
"Memang kamu bisa masak apa saja?" bibi bertanya saat dia meletakkan teko berisi air teh, Rara menoleh dan tersenyum.
"Apa saja, Bi. Kecuali makanan luar negeri," sahutnya masih dengan senyum, si bibi manggut-manggut.
"Ya sudah, ayo makan dulu," sang papa menginterupsi, Rara segera mengambil nasi agak banyak dan sayur kangkung juga tempe tanpa tepung, ada juga sambal tapi dia tidak mengambil.
"Kaya ga pernah makan aja," sindir Cila saat melihat piring Rara agak penuh, "karena saya butuh tenaga untuk membuat mas Reno senang," ucap Rara ambigu, kemudian menyendok nasi dan sayur lalu melahapnya, lalu menggigit tempe tersebut.
Sedang Reno hanya geleng-geleng heran, mungkin dia berfikir di saat para wanita makan bersama seorang pria, wanita itu akan menjaga image-nya tapi wanita ini benar-benar cuek.
"Boleh ga itu sayur sisanya saya bawa pulang?" Rara berbisik pada Reno, "kasihan adik saya, pasti dia belum makan, lagian kan mubazir kalau mau di buang," bisik nya lagi. Reno hanya mengangguk dan mengedipkan matanya pelan.
__ADS_1
"Terima kasih, Om," bisik Rara lagi.
Reno berjalan kedapur, dan sepuluh menit kemudian dia membawa secangkir kopi.
Selesai makan mereka kembali keruang tamu, sedang Rara memilih ke dapur dan membantu si bibi.
"Bi," panggil Rara pada asisten rumah tangga Reno, wanita paruh baya itu menoleh, "ya, Non?" Rara nampak gelisah, si bibi tersenyum dan berkata, "Tuan Reno sudah berpesan agar sayur tadi d bawa non saja, sayang kalau di sini ga kemakan," seketika wajah Rara berbinar.
"Kapan-kapan masak bareng bibi mau?" Rara mengangguk cepat, "apa cita-citamu?" Rara menghela nafas mendengar pertanyaan si bibi.
"Dulu saat masih kecil ingin jadi guru, pas SD pengen jadi dokter kalau lulus sekolah, pas SMP pengen jadi koki sampai sekarang keinginan itu masih," ucap Rara sendu.
__ADS_1
"Lho kenapa pengen jadi koki?" bibi bertanya heran, "biar bisa punya usaha restoran sendiri, trus masak yang enak biar ayah juga bisa ngrasain, kasihan ayah di rumah sakit makanannya rasanya hambar," tidak terasa pipinya basah oleh air mata, kemudian Rara menghapusnya.
"Sabar non, semoga cita-citanya di kabulkan," si bibi mengamini, tangannya mengusap lembut lengan Rara.
Selama ini ayahnya mengeluh, makanan di rumah sakit tidak enak, ayah ingin pulang dan makan masakan Rara, karena masakan Rara mengingatkan sang ayah dengan almarhumah sang istri, dengan berkuat hati Rara berkata "ini ada rasanya ayah, karena ayah baru sakit jadi lidah ayah ngerasa ini hambar. Besok kalau ayah sudah sembuh Rara janji, Rara akan masakin apapun yang ayah mau," ucap Rara kala itu.
Sedari kecil masuk TK, Rara yang bercita-cita menjadi guru harus kandas dan berganti menjadi dokter saat sering melihat sang bunda sakit-sakitan, dia bercita-cita menjadi dokter agar kelak dia bisa mengobati sang bunda atau siapa pun orang terdekatnya.
Saat SD, Rara jarang bermain berbeda dengan adiknya. Rara adalah seorang anak pertama dan seorang kakak jadi dia harus mandiri dan bisa membantu ayah serta bundanya. Rara sering membantu memotong sayuran, lalu mencuci sayur tersebut.
Saat sang bunda memasak dia memperhatikan bumbu-bumbu apa saja yang dibutuhkan, dan seberapa banyak, bundanya mengajari membedakan mana kemiri, merica, laos, dan sebagainya. Beruntung Rara gadis yang pintar dan cepat tanggap, jadi dia dengan cepat mempelajari.
__ADS_1