Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 85


__ADS_3

"Jam segini baru pulang?" tanya Pak Gito dengan lembut namun terdengar mengintemidasi Ara, mbak Siti yang melihat Ara hanya diam, dia berinisiatif menjawab. Dan kini mereka sudah sampai di rumah Ara dan Pak Gito sedang duduk di ruang tamu, menonton televisi yang hanya dia ganti ganti saja chanelnya karena baginya acara itu tidak ada yang menarik. Dan menyalakan televisi bisa menjadi alibi jika Ara bertanya.


"Tadi resto rame, Pak. Jadi kami pulang agak telat," Pak Gito menatap tidak suka pada mbak Siti, entah kenapa perasaannya mengatakan jika wanita itu bukan perempuan biasa, dan dia harus berhati hati.


"Ya sudah, cepat istirahat," titah Pak Gito sambil melirik mbak Siti yang juga tengah melirik dirinya, sedang tangan kirinya menenteng sesuatu.


"Ayah sudah makan?" tanya Ara sebelum masuk ke kamarnya, "sudah, tadi di traktir Dion," jawab Pak Gito yang malah membuat Ara merasa tidak enak, apalagi setelah mendengar perdebatan mereka tadi pagi.


"Ya sudah, Ara ke kamar dulu," pamitnya, "Ra," Ara menoleh kala namanya dipanggil.


"Ya, Yah?" Ara memincing sebelah matanya, Pak Gito jadi sedikit salah tingkah, "ayah nggak suka kalau kamu manggil diri kamu Ara, nama kamu kan Rara," ucap Pak Gito yang sukses membuat Ara ingin mengumpat.

__ADS_1


"Tapi Ara terbiasa kak Reno memanggil dengan nama ini, Yah," jawabnya lirih, terdengar decakan lidah dari mulut sang ayah.


"Kamu itu anak ayah, harusnya nurut sama ayah, bukannya sama pria yang baru kamu kenal itu!" ketus Pak Gito, ingin Ara berteriak, 'Kak Reno lebih baik dari anda, dan anda hanya ayah angkat saya, sedang Kak Reno sudah mengenal ku dari kecil!'


"Ara istirahat dulu, Yah," akhirnya Ara memilih masuk kekamarnya dan tak menanggapi permintaan Pak Gito.


"Hmm, benar benar buruk pengaruh pria itu, lihat saja kini si kembaran Rara bodoh itu tak lagi bisa aku atur atur seenaknya, jika kembaran Rara jadi menikah dengan dia, aku harus ganti rugi uang yang sudah Amir dan Ridwan kelurkan dan sudah aku gunakan, aku ngga mau itu," Pak Gito bergumam, kakinya melangkah menuju dapur, mengambil gelas dan membuat teh hangat tawar.


"Sebaiknya kembaran Rara aku nikahkan dengan anak Amir saja, kini dia sukses dan banyak uang. Tidak seperti Ridwan, walau banyak uang tapi dia masih kalah kaya dengan Amir," tangan itu sibuk mengaduk gula yang tanpa sadar dia masukkan kedalam cangkir teh yang dia buat.


"Yah, Ria belum pulang?" Ara tiba-tiba muncul dan membuat kaget Pak Gito, sontak pria tua itu memegang dada dan menatap kesal pada anak sambungnya.

__ADS_1


Di antara Rara dan Ara, Pak Gito sangat membenci Ara. Walau mereka kembar, akan tetapi mata bibir dan hidung itu milik suami pertama bunda dari Ara, oleh karena itu Pak Gito sangat membenci Ara.


Sedang Rara mirip dengan bunda Ara, dan bagi yang mengenal mereka akan lebih mudah membedakan dengan hanya melihat mata dan hidung keduanya.


"Bikim kaget saja! Belum pulang dia, entah nginep kemana dia!" kesal Pak Gito, walau Riana anak kandungnya, Pak Gito sangat membenci Ria. Baginya, orang yang menguntungkan dan bisa memberinya uang untuk berjudi maka akan dia sayang.


"Oya, kamu kan sudah buka resto baru di luar kota? Nah berarti penghasilan atau pemasukan kamu lebih banyak dong? Boleh ngga jatah jajan ayah di tambah?" ujar Pak Gito tanpa rasa malu.


"Sebentar ya, Yah. Nanti akan Ara pikirkan, lagian yang di luar kota belum tentu ramai," Ara berdalih.


"Lagi pula, jika Ara membuka cabang berarti harus menambah tenaga atau karyawan dan karyawati 'kan. Jadi maaf Ar belum bisa menjawab pertanyaan ayah," tutup Ara yang disertai senyum manisnya, namun malah membuat Pak Gito kesal dan sebal luar biasa.

__ADS_1


"Oya, di antara anak Om Ridwan sama Om Amir, kamu mau menikah dengan siapa? Kamu tahu, ayah sebenarnya ngga suka sama pacar kamu. Dia terlalu tua buat kamu," Pak Gito berusaha mengubah pendirian dan penilaian Ara tentang Reno.


"Ara belum tahu dan belum berpikir kesana, Yah. Lagi pula jika menikah dengan yang lebih tua bukannya mereka bisa momong kita, beda kalau kita menikah dengan yang seusia atau di bawah, pasti selalu ada cekcok dan adu mulut. Ada saja yang membuat mereka bertengkar karena sikap mereka masih labil," tutur Ara yang membuat Pak Gito diam, walau diam pria itu tetap berpikir bagaimana caranya kembaran Rara ini menikah dengan salah satu anak sahabatnya.


__ADS_2