
"Bunda!!" Rea berteriak memanggil Ria, kini Reno dan Rea berada di rumah Nyonya Wijaya setelah tadi ke resto untuk bertemu mbak Siti, Ria yang sedang ada di kamar segera berdiri dan hendak berlari jika tidak di tegur dan di ingatkan oleh Nyonya Wijaya kalau dirinya tengah hamil.
"Gimana kabar adik Rea, Bun?" tanya Rea antusias, tangan Rea mengusap lembut perut Ria yang masih datar sesekali menunduk dan menempelkan telinganya di perut Ria, membuat wanita calon ibu itu tersenyum bahagia.
"Kau tahu, dia tadi ke resto Ara, dia juga langsung berteriak heboh dan memeluk istri Seno saat mendengar istri Seno akan cuti beberapa hari karena dokter menyuruhnya badrest," Reno melempar tubuhnya di sofa empuk di rumah ibu sahabatnya.
Setelah tahu dua hari yang lalu jika Ria hamil, Nyonya Wijaya meminta Ria dan Anton untuk pindah kerumah itu agar bisa menjaga menantu dan calon bayi itu. Anton meminta kamar tamu yang letaknya di lantai bawah dan paling luas di bersihkan untuk mereka tinggali, Anton tidak mau Ria kelelahan karena naik turun tangga.
"Memang mbak Siti sakit apa kok di suruh badrest, Bang?" Ria bertanya heran, kemudian ikut duduk di samping Rea yang tidak mau lepas dari dirinya, tangannya terus mengusap perutnya yang masih rata sambil sesekali mengajak bicara janin yang masih seukuran kacang itu.
"Tante Siti di perutnya juga ada adiknya, Bunda. Seneng deh Rea, sekarang jadi punya 2 adik," celetuk Rea yang membuat Ria ikut bahagia, "akhirnya ya, Bang. Aku sama mbak Siti bisa hamil, kalau kak Ara ads dia pasti juga ikut senang," ucap Ria yang kemudian mendapat pelukan dari Rea.
"Oya, kau tahu, keponakan kesayanganmu itu meminta sesuatu yang aneh aneh," Reno terkekeh setelah berucap, "iya 'kah, memang tuan putri ini minta apa?" akhirnya pembicaraan mengenai Ara teralihkan, Reno berpikir hanya dirinya yang boleh sedih mengingat wanita yang sangat baik dan sangat ia cintai itu.
"Coba kau tanya sendiri," Reno menunjuk Rea dengan dagunya, semenjak Ria membantu merawat Rea, hatinya sedikit melunak dan mulai tidak kaku juga dingin dengan adik iparnya tersebut.
"Hehehe, papa mah gitu, nolong satu orang anak nggak akan bikin papa bangkrut 'kan," seloroh Rea yang membuat Reno memutar bola matanya malas, semakin besar putrinya, semakin ia pintar bicara dan Reno selalu kalah jika adu argumen.
"Memang kenapa sih?" Ria penasaran dan menatap ayah dan anak itu bergantian, "wah wah wah, tuan putri Oma," Nyonya Wijaya yang baru keluar sambil membawa nampan berisi jus dan kopi susu kesukaan Reno menyapa Rea.
"Omaa," Rea tersenyum manis pada Nyonya Wijaya, lalu membantu menurunkan minuman dari nampan itu keatas meja.
"Tante kenapa repot-repot, kan Reno jadi enak, " Reno terkekeh begitu ibu dari sahabat sekaligus mertua dari adik iparnya menepuk pahanya.
"Ada apa, kok kayaknya seru banget?" Nyonya Wijaya yang sudah duduk di samping Reno bertanya, "coba tante tanya pada tuan putri kita itu," bukannya menjawab, Reno malah melempar pertanyaan agar putrinya yang menjawab.
__ADS_1
"Begini lho, Oma, Bunda. Kan di sekolah Rea ada anak yang tidak mampu," Rea menjeda ceritanya, pandangan matanya beralih menatap Nyonya Wijaya juga Ria yang kini tengah memasang raut wajah penasaran.
Dan kemudian mengalirlah cerita yang tadi ia bahas bersama sang ayah, Nyonya Wijaya hanya menggeleng mendengar ide Rea, sedang Ria mengatakan sangat bangga padanya, sifat perduli itu berasal dari kakaknya, dan Rea semakin senang saat ada yang mendukung niatnya.
"Hanya satu orang, Pa," Rea tersenyum jahil, sedang Reno mencebik gemas akan kelakuan putrinya, walau dalam hati ia tak memungkiri jika dirinya sangat bangga dengan niat itu.
