
"Ra," Rara menoleh mendengar namanya di panggil, kemudian mengulas senyum pada pria itu.
"Kok kak Fandi di sini?" Rara yang mau kembali ke rumah makannya menaiki motor yang baru dia kredit namun tiba tiba lunas, ulah siapa lagi yang bisa melakukannya selain pacar sewaannya itu.
"Sengaja kesini, mau jemput kamu," jawab Kak Fandi yang saat ini memakai kemeja berwarna kuning dan memakai celana jeans, memakai sandal bermodel selop berwarna hitam.
"Hehehe, tapi 'kan Rara bawa motor sendiri," tolak Rara secara halus, sedang Karin hanya diam terpaku menatap kak Fandi, wanita yang memakai celana kain berwarna hitam dan kaos berwarna putih berlengan panjang tidak lupa kerudung segitiga berwarna pink membalut kepalanya menatap tidak berkedip pria di depannya.
Ada desir halus yang singgah kala mereka bertemu, lebih tepatnya Kak Fandi mendatangi Rara namun dia yang berdebar. Rara yang tidak sengaja menangkap pemandangan itu senang, dia selalu meminta pada Tuhannya agar memberikan kak Fandi wanita yang baik dan sholehah.
Dan kini tangan Tuhan mulai bekerja, Dia mengirim Karin untuk Kak Fandi, begitu isi pikiran Rara kira kira. Rara beralih menatap Karin, lalu menyengkol lengannya dengan menyikutnya. Karin refleks menoleh dan menatap Rara tanpa berkedip.
"A-ada apa?" tanya Karin gugup, Rara berdecak sebal, "bukannya loe nggak bawa motor?" Karin mengangguk.
"Kak, titip temen Rara ya. Rara masih harus kesuatu tempat," bohong Rara, entah kenapa dia ingin menyatukan temannya ini dengan Kak Fandi, pria yang di jodohkan dengan dirinya.
"Tapi, Ra," ucap mereka bersamaan, lalu Kak Fandi dan Karin tersenyum simpul, "tapi apa? A sudah gue pergi dulu. Kak titip temen aku ya," Rara segera menyalakan mesin motor dan berlalu dari sana.
Masih terdengar Karin dan Kak Fandi memanggil namanya, namun dia sudah bertekat akan menyatukan mereka. Tiba tiba kepala Rara sakit, segera dia menepikan motor maticnya.
"Sakit," keluhnya sambil menahan kepalanya, Rara lalu turun dari motor dan memasang standart motornya. Melepas helmnya dan berjongkok, tangannya mengepal dan memukul mukul kepalanya.
"Obatnya tidak di bawa?" Rara mendongak menatap seseorang yang tengah berdiri di hadapnnya dengan wajah meringis kemudian kembali menunduk dan tidak terasa bulir bulir airmatanya turun, entah kenapa kepalanya sering sakit.
"Minum," Reno ikut berjongkok dan menyodorkan obat yang biasa Rara minum juga mineral, Rara menerima dan segera meminum obat itu.
"Dasar anak kecil nyusahin," gerutu seseorang yang kemudian mengaduh karena Reno memukul kepalanya.
__ADS_1
"Gue bisa gegar otak kalau sering loe pukul, Ren," protes teman Reno, Rara tidak terkejut dan sudah biasa dengan ucapan ucapan yang temannya Reno katakan.
Ada Reno yang selalu melindunginya dari kata kata pedas temannya, dan Reno berkata mereka begitu karena sebenarnya ada sifat dan rasa perduli. Benar, teman teman Reno memang sering mengejeknya anak kecil, itu karena dia memang kecil.
"Berisik!" desis Reno, dan teman Reno yang bernama Anton tersebut diam dan ikut berjongkok, "mau kemana? Bukankah harusnya hari ini kamu kontrol? Harusnya tadi kamu menggunakan waktumu sedikit untuk ke rumah sakit," cecar Anton.
Reno menarik kepala Rara dan meletakkan di dadanya, "boleh mengelola bisnis kamu, tapi ingat dengan kesehatan kamu, Ra," tegur Reno halus.
"Aku sebenarnya sakit apa?" Rara mendongak menatap netra Reno, pria itu menggeleng membuat Rara kesal. Selalu saja tidak mau mengatakan apa penyakit yang di deritanya, pernah Rara mencoba bertanya, namun sang dokter dan suster tersebut bungkam.
"Anak kecil jangan kecapekan, kalau kecapekan begini jadinya," celetuk Anton yang berusaha menghibur Rara. Anton juga tidak tahu apa yang gadis ini derita, yang dia tahu Reno sangat mencintai dan mau melakukan apapun untuk gadis ini. Mungkin sebutan BUCIN bisa dia sematkan pada sosok Reno.
"Massss," Rara merengek, kesal rasanya di panggil anak kecil oleh mereka. Reno melotot dan mengacungkan tinju pada Anton, membuat sahabatnya itu mencebik kesal.
"Kontrol dulu yuk," Reno dengan halus dan lembut membujuk Rara, "katakan dulu aku sakit apa?" cecar Rara, lelah rasanya sering merasakan sakit kepala dan juga minum obat namun tidak tahu sakit yang di derita.
"Kalau aku nggak mau kontrol?" Rara mendongak menatap Reno yang tengah berdiri dan hampir membuka mulut berbicara dengan Anton. Reno menghela nafas dan membuang nafas berat.
"Ulangi lagi pertanyaanmu?" Reno memincingkan sebelah matanya dan menyeringai, Rara menelan ludahnya kasar.
"Bagaimana kalau aku tidak mau kontrol?" Rara mengulang pertanyaannya dengan rasa takut, sorot mata Reno begitu tajam.
"Antonnnn, segel restoran Ara! Pecat semua karyawannya, dan ingat! JANGAN BERI GAJI DAN PESANGON!" nada tegas Reno memerintah tanpa menatap Anton.
Rara mendelik mendengar perintah yang Reno keluarkan, dengan sedikit gemetar akhirnya Rara berhasil berdiri.
"I-i-iya ayo kita ke rumah sakit. Aku mau kontrol kok," Rara berkata dengan gugup dan takut. Rara tahu Reno tidak pernah main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
Reno memapah Rara memasuki mobilnya, "nanti motormu biar di bawa adikmu, dia sedang menuju kesini bareng Seno," Reno menjawab sorot mata yang Rara lontarkan tentang motornya, wanita itu mengangguk patuh.
Anton duduk di depan, di samping Pak Imron supir pribadinya. Sedang Rara duduk berdua dengan Reno, sesekali Rara melirik Reno yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"M-mas Reno kok tahu kalau Rara pasti sakit?" Reno hanya diam, dia memilih tidak menjawab. Reno tahu, gadis ini sedang memancing agar dia mengatakan apa penyakitnya.
"Ya apalagi, pasti nguntitin kamu 'lah," Rara menoleh dan menahan senyum, bahagia rasanya ada yang diam diam memperhatikan dirinya.
"Jangan lupa kamu itu pacarnya, jadi dia akan menjagamu dan kamu termasuk beruntung. Dia saja tidak pernah begitu padaku, padahal aku selalu ada untuk dia," seloroh Anton yang langsung tertawa saat bangkunya bergerak maju karena di tendang Reno.
Reno memang tidak pernah marah pada Rara, hanya menegur dan itu terasa seperti ancaman bagi Rara. Reno juga tidak melarang Rara berteman dengan siapapun, dia hanya berpesan jangan terlalu percaya dan dekat dengan orang baru. Reno akan menyeleksi siapa saja yang bisa akrab dengan Rara.
Sesampainya di rumah sakit, Rara dan Reno langsung menemui dokter yang biasa memeriksa Rara. Dan setelah itu Reno meminta Rara menunggu.
Reno masuk ke toilet, di dalam sana dia memukul tembok hingga punggung tangannya mengeluarkan darah.
"Rara maafkan Kak Reno, Kak Reno sudah memilih Ara, dan kak Reno berjanji akan membuat Ara bahagia. Sudah cukup, Ra. Sudah cukup Kak Reno berpisah dengan Ara, biarkan dia bahagia." Reno memandang foto yang ada gambar sosok dua gadis kecil berwajah sama, ibu jarinya mengusap wajah gadis kecil yang sedang tersenyum walau sedang bersedih.
Ara Anastasya, gadis kecil yang sedari kecil berjuang membantu bundanya bekerja, tidak pernah mengeluh dan mandiri. Sedang Rara saudari kembarnya, gadis manja yang selalu meminta ini dan itu, dan pertemuan Reno yang berusia 22 tahun dengan Ara yang berusia 7 tahun membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kepolosan, keluguan dan keikhlasannya dalam berkorban membuat Reno memutuskan akan menjadikan Ara istrinya. Dan Rara saudara kembar Ara tidak terima, Rara hendak mencelakai Ara beruntung Reno tahu dan menggagalkan rencana itu.
Reno pernah mengancam Rara akan membencinya jika berani menyakiti Ara, dan Rara berjanji akan baik pada Ara. Hingga suatu hari papa Reno mengirimnya ke luar negeri untuk melanjutkan studinya dan mengatakan Reno akan meneruskan usahanya, sebulan di sana dia mendengar kecelakaan yang merenggut nyawa Ara-nya.
Hatinya hancur, dan dia memilih bertahan di sana dengan mematikan hatinya untuk tidak mencintai wanita manapun. Hati dan cintanya hanya untuk Ara, hingga suatu hari kembali ke kota ini dan dia bertemu dengan gadis yang mirip Ara.
Reno meminta para sahabatnya mencari tahu siapa gadis itu, dan setelah mendapatkