Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 126


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah kejadian Ara masuk rumah sakit dan kini mereka telah menyiapkan pesta pernikahan Ara dan Reno yang akan di gelar seminggu lagi, undangan pun sudah tersebar, keadaan Ara pun sudah sedikit membaik, dalam arti sudah jarang merasakan sakit kepalanya. Sedikit demi sedikit Ara bisa mengingat masa lalunya yang sempat ia lupakan.


Kak Fandi pun akhirnya benar benar merelakan Ara menikah dengan Reno, asalkan wanita itu bahagia, apapun akan Kak Fandi lakukan termasuk melepas wanita itu.


Dion pun menyerah walau dalam hati ia tak ikhlas, kesalahan fatal yang ia lakukan tempo dulu membuat ibu kandung dan ayah angkatnya murka karena kelakuan Dion juga berimbas pada bisnisnya, sehingga ayah sambung Dion mengurangi jatah bulanan lelaki itu. Dan saat ia meminta tambahan ayah kandungnya, ia juga mendapat omelan dari Om Amir.


Om Amir akhirnya meminta Dion membantu mengelola bisnisnya dan mengajinya sesuai kemampuan Om Amir, mau tak mau Dion setuju jika tidak ia tak akan mendapatkan uang tambahan


Mengenai urusan resto juga sudah ditangani orang orang kepercayaan Ara yang tentu saja masih dalam pengawasan Reno juga Ara. Anton pun semakin gencar mendekati Ria, namun gadis itu masih saja jual mahal walau merasakan debaran saat berdekatan dengan lelaki yang kata orang sudah matang itu.


Saat kini Ara duduk termenung di kamarnya sambil menunggu balasan pesan dari Reno, Ara merasa begitu cepat waktu berlalu hingga saat Ayah Andri menetapkan tanggal pernikahan dirinya dengan Reno sudah dekat, operasi wajah Ayah Andri pun berhasil tanpa ada halangan.


Dan setelah seminggu Ara pulang dari rumah sakit, nenek, tante Rina serta paman juga kedua adik kembarnya berpamitan pulang ke kampung dan mereka berjanji akan datang sebelum seminggu acara berlangsung, dengan berat hati akhirnya Ara mengizinkan. Dan kini Ara tinggal bertiga bersama Ayah Andri juga Ria, Reno meminta salah satu asisten rumah tangga mamanya untuk bekerja di rumah itu.

__ADS_1


Keberadaan Pak Gito hingga kini pun sudah hilang bagai di telan bumi, tidak meninggalkan jejak sama sekali. Polisi sudah menutup kasus ini seminggu yang lalu, akan tetapi Reno dan Ayah Andri tidak menyerah. Mereka tetap menyuruh anak buahnya mencari dan mengawasi di mana keberadaan orang yang berstatus buronan itu, Reno menempatkan beberapa penjaga di sekitar rumah Ara. Berjaga jaga jika lelaki itu datang dan berniat mencelakai Ara atau pun Ria.


Sedang Mama Lydia pun akhirnya mengetahui siapa foto wanita yang berada di laptop sang suami, awalnya ia marah dan tidak menerima kenyataan. Namun saat ia kembali membuka laptop Om Yudha, di sana hanya ada foto dirinya dan Om Yudha, semua forder pun sudah ia buka dan tidak mendapati foto wanita yang ia tahu cinta pertama suaminya yang ternyata ibu dari calon menantunya yang kini sudah tiada.


Mama Lydia mencoba memberikan kesempatan kedua untuk suaminya itu dan juga meyakinkan diri jika sang suami akan mencintai dirinya walau tak seperti suaminya mencintai wanita itu, karena Mama Lydia sadar, cinta pertama sulit dilupakan. Dan akhirnya Mama Lydia merestui pernikahan Ara bersama Reno. Oma dan Opa Reno juga tak kalah bahagia saat mendengar cucunya mau menikah.


"Ra, anak ayah sayang," Ayah Andri mengetuk pintu kamar putrinya, Ara yang tengah duduk di atas kasur empuknya segera bangkit dan melempar ponselnya, "ya, Yah. Sebentar," balasnya yang kemudian beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.


"Ck, cepat sekali kamu tumbuh. Tahu tahu kamu sudah mau menikah dan meninggalkan ayah lagi," ujar Ayah Andri sembari mengusap puncak kepala Ara, perempuan itu terkekeh.


"Itu di ruang tamu ada teman kamu," ujar Ayah Andri, "ya sudah kamu temui dulu mereka, tadi Bi Sumi udah bikinin mereka minuman," titah Ayah Andri lembut, Ara mengangguk mengiyakan permintaan Ayah Andri.


"Oya," Ayah Andri berbalik dan memutar tubuh, "jika teman Reno sungguh sungguh sama Ria, minta dia menemui ayah. Ayah bersedia menjadi wali nikahnya," Ara mengangguk sambil tersenyum, kemudian Ayah Andri melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamar. Ara pun keluar dan menuju ruang tamu guna menemui orang yang bertamu ke rumahnya siang siang begini.

__ADS_1


"Fajar, Rania," sapa Ara sedikit kaget dengan kedatangan mereka berdua, Fajar dan Rania tersenyum bersamaan. Ara duduk di sofa tunggal sedang Rania dan Fajar duduknya saling berdekatan.


"Gimana keadaan kamu, udah baikan? Selamat ya akhirnya kamu mau nikah dan jadi kakak iparku," ucap Fajar tulus, Ara mengangguk. Ara mengingat lelaki itu pernah menyatakan perasaannya pada dirinya dan ia belum menjawabnya, dan ia mengingat memang dulu ia sempat ada rasa, namun kedekatan dirinya dengan Reno yang menjadi pacar pura puranya, mengikis rasa sayang itu dan berubah menjadi rasa sayang terhadap teman tidak lebih.


"Kami juga sudah berencana nyusul kamu sama Tuan Reno," Rania berujar menimpali ucapan Fajar, Ara terdiam dan mencoba mencerna ucapan Rania. Keduanya mengulum senyum melihat ekpresi wanita itu.


"Hish, lemot," gerutu Rania kesal, Fajar terkekeh mendengar gerutuan calon istrinya.


"Bisa kalian ulangi apa yang Rania katakan tadi?" tiba tiba Ara hilang fokus, Rania menarik dan menghembuskan nafas kasar, gemas dengan kepolosan Ara.


"Kami berdua juga akan nyusul kamu sama bang Reno," kali ini Fajar yang berkata dan dengan tempo pelan pelan.


"Aaaaaa, selamat!!!!" Ara berteriak senang dan bertepuk tangan seperti anak kecil, akan tetapi keduanya memegang dada karena kaget dengan suara teriakan Ara yang terdengar cempreng, "astaga, kenapa kamu teriak teriak seperti itu?" Rania segera berdiri dan membekap mulut Ara karena kesal.

__ADS_1


"Aku terharu karena akhirnya kamu nggak jomblo lagi," ucap Ara polos setelah ia menyingkirkan tangan Rania dari mulutnya, Fajar yang mendengar ucapan Ara terkekeh.


'Ternyata kau tak berubah, Ra. Selalu bahagia melihat orang di sekitarmu juga bahagia. Aku akan mencoba mencintai Rania seperti aku mencintai dirimu, dan aku tahu pasti rasa itu tak akan bisa sebesar cintaku padamu' gumam Fajar dalam hati, lelaki itu memilih memandang lantai keramik berwarna putih dari pada menatap wanita yang sampai saat ini masih menempati tempat yang tertinggi di hatinya dan akan semakin membuat hatinya berat untuk melupakan wanita itu.


__ADS_2