Benar benar perpaduan antara dirinya dan Ara, dering ponsel Reno berbunyi, nama Seno tertera di sana.
"Sayang, Papa angkat telepon dulu," Rea mengangguk lalu Reno berjalan agak menjauh.
Reno: "Ya, bro?"
Mas Seno: Besok ada pertemuan dengan perusahaan milik Tuan Fernandes
Reno: Loe atau gue yang datang?
Reno: oke, share alamat dan tempatnya.
Mas Seno: katanya di restaurant milik istrinya, tapi tar gue share alamatnya. Kayaknya sore habis loe jemput tuan putri.
Reno: oke, jaga calon keponakan gue.
Mas Seno: siapppp, salam buat Tuan putri gue, kangen beberapa hari nggak ketemu dan dengar suara manjanya.
Sambungan telepon Reno tutup setelah mengatakan oke, Reno menunggu Mas Seno mengirim alamat restaurant yang akan ia datangi guna membahas kerja sama.
__ADS_1
"Sayang, pulang yuk," Rea langsung cemberut begitu Reno mengajaknya pulang, "nginep sini aja, Bang," ujar Ria yang melihat wajah keponakan kesayangannya cemberut.
"Omaaa!" Rea langsung menoleh dan menatap malas pada seseorang yang memanggil Nyonya Wijaya, "ya udah yuk, Pa, kita pulang," Rea segera berdiri, membenahi pakaian seragamnya yang masih ia pakai.
"Lho, kok pulang, katanya tadi ngga mau," Nyonya Wijaya bertanya tetapi seperti protes, "eh Rea," Daffa segera berlari menghampiri gadis yang beberapa minggu ini sudah cuek dan bertingkah dingin padanya.
"Kayaknya papa udah capek, Oma. Iyakan, Pa?" Rea menjauh dari Daffa dan menghampiri ayahnya dan menggenggam jemari besar ayahnya. Reno merasa putrinya sedang tidak baik baik saja.
"Are you oke?" Rea hanya mengangguk, "Om Reno mau pulang?" Daffa merangsek mendekati keberadaan Reno dan Rea, matanya menatap Rea yang juga tengah menatap dirinya, namun dengan tatapan tidak suka.
"Iya, kasihan Rea seharian belum istirahat," Reno mengacak rambut Daffa, "ya udah, nginep di sini aja, Bang," Ria menginterupsi.
"Rea mau pulang aja, Bun," tolak Rea sambil tersenyum, kemudian menarik tubuh besar Reno dan mengajaknya keluar setelah mengecup pipi Ria dan Nyonya Wijaya.
Daffa tangannya mengepal kuat, hatinya sakit saat gadis yang dia suka mengacuhkan keberadaan nya, "ini semua gara-gara anak miskin itu. Aku harus memberinya pelajaran," desis Daffa, ya Daffa mulai menyadari jika ia menyukai gadis yang berstatus sepupu jauh dan mereka tidak ada hubungan darah.
Semenjak Daffa menyadari jika ia menyukai Rea, Daffa mulai mengatur dan mengendalikan Rea, tapi sayangnya Daffa lupa jika Rea adalah anak dari Reno. Orang yang tidak suka di atur dan suka bertindak sesuka hati.
Dalam perjalanan pulang, Rea duduk di depan, wajahnya masih ditekuk dan bibir itu maju beberapa senti. Reno sengaja tidak bertanya karena ia ingin membiasakan putrinya tidak menyembunyikan sesuatu dari dirinya, dalam arti Reno hanya akan menanggapi cerita sang putri jika ia bercerita, jika tidak bercerita Reno menganggap Rea masih butuh waktu untuk bercerita.
***
Keesokan paginya kegiatan mereka sama, hanya itu- itu saja, "Sayang, nanti pas pulang ikut Papa sebentar ya," Reno memandang putrinya yang duduk di belakang, merasa ayahnya mengajak bicara, Rea mendongak menatap spion itu juga.
Dan saat ini mereka berada di dalsm mobil dan mobil ini menuju sekolah Rea, "acara apa, Pa?" Rea memeluk leher Reno dari belakang, "nanti lihat saja, yang penting kamu ikut," Rea mengangguk mengiyakan permintaan sang ayah.
__ADS_1
"Pa, jangan lupa langsung ke sana ya," Rea mengingatkan, "oke, tapi nama teman kamu siapa?" Rea menepuk kening lalu tertawa terbahak karena merasa lucu.
"Kenapa ketawa?" masih memandang wajah Rea melalui spion, "papa tahu, Rea lupa tanya nama anak itu," Rea kembali tertawa yang membuat Reno mencebik gemas dengan kelakuan putrinya.