
Ruang makan di rumah nenek ini sangat berdekatan dengan ruang tamu, itu semua karena rumahnya yang tergolong kecil di antara para tetangga yang lain.Rara segera duduk di samping sang nenek, menyusul sang bulek dan suaminya.
"Lho, Ara, Eno mana?" sang bulek celingukan mencari seseorang, "Eno siapa?" Rara menggaruk hidungnya yang sedikit gatal.
"Ck, itu pacar kamu," kening Rara mengkerut, 'Eno? sepertinya aku pernah mendengar ada yang menyebut namanya, tapi siapa?'
"Saya di sini, bulek," Reno muncul dan segera menarik kursi di sebelah Ara-nya. Langsung mengambil piring yang tertumpuk di depannya, "sakit, Ra!" pekik Reno kaget karena tiba tiba Rara memukul punggung tangan Reno.
"Nggak sopan, itu yang tua belum ambil kamu udah ambil dulu," tegur Rara kesal, semua tersenyum melihat tingkah Rara.
"Nggak apa apa Ra, dari dulu dia memang begitu. Nggak betah lapar," celetuk sang bulek, "dari dulu?" Rara menoleh menatap buleknya, sang bulek mengangguk.
"Bahkan dulu kamu kasih kue dua biji dia masih kurang," Rara mengernyit bingung, "sudah ayo makan," Reno mengambil nasi tadi dan beberapa lauk serta sayur, lalu mengesernya kehadapan Rara.
"Eehh," kaget Rara, "makan," titah Reno yang kembali mengambil nasi sedikit lalu bertanya sang nenek mau makan apa, dan dengan segera Reno mengambilkan dan memberikan pada nenek.
"Kamu ngga makan?" bingung Rara karena Reno tidak juga kunjung makan malah mengambil kan dirinya dan sang nenek.
"Ini mau makan," jawab Reno yang mengambil sedikit nasi tapi banyak sayur dan lauk, "kok curang?" protes Rara. Reno yang mendengar protesan Rara menghentikan gerakannya yang hendak menyuapkan makanan kemulutnya, kemudian memiringkan kepalanya menatap wanita itu.
"Curang gimana?" tanyanya bingung, "itu, kenapa sayur dan lauknya lebih banyak dari nasinya," Reno mengangguk dan tersenyum samar. Lalu melanjutkan makannya, "nenek masak banyak, sayang kalau kebuang." katanya yang kemudian melanjutkan menyuapkan dan mengunyahnya.
__ADS_1
"Dia memang gitu, Ra. Suka makan sayurnya dulu baru nasinya," sang bulek membenarkan, bagaimana sang bulek tahu?
Ingat dulu Reno sempat pamit ada kerjaan di luar kota dan ternyata sedang mencari identitas Rara, dan akhirnya Reno bertemu dengan keluarga dari bundanya yang telah terlupakan. Dan selama di kota terpencil ini Reno menginap dan menikmati masakan nenek dan bulek Ara-nya. Di sini Reno mendapatkan penjelasan, bahwa dulu Rara dan Ara kecelakaan. Sayang Rara meninggal dan ayah sambung Ara mengajak istrinya, atau bunda Ara ke kota untuk mengobati Ara. Dan tanpa ada kabar sama sekali, dan tidak terasa sudah bertahun tahun Ara serta bunda dan ayah angkatnya tidak ada kabar hingga Reno kesini dan memberi tahukan keadaan Ara. Kemudian nenek dan bulek Ara meminta tolong pada Reno untuk mempertemukan dengan mereka, walau Reno tidak berjanji namun pria itu akan mengusahakan.
Mengingat gadis itu tidak mengingat siapapun, Reno akan mempertimbangkan dan berusaha membuat Ara-nya mengingat semua terutama tentang dirinya.
"Jadi keluarga bunda cuma nenek sama bulek?" kini mereka sudah kembali ke ruang tamu dan menceritakan masa lalu Ara sedikit demi sedikit, tentu dengan menjaga agar gadis ini tidak drop saat berusaha mengingat semuanya. Nenek dan bulek mengangguk dan mengelus kepala Ara.
"Trus nama aku sebenarnya, Ara bukan Rara?" tanya Ara lagi ingin meyakinkan, kedua wanita berbeda generasi itu sekali lagi mengangguk.
"Tapi, Rara eh aku udah terbiasa di panggil Rara, Nek, Bulek," sahut gadis itu lemas.
"Kalau aku suka dengan namamu yang asli, bukan nama saudari kembar kamu," Reno berkata dengan santai, "apa dia juga baik kaya aku, Nek?" maksud pertanyaan Ara apa sifat mereka sama.
"Lalu, kenapa rumah ini baru diperbaiki?" akhirnya Ara yang penasaran bertanya, bangunan ini terlihat baru beberapa bulan jadi dan lihat saja cat dinding di kamarnya masih berbau, dan di bagian belakang dan samping rumah nenek masih jelek.
"Nak Eno yang memaksa, katanya kalau kamu akan nyaman dengan rumah ini di renovasi sedikit. Takut kalau ada angin kenceng rumah ini ambruk," seloroh sang bulek.
"Lagian ini rumah bunda kamu, tempat beliau besar dan menghabiskan waktu dengan nenek. Dan ada bagian kenangan ayah kandung kamu di sini," Reno menambahkan.
"Benarkah?" netra Ara berbinar, setidaknya masih ada kenangan sang bunda di sini. Di kota dia tidak memiliki foto sang bunda, jangankan bundanya. Foto keluarga mereka saja tidak punya, lagi lagi kata ayahnya tidak punya uang untuk mencetak foto itu.
__ADS_1
"Om kamu ini sering nawarin agar rumah ini di renovasi, namun nenek mu itu cuma patuh sama calon suami kamu," sang bulek berkata dengan nada frustasi.
Ara memperhatikan penampilan suami bulek nya, dan di lihat dari penampilannya sepertinya dia juga bukan orang biasa.
"Kapan kapan kamu harus bertemu dengan nenek kamu yang lain," pria yang memiliki wajah sama dengan ayah kandung Ara bersuara, Ara menoleh dan menatap lama pada pria itu.
"Aku masih punya nenek lain?" tanyanya yang langsung diangguki sang bulek, "beliau pasti seneng ketemu cucu sulungnya," imbuh sang bulek. Netra Ara berbinar membayangkan akan memiliki banyak keluarga.
"Kamu nginep di sini dulu saja ya, Ra? Nanti pasti adik adik kamu pengen ketemu," sang bulek berkata. Ara menatap bulek bingung.
"Anak anak bulek masih sekolah, mereka pulang sore. Mereka juga kembar sama seperti kamu," Reno bersuara karena gemas melihat Ara-nya yang hanya menatap bingung semua orang.
'Tapi kalau aku nginep di sini, ayah dan Ria gimana?" kini pandangan Ara beralih pada Reno. Pria itu berdecak kesal.
"Pikirkan kesehatan dan kebahagiaanmu, jika kau kembali kesana dan ayahmu tahu pasti dia tidak akan mengizinkan kamu kemari lagi!" ketus sang paman.
"Mas, sudah," sang bulek mengusap lengan suaminya yang emosi, "kenapa Andi punya istri dan anak bodoh seperti mereka, harusnya dia seperti Rara yang tega menindas siapapun. Bukan hanya diam!" netra Ara berkaca kaca, baru kali ini ada yang membentaknya.
"Om, sudah. Kasihan Ara," ujar Reno tidak tega, "cepat nikahi dia dan bawa dia pergi dari ayahnya yang gila harta itu!" sentak paman Ara pada Reno yang langsung diangguki Reno dan membuat Ara mengusap airmata dan mendelik kearah Reno.
"Apa kamu tahu tujuan ayah sambung kamu njodohin kamu dengan anak temannya?" Ara menggeleng, sang paman mencebik lalu berkata, "agar hidupnya enak dan menantunya bisa memberinya uang untuk judi, jangan bilang kamu juga ngga tahu soal ini?" Ara terkejut namun dia tetap menggeleng, ayahnya suka berjudi? Uang dari mana? Bukankah setiap hari ayahnya selalu memberi dirinya uang hasil bekerja, atau jangan jangan itu hasil dari menang judi? Batin Ara bergejolak, baru setengah hari di sini banyak kebenaran terbuka.
__ADS_1
Mengenai siapa dia sebenarnya, mengenai nenek dan keluarga dari bundanya dan sekarang soal ayahnya. Tiba tiba kepala Ara berdenyut hebat, ada kelebatan bayangan saat dia berjalan bersama dengan seorang gadis kecil dan gadis itu mendorong dirinya hingga tubuhnya terpelanting karena tertabrak mobil.
Saat dia hendak membuka mata ada sosok pria yang tengah mendorong ganti gadis itu, "Rara!" pekik Ara tanpa sadar dan memegang kepalanya. Reno yang terkejut segera berlutut di depan Ara, dan mengendongnya kedalam kamar, "Ara saya bawa ke kekamar dulu, nek. Sepertinya penyakit nya kambuh," kata Reno sambil setengah berlari menuju kamar Ara.