Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 90


__ADS_3

"Oya, Nek. Apa sebaiknya ayah Andri di bawa ke kota saja, agar di operasi wajah di sana. Kalau masalah biaya, Eno tak masalah berapapun biayanya," Reno berkata setelah berpikir beberapa saat, terdengar sentakan nafas seperti orang kesal.


"Ini demi kebaikan anda, Yah. Mungkin anda mau ganti wajah," ujar Reno yang bermaksud bercanda, akan tetapi Tuan Andri menangkap lain maksud Reno.


"Kenapa? Apa Ara akan malu punya ayah tak sempurna seperti ku?" suara itu terdengar bergetar, Reno menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Ayah, Ara bukan gadis seperti itu. Dia tidak memandang fisik seseorang, jika dia memandang fisik mungkin dia sudah menolak saya karena saya tua," seloroh Reno yang masih berusaha membuat Tuan Andri percaya diri.


"Eno benar, Mas. Ara menuruni sifat mbak Rani," adik ipar tuan Andri menimpali, walau sehari Ara di sini, dia bisa menilai jika sifat keponakan nya itu mirip dengan kakak kandungnya, lemah lembut dan berhati tulus.


"Jika ayah operasi dan ganti wajah, ayah bisa mendekati pak Gito dengan mudah, dan juga bisa melindungi Ara," kening Tuan Andri mengkerut bingung, dari tadi Reno hanya membahas melindungi Ara dan melindungi Ara, memang ada apa dengan putrinya kali ini, gumam Tuan Andri di dalam hati.


"Masalah biaya abang ga perlu khawatir, kamu juga, No. Yang penting Abang setuju untuk operasi itu sudah bagus," Om Indra yang baru datang menimpali, "baru datang?" Om Indra beralih menatap Reno, sedang pria itu menggeleng seraya berkata, "lumayan," entah apa maksudnya.


Jawaban yang hanya Reno mengerti, dan walau Om Indra suka dengan sikap Reno yang tanggung jawab, akan tetapi sikap absourdnya membuat Om Indra kesal.

__ADS_1


"Oya, Om. Kalau ayah setuju, segera kabari saya. Ada urusan mendadak yang tidak bisa di tinggalkan," ucap Reno setelah melihat pesan masuk di ponselnya.


"Urusan apa?" nenek Ara yang penasaran bertanya, "calon istri Eno merajuk, dia mengancam jika sore ini belum sampai, sampai kapanpun jangan temui dia," jawab Reno sambil cengegesan, Om Indra memutar bola matanya malas.


"Dasar, belum nikah aja udah jadi penakut," ejek Om Indra, bukannya marah Reno tertawa dan menjawab, "bukan takut om, saya hanya ngga bisa lihat dia marah atau menangis. Jika itu terjadi...." Reno menggantung ucapannya, dan mereka mengerti apa maksud ucapan Reno.


"Ya sudah sana pulang," kali ini Om Indra berbicara pelan, rasa sayangnya pada Ara mengalahkan egonya, Reno mengangguk kemudian mengambil tangan semua orang satu persatu dan menyalim tangan mereka.


"Salam buat Ara," kata ayah Andri, Reno mengangguk mengiyakan kemudian dirinya pamit.


"Abang lebih baik sembuh dulu, setelah itu kami ceritakan semua," Om Indra menjawab dan memberi saran, ayah Andri menarik nafas berat, bukan ini jawaban yang ingin ia dengar.


"Maksimal abang sudah bisa berdiri dengan benar, aku akan memberi tahu semua," lagi Om Indra menambahkan, mau tak mau ayah Andri mengangguk dan kali ini bersemangat untuk kembali sehat. Demi mengetahui kebenaran yang selama ini terjadi namun dia tak tahu.


Sepekan sudah waktu berlalu, dan kini ayah Andri sudah bisa berjalan walau terkadang sering terhuyung hampir jatuh, mungkin karena bertahun tahun tak menggerakkan tubuhnya jadi terasa kaku, pikirnya.

__ADS_1


Ayah Andri mengumpulkan semua orang, sebenarnya Om Indra sudah meminta Reno datang bersama Ara, akan tetapi Ara tidak bisa karena kebetulan ada event di sebuah mall, dan ada yang mengadakan pernikahan dan memesan makanan di restonya.


Walau kecewa tidak bisa bertemu dengan Ara, keluarga kandung bunda Ara memaklumi juga merasa bangga dengan gadis pekerja keras itu.


Setelah mereka berkumpul tanpa Ara dan Reno, nenek Ara bercerita tentang kecelakaan yang terjadi pada ayah Andri hingga Pak Gito menikah dengan bunda Rani, dan kecelakaan yang Ara dan Rara alami yang membuat Rara meninggal sedang Ara koma beberapa hari dan akhirnya mereka memutuskan akan mengobati Ara di kota.


Menghilang dan tidak ada kabarnya bunda Rani beserta Ara juga pak Gito hingga bertahun tahun, sampai Reno datang karena ada bisnis dan mereka bertemu, Reno menceritakan semua tentang Ara yang membuat nenek Ara ingin bertemu dengan cucu yang sudah lama tak ia jumpai.


Dan akhirnya mereka bertemu, semua itu berkat Reno. Ada senyum lega yang terpancar di bibir ayah Andri, setidaknya putri satu satunya sehat dan baik baik saja serta dalam hati dia juga berterima kasih pada Reno yang telah menjaga putrinya.


Rasa ingin bertemu dan memeluk Ara semakin besar, namun dia harus segera operasi wajah. Mungkin benar kata Reno, dia harus berganti wajah agar bisa melindungi dan dekat dengan putrinya.


"Baiklah, aku mau di operasi. Katakan pada calon suami Ara agar dia bisa mengatur kapan aku akan ke kota dan di operasi," tutur ayah Andri pada akhirnya, semua lega mendengar keputusan ayah Andri.


Dengan segera, Om Indra menelepon Reno agar mengatur tempat tinggal saudara kembarnya serta kapan kakak kembarnya operasi.

__ADS_1


__ADS_2