Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 4


__ADS_3

Dita melajukan mobilnya kearah kafe di mana ia mendapatkan kabar di mana Ayah Andri saat ini tengah berada, ia akan bertekat mendekati dan mengambil hati bahkan jika bisa akan menikahi duda mantan dari sahabatnya itu, sungguh tidak ingat umur wanita itu. Di saat kebanyakan orang mulai bertambah tua dan bertobat, dirinya masih terlena dengan harta dan kenikmatan dunia.


Dita memarkirkan mobilnya dengan cantik di area parkir, mengambil bedak dan lipstik yang selalu ia bawa dan menambahkan itu ke wajah juga bibirnya, setelah itu ia keluar dari mobil berwarna merah dan berjalan dengan sok anggun dan sok cantik dengan melenggak lenggokkan tubuhnya. Tangannya menjinjing tas mahal yang ia beli dari uang hasil memuaskan para hidung belang,


Netranya mengedar kesegala penjuru begitu Dia memasuki kafe di mana Ayah Andri berada, senyum tercetak kala melihat sosok pria yang ia cari. Kakinya yang jenjang melangkah dengan percaya diri kearah Ayah Andri duduk. Dita berpura pura menabrakkan diri pada waiters yang membawa nampan dan gelas berisi jus.


"Maaf nyonya," ujar waiters perempuan itu merasa bersalah, "tidak apa, lain kali hati hati," katanya sok sabar dan bijak. Walau dalam hati ogah jika tak ingin menggaet duda kaya yang kini melihat kearah dirinya.


"Anda tidak kenapa-napa 'kan, Nyonya?" Dita mendongak menatap wajah lelaki yang menanyai dirinya, "ya saya tidak kenapa-napa," jawabnya datar karena yang ia harapkan datang dan bertanya bukan lelaki dengan perut buncit dan terlihat sedang memandang dirinya dengan tatapan hendak menerkam.

__ADS_1


Lelaki berperut buncit itu memberikan sapu tangan agar Dita membersihkan sisa jus tersebut, dengan pura-pura tidak enak hati sambil melirik kearah Ayah Andri yang sudah tidak memandang kearah dirinya semakin membuat Dita kesal.


"Permisi, saya mau ke toilet dulu," pamitnya dan segera berlalu dari sana, lelaki berperut buncit itu mengangguk dan mengedipkan sebelah mata, dan tersenyum nakal. Mungkin sebagian lelaki yang suka jajan, pasti mengetahui tipe tipe wanita murahan dan penggoda. Dan lelaki ini salah satunya, yang seperti mengerti dan paham jika Dita bukan wanita baik-baik.


"Maaf, aku telat," ujar seorang lelaki yang baru datang dan menyalami seseorang yang Dita kira Ayah Andri, "kebiasaan," gerutu saudara kembarnya yang di tanggapi kekehan Ayah Andri, kemudian ia duduk bersama Om Indra.


Dita keluar dari toilet dan melirik kearah Om Indra yang ia kira Ayah Andri sedang berbicara dengan seseorang yang tak ia tahu siapa itu, padahal itu adalah Ayah Andri yang asli sedang berbincang dengan Om Indra, ketika ia berniat menghampiri, lelaki berperut buncit tadi menghampiri Dita dan menarik tangannya menjauh dan keluar dari kafe tersebut.


Terlintas ide agar lelaki yang ia anggap Ayah Andri keluar dan menolong dirinya lalu bersimpati karena di lecehkan lelaki di depannya ini.

__ADS_1


"Berapa hargamu?" tanya lelaki buncit itu langsung yang mampu membuat netra Dita membulat tak percaya akan pertanyaan lelaki di hadapannya.


"Ma-maksudmu a-apa?" tanyanya kaget dan gugup, bukannya menjawab lelaki berperut buncit itu tertawa mengejek.


"Diam!!" sentak Dita tak terima, lelaki itu menggeleng sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya, "20 juta satu hari cukup?" tantang lelaki itu, bagi Dita itu adalah nominal yang banyak, setiap ia melayani pria hidung belang pasti 10 juta paling banyak itu yang ia dapatkan sehari.


"Cukup atau masih kurang?" lelaki itu menunduk menatap dengan senyum nakal pada Dita, "tambahin baru aku setuju," Dita mulai berani, lelaki itu mencebik lalu mengangguk. Memberi kartu namanya pada Dita agar wanita itu yang menghubungi dirinya dahulu, agar terlihat menyenangkan.


"Ah, Gito, kau benar. Adikmu masih cantik dan menarik, kau akan mendapatkan jatah uang jika dia sudah memuaskan kami." gumam lelaki itu yang ternyata mengenal Pak Gito, dan merekomendasikan adik perempuannya melayani pria hidung belang itu.

__ADS_1


Dan Dita mempunyai kesalahan karena tidak bertanya akan melayani berapa orang, di pikirannya hanya uang, uang dan uang. Dan kehancuran Dita di mulai dari sini, dari sang kakak yang butuh uang untuk berjudi dan menawarkan adiknya pada lelaki itu.


__ADS_2