Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 80


__ADS_3

"Dion!" pekik Ara kesal, tangan kanannya mengusap usap tangan kirinya yang tadi terbentur kursi.


"Maaf, tapi aku nggak suka dia pegang pegang kamu!" sentak Dion kasar, Kak Fandi berdiri lalu mendorong kasar tubuh pria yang sudah menyakiti calon istrinya.


"Aku calon suami Rara, jadi tak masalah jika kami berpegangan tangan. Mengerti?" desis Kak Fandi, "hahaha, percaya diri sekali kau. Memang Rara mau menikah dengan mu?" sarkas Dion tak mau kalah.


"Om Gito sudah berjanji akan menikahkan aku dengan Rara jika beliau sembuh, dan sekarang beliau sembuh itu artinya Rara dan aku akan segera menikah. Bukan begitu, Om?" Kak Fandi menoleh memandang wajah Pak Gito yang terlihat gusar.


"Tidak mungkin, Om Gito sudah janji pada ayahku dulu. Jika dia sembuh maka dia akan menikahkan aku sama Rara, iya 'kan Om?" Dion juga menatap wajah Pak Gito.


'Wah, mbak Ara hebat ya. Di perebutkan tiga cowok,' gumam mbak Siti sambil tersenyum menatap wajah wanita yang menjadi kekasih cucu majikannya.


"Ehmmm," Pak meremas gelas yang dia pegang, Ara malu Pak Gito melalui ekor matanya. Pria yang dia panggil ayah itu terlihat gugup dan bingung untuk menjawab pertanyaan kedua pemuda yang tengah menunggu jawabannya.


"Ayolah, Om. Om Gito sudah berjanji 'kan pada ayah saya, bahkan ayah saya sudah memberikan uang lho," Kak Fandi berujar dan terlihat kesal.


"Eh, nggak bisa, ayahku juga sudah ngasih Om Gito uang. Jadi Rara harus menikah dengan ku, iya 'kan Om?" ganti Dion yang mengatakan kebenaran, Ara tercengang mendengar penuturan kedua pria yang katanya akan menikah dengan dirinya.


"Kenapa nggak di nikahin semua aja, Mbak?" seloroh mbak Siti yang langsung mendapat delikan tajam dari Ara, "mana bisa begitu!" kesal Dion.

__ADS_1


"Di mana mana hanya pria yang boleh beristrikan dua orang, sedang wanita hanya boleh memiliki satu suami," sambung Dion yang semakin membuat Ara jengah.


"Kalian menikah saja dengan ayahku!" ketus Ara yang kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka yang mematung, mbak Siti mengekori Ara yang masuk kamar.


"Xixixixi," mbak Siti terkikih membuat Ara heran, "kamu kenapa, Mbak?" netra Ara memincing menatap wajah mbak Siti yang aslinya cantik.


"Lucu aja, masa mereka kamu suruh jeruk makan jeruk, xixixixi," lagi mbak Siti menjawab lalu terkikik.


"Ck, kesal saya sama mereka mbak. Apalagi sama ayah, seenaknya saja menjanjikan akan menikahkan saya dengan mereka. Kan saya sudah punya Reno," Ara memelankan suara nya kala mengatakan 'sudah punya Reno'.


"Cie yang bucin sama Mas Reno," goda mbak Siti yang membuat raut wajah Ara memerah.


"Sudah yuk, Mbak kita ke resto saja," Ara mengambil tas yang biasa dia bawa, "tunggu," mbak Siti menarik lengan Ara.


"Ikut sajalah, Mbak. Emang mbak mau sendirian di rumah, bentar lagi ayah juga mau berangkat kerja," ucap Ara yang langsung di angguki mbak Siti.


"Tapi di sana ikut bantu nggak papa 'kan mbak?" mbak Siti tersenyum, rasanya tidak enak jika harus berpangku tangan karena sudah di bayar mahal Reno. Ya walau hanya menemani Ara jika tenaganya berguna kenapa tidak dia gunakan, pikir mbak Siti.


"Terserah mbak Siti sih, saya nggak ngelarang. Toh kalau nggak di izinin tetap ngeyel," kata Ara sembari mencibir, mbak Siti tertawa kecil sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Pantes oma sayang banget sama mbak, mbak Ara baik," puji mbak Siti tulus, "heleh kalau ada maunya pasti memuji," cibir Ara dan mbak Siti kembali tertawa. Entah kenapa mbak Siti merasa begitu dekat dan sudah begitu mengenal lama sosok Ara, padahal baru semalam mereka bertemu.


"Ya sudah yuk, Mbak berangkat," Ara mengandeng tangan mbak Siti keluar kamar, dan kali ini Ara mengunci pintu kamarnya. Takut jika ada apa apa dan dia tidak tahu.


"Yah, kami berangkat dulu ya," pamit Ara pada Pak Gito, kini Kak Fandi, Dion dan Pak Gito duduk di ruang tamu. Mereka masih membahas janji Pak Gito yang akan menikahkan Ara dengan salah satu dari mereka.


"Eh, Ra. Kak Fandi antar yuk," tawar Kak Fandi yang kemudian berdiri, "sama gue aja berangkat nya, Ra," ganti Dion yang menawari.


Ara menarik nafas pelan lalu menghembuskan perlahan, "aku bareng mbak Siti aja, kasihan dia belum tahu jalan sekitar sini," tolak halus Ara, mereka tidak tahu jika Ara menggenggam erat tangan mbak Siti agar bisa cepat pergi dari sini.


"Tapi, Ra-" ucap Kak Fandi dan Dion bersamaan namun terhenti karena mbak Siti menaruh jari telunjuknya di bibirnya, pertanda mereka harus diam.


"Mbak Ara maunya berangkat bareng saya, lagian kami searah, iya 'kan mbak?" mbak Siti menoleh dan menatap Ara sambil mengedipkan sebelah matanya, netra Ara melebar namun akhirnya mengangguk.


Lalu mbak Siti dan Ara keluar sambil saling melirik dan melempar senyum, saat keduanya sudah jauh dari rumah Ara, mereka tertawa terbahak.


"Astaga mbak Ara, mbak pakai pelet apa, kok banyak cowok nempel kaya tadi?" kelekar mbak Siti yang masih menyisakan tawa.


"Pakai ajian jaran goyang, Mbak," jawab Ara bercanda, mereka kembali tertawa.

__ADS_1


"Kalau tuan Reno tadi ada di sana, pasti dia cemburu habis ya mbak, lihat cewek nya di perebutkan," tiba-tiba mbak Siti membayangkan kemarahan Reno jika tuan mudanya itu tahu jika Ara nya di jodohkan dan ayahnya telah menjanjikan akan menikahkan mereka jika ayahnya sudah sembuh.


'Cari penyakit saja itu ayahnya mbak Ara,' gumam mbak Siti dalam hati


__ADS_2