
Rara mendengus sebal, bibirnya mengerucut lucu, "huh dasar nyebeelin," ujarnya dengan nada kesal.
Rara memutuskan kembali ke kamar sang ayah karena merasa sudah terlalu lama meninggalkan mereka berempat, kaki Rara melangkah menuju kamar sang ayah, bibirnya mengulas senyum kala mengingat akhirnya ayahnya bisa di operasi.
"Semoga ayah lekas sehat," doa Rara tulus, kemudian menyapukan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
Sesampainya di depan kamar rawat sang ayah, Rara bermaksud langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, namun dari dalam dia mendengar keributan yang menyebut-sebut namanya.
"Pokoknya Rara anak kamu, Amar, harus menikah dengan Fandi anakku!" kata om Ridwan dengan nada kesal, Rara menggeleng tidak percaya.
Pembahasan tentang perjodohan tadi belum juga selesai, Rara mengacak rambutnya dan membuat rambutnya yang tadi dia kucir kuda jadi berantakan.
"Ow tidak bisa, anak Gito harus menikah dengan Dion, anakku. Apa kamu tahu, anakku sudah lama menyukai Rara anakmu!" pekik om Amat tidal mau kalah.
Sedang Rara di luar terkejut, Dion anak om Amat, bukankah Dion anak om Riki dan tante Maya. Lalu kenapa om Amat mengaku-ngaku, dan tadi apa kata om Amat, Dion sudah lama suka, sejak kapan.
__ADS_1
Sebenarnya Rara tahu jika Dion menyukainya, tapi itu Rara pikir mulai dari mereka SMA. Kenapa om Amat bilang sudah lama, kapan? Mendadak kepala Rara seperti di hantam gada besar, lehernya di beri kalung seberat 100kwintal.
Rasanya berat sekali, Rara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat berharap bisa hilang rasa pusing yang tiba-tiba mendera kepalanya. Memijat tengkuk nya yang terasa kaku.
Rara menarik nafas dan menghembuskan, menarik nafas lalu menghembuskan, dan kedua tangannya mengepal di udara.
"Semangat Rara, saat ini bukan waktunya memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. Masih ada ayah dan Ria yang masih butuh kamu," ucapnya pada dirinya sendiri memberi semangat.
"Saat ini hanya kesembuhan ayah yang utama," ucap Rara mengingat kan dirinya sendiri.Ceklekkk, Rara akhirnya membuka gagang pintu dan melonggo kan kepalanya.
"Maaf om Amat, om Ridwan, kak Fandi, dan ayah, Rara terlalu lama di luar," ujar Rara sambil membenahi rambutnya yang tadi dia acak-acak.
"Ngga papa, Ra," sahut om Ridwan tenang, " memang tadi yang telepon siapa?" timpal om Amat, Rara memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi, mulutnya seakan enggan mengatakan siapa yang tadi menelpon dirinya.
"Jangan bilang pacar, kata ayahmu kamu belum punya," cecar om Ridwan yang langsung menyambar, mungkin melihat raut wajah Rara yang tidak enak.
__ADS_1
"Emm, tadi itu...." ucapan Rara terjeda karena ponselnya bergetar, segera diraihnya dan dilihat ada notif apa, matanya yang indah membulat sempurna kala ada chat masuk bertuliskan (Maaf tadi ada tamu, bisa, jam berapa ayahmu selesai operasi?) deretan pertanyaan balasan dari kontaknya yang bernama MAS RENO GANTENG.
Tanpa sadar bibir Rara tersenyum lebar membuat keempat pria itu heran dan bertanya-tanya.
(Lusa ayah operasi, mungkin malam selesainya, karena sore baru masuk) balasan dari Rara, dan dia kirim ke Reno.
(Oke,) balas Reno singkat.
(Ini bukti transfer untuk biaya Rumah Sakit ayah kamu, kalau masih kurang beritahu saya) chat tambahan dari Reno yang barusan masuk dan cukup membuat Rara senang.
(Terima kasih, jangan lupa lusa saya kabari lagi) ketikan dari Rara di sertai emot senyum dan tangan mengatup.
"Siapa, Ra? Kok kayaknya bahagia dan seneng banget?"
"Eh," Rara tersenyum canggung, malu rasanya. Tadi dia bahagia dan tersenyum karena uang transfer untuk operasi sang ayah sudah masuk berarti besok itu lancar jalan operasi nya, bukan karena pengirim balasan, batinnya bermonolog.
__ADS_1
#Maaf saya jarang up, anak saya baru mau ujian jadi harus fokus ngajarin belajar dulu, sekali lagi maaf kakak kakak. Sayang kalian semua, sehat selalu