
Pagi harinya, Rea yang sudah sampai di kampusnya dan baru turun dari mobil yang ia tumpangi sedikit memincingkan sebelah matanya, seorang pemuda tengah duduk di atas motor dengan memakai kaus berwarna biru laut dan celana jeans sobek di bagian lutut, dan rambut model mullet, yang mana rambut itu panjang di bagian belakang menutupi tengkuk, di punggungnya ada tas ransel berwarna merah menarik perhatian nya.
Merasa familiar dengan lelaki itu akhirnya Rea berjalan mendekat, akan tetapi sebelum sampai di tempat itu, ada segerombolan kakak tingkat yang menghadang jalannya, Rea hanya berdecak gemas melihat empat perempuan yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Rea tanpa rasa takut, "jangan sok cantik deh, loe," tukas seorang perempuan yang kemudian mendorong bahu Rea dan membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Kenapa, gue emang cantik kok," jawab Rea percaya diri dan itu semakin membuat para perempuan itu tersulut emosi, saat ke empat perempuan itu maju dan hendak memukul Rea terdengar suara menggelegar.
"Beraninya keroyokan ya, coba satu lawan satu kalau berani," semua orang menoleh kearah sumber suara, "Rangga," keempat perempuan itu menyebut nama lelaki itu berbarengan.
"Kenapa sih suka banget bikin ribut?" kini Rangga berdiri di samping Rea, menatap datar pada keempat perempuan yang berdiri di hadapannya.
"Dia dulu kok yang mulai," salah satu perempuan itu tidak terima di salahkan dan mencoba mencari pembenaran, "iya kok, Ngga. Cewek gatel ini yang mulai dulu," Rangga melirik Rea yang tengah memutar bola matanya, segaris senyum tertarik di sudut bibirnya.
"Sudahlah, gue ngga mau ada urusan sama kalian," Rea mundur dan putar balik, sebelum jauh melangkah, hampir saja Rea terjatuh karena tiba-tiba ada yang mengalungkan lengan di lehernya.
__ADS_1
"Lepas," Rea menyikut perut Rangga yang tiba-tiba mengalungkan lengan di lehernya yang jenjang itu, refleks Rangga mengaduh tanpa melepas tangannya dan semakin membuat Rea kesal.
"Re," merasa di panggil, Rea menoleh dan menatap penuh heran pada lelaki yang memanggil dirinya.
"Dia siapa?" Rea menggeleng tidak tahu, "gue pacarnya," sahut Rangga yang langsung kembali mengaduh karena kali ini Rea menginjak kakinya.
"Jangan galak galak, bikin aku tambah suka sama kamu tahu," Rangga berbisik di telinga Rea dan menggigit gemas cuping itu menyebabkan Rea berteriak dan mengusap telinganya.
Karena kesal, Rea memutar badannya dan refleks kepalanya ikut berputar sehingga membuat kalungan tangan Rangga terlepas.
Berbeda dengan lelaki ini, sentuhan itu mrnyebabkan getaran sampai ke jantungnya.
"Minggir!" ketus Rangga menyuruh pelindung Rea menyingkir, "nggak," tolaknya, Rea tersenyum mendengar lelaki ini melindungi dirinya sedang Rangga menjadi kesal karena penolakan itu.
"Jika loe ngga minggir, wajah loe bakal babak belur," Rangga berusaha mengancam, baru kali ini dia berbuat gila hanya demi seorang perempuan.
__ADS_1
"Kamu ngga papa?" lelaki itu menunduk dan menoleh lalu menatap wajah manis Rea, gadis itu mengangguk lalu tersenyum manis. Senyum yang membuat lelaki itu selalu rindu dan ingin segera kembali ke negara ini untuk bertemu dengan gadis ini.
"Ingat aku?" lelaki itu menunjuk dirinya sendiri saat bertanya, alis Rea bersatu karena bingung, Rangga berdecak kesal karena seakan menganggap mereka menganggap dirinya tidak ada.
"Loe ngga penting, sekarang loe minggir," Rangga mendorong kasar tubuh lelaki itu dan hampir menyebabkan Rea juga jatuh.
"Brengsek!" seorang lelaki yang baru datang dan menangkap tubuh Rea marah dan murka, setelah menbenarkan posisi Rea berdiri dengan benar lelaki yang baru saja datang tadi maju dan memberi bogem mentah kearah wajah Rangga.
Rangga yang tak terima balas memukul, tapi sepertinya Rangga kalah adu kekuatan karena lawannya jago bela diri, melihat situasi makin memanas Rea segera berlari dan memeluk lelaki yang baru saja menghajar Rangga.
"Kak Radit, sudah," katanya dengan lembut, Rea tahu walau dirinya sangat ketus dan galak tapi jika saat dirinya berkata lembut bisa menjinakkan semua orang, termasuk lelaki yang kini tengah ia peluk.
"Dia sudah mendorongmu, Re," tatapan elang Raditya tak lepas dari sosok Rangga yang masih terkulai di tanah. Rea melepas pelukan itu dan memutar tubuh tinggi, besar dan kekar milik Raditya.
"Tapi aku sekarang ngga papa, kan udah ada kamu," Rea tersenyum lebar setelah berkata demikian, Raditya berdecak gemas dengan tingkah konyol gadis ini.
__ADS_1
"Masuk ke kelas, kalau dia macam macan lagi, beritahu aku, oke?" Raditya mengecup kening Rea setelah berkata demikian, kedua lelaki yang memperebutkan Rea menahan kesal setengah hati melihat adegan tersebut, Rea akhirnya hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan ketiga lelaki yang kini saling tatap tatapan