keluar," Om Indra menjawab.


Merasa mengenal suara tersebut Pak Gito menoleh dan seketika langsung melepas cengkraman tangannya pada kerah Reno. Wajahnya kia memucat, "A-a-andri," ucap Pak Gito terbata bata, sedang Om Indra hanya menaikkan satu alisnya dan menatap Pak Gito dengan tatapan datar.


"Ka-kamu ma-masih hidup?" tanyanya tak percaya, Pak Gito menyeret langkahnya mendekat pada sosok yang ia kira Ayah Andri.


"Menurutmu?" Om Indra balik bertanya, Reno hanya menahan tawa. Walau kembar dan wajahnya tak ada perbedaan, Om Indra memang sangat berbeda dengan Ayah Andri dari segi watak dan sikap.


"Akhirnya kita bisa bertemu lagi," Pak Gito memeluk Om Indra, sedang Om Indra tidak membalas pelukan itu.


"Awas Rara!!!" tiba tiba Ara berteriak dan mengangkat tangannya ke udara, semua orang menoleh kearah Ara, Reno segera berjalan mendekat dan menepuk pelan pipi Ara. Terlihat ada airmata yang mengalir kepelipis Ara, Reno mengusap sambil terus memanggil nama wanita itu. Sedang Kak Fandi hanya menatap bingung dengan situasi yang tengah terjadi.


"Ton, panggil dokter!" perintah Reno pada Anton yang juga sedang menatap dirinya, dengan sigap, Anton berjalan setengah berlari menuju keluar ke ruangan dokter jaga berada.


"Kau akan menerima balasan yang setimpal," Om Indra berbisik di telinga Pak Gito dan berlalu dari hadapannya, tubuh Pak Gito membeku mendengar ucapan Om Indra.

__ADS_1


"Apa, apa dia sudah tahu semua?" tanyanya pada dirinya sendiri, kemudian Pak Gito melangkah pergi meninggalkan kamar Ara, kali ini mengejar Om Indra.


"Andri tunggu!!" Pak Gito berseru memanggil Om Indra, kebetulan Ayah Andri berada di sekitar sana dan berhenti saat mendengar namanya di sebut, sedang Om Indra masih terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Pak Gito.


__ADS_2