
"Pa," Rea memanggil Reno yang tengah memeluk dirinya, saat ini mereka sudah berada di dalam kamar gadis kecil itu, kamar bernuansa penuh dengan warna merah muda dan biru, warna kesukaan Rea, di mana warna perpaduan warna kesukaan Reno juga Ara.
"Ya, tuan putri," jawab Reno sambil mengecup pipi putrinya, "Rea pengen punya temen, tadi waktu di rumah Oma, teman teman Daffa berdatangan dan sangat menyenangkan," keluh Rea sambil menerawang keseruan anak anak kecil seusianya bermain bersama.
"Bukankah Rea punya Papa, Oma, Opa, buyut, bunda dan ayah. Oya, ada Om Seno dan Tante Siti juga 'kan?" mendengar ucapan sang papa, Rea cemberut dan memanyunkan bibirnya.
"Itu beda, Pa. Kapan Om Seno punya adik, biar Rea punya teman bermain saat Om Seno dan Tante Siti kesini?" tanya Rea dengan binar di matanya, Mas Seno dan Mbak Siti sdah menikah selama 5 tahun, akan tetapi. mereka belum juga dianugerahi buah hati, akan tetapi mereka tidak begitu bersedih karena kehadiran Rea yang selalu mencairkan suasana.
Pernah Reno menyuruh Mas Seno fokus ke rencana program hamil agar Mbak Siti bisa segera hamil, akan tetapi seberapa besar mereka mencoba tetap tidak membuahkan hasil, padahal mereka sama sama subur.
"Oya, Rea yakin mau sekolah bareng Daffa?" Reno mengalihkan pembicaraan, Rea mengangguk dengan cepat mengiyakan pertanyaan papanya.
Seusia Rea memang sudah waktunya masuk sekolah dasar, karena sedari kecil Reno sudah membekali sang buah hati dengan pelajaran mewarnai, membaca dan menghafal angka. Jadi Reno percaya jika putrinya ini mampu jika harus langsung masuk kelas satu.
"Ya sudah, besok papa akan minta ayah Anton mendaftarkan kamu ke sekolah Daffa," ujar Reno yang semakin membuat senyum di bibir Rea menjadi lebar.
__ADS_1
"Terima kasih, Papa," katanya yang lalu menghujani kecupan pada seluruh wajah Reno, 'lihatlah sayang, putri kita kadang mirip dengan dirimu, selalu bahagia dengan hal kecil,' gumam Reno di dalam hati dan kemudian memeluk tubuh Rea.
"Sekarang kamu bobok dulu ya, besok ikut ayah Anton ke sekolah," ujar Reno yang langsung di turuti Rea, Reno mengecup kening dan pipi Rea, tangannya yang besar mengusap rambut panjang Rea.
***
Keesokan harinya, Reno sudah berbicara dengan Anton supaya mendaftarkan Rea ke sekolah Daffa, bukannya tidak mau mendaftarkan, Reno yang terbiasa meminta tolong pada adik ipar sekaligus sahabatnya, tak merasa lengkap jika tak menyusahkan dirinya.
"Semua udah siap?" tanya Ria yang bersemangat akan mendaftarkan Rea ke sekolah, Anton mengangguk sambil menyodorkan map berisi data diri dan beberapa foto copy yang diperlukan saat mendaftarkan Rea nanti.
"Kamu tahu, Kak. Rea yang mau mendaftarkan sekolah aku lho yang deg deg an," seloroh Ria sambil memegang dada sebelah kirinya, "oya?" tanya Anton usil yang kemudian ikut menyentuh dada sang istri, Anton terkejut dan memekik kala perutnya xi cubit Ria.
"Kita harus rajin membuatkan Rea adik, kasihan dia pasti kesepian," celetuk Anton yang malah mendapat tinju di lengannya, "dasar suami mesum," kata Ria gemas.
"Mesum sama istri sendiri nggak apa lah, Yank. Daripada aku mesum sama istri orang lain, tar kamu cemburu," Anton menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda sang istri.
__ADS_1
"Berani godain cewek lain?" kedua tangan Ria berada di pinggang, netranya menatap taj sang suami yang tiba tiba salah tingkah dab kemudian memeluk dirinya.
"Enggak berani lah, Yank. Kan yang mau sama aku cuma kamu, yang lain cuma mau uang aku," Anton mengecup pipi Ria, istrinya itu mencebik mendengar rayuan Anton.
"Bunda, ayah, ayo!!" Rea yang berlari menerobos pintu kamar mereka berdua yang sengaja tidak di kunci, "ck, tuan putri anak bunda ini kok cantik sekali sih. Sudah siap melihat sekolah baru?" tanya Ria setelah mendorong tubuh kekar Anton dan berjalan mendekat kearah keponakan kesayangannya.
"Sudah dong, Bunda," jawab Rea penuh semangat, "nanti kalau ada apa apa atau ada yang kurang kabari ya," Reno yang muncul di belakang Rea berkata.
"Iya, Bang," jawab Ria sembari mengangguk dan mengusap lembut kening Rea yang tertutup poni, "Papa yang nguncir?" Ria bertanya karena melihat Rea yang jarang di ikat rambutnya, gadis kecil itu mengangguk sambil menatap bangga sang papa. Kemudian mereka turun dan segera sarapan, lalu berangkat ketempat tujuan masing-masing.
***
"Kak Rendra hari ini sudah masuk sekolah ya?" Diva bertanya dengan nada sendu, Rendra mengangguk sambil tersenyum.
"Nanti kalau sudah pulang kita main lagi ya, jadi jangan sedih," kata Rendra mencoba menghibur adiknya, Diva mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
"Sudah yuk, nanti kamu terlambat lho," Sera menarik lengan Rendra agar menjauh dari Diva, Rendra menurut. Diva hanya bisa menatap dengan ekpresi sedih saat melihat Rendra melambaikan tangan kearah dirinya dan ia melihat Sera menyeringai dan mengacungkan jari tengah kearahnya.
"Kenapa kak Sera tidak menyukai aku, aku hanya ingin dekat dan bermain dengan kakak kakakku," ucap Diva sedih saat melihat mobil yang Rendra dan Sera tumpangi menjauh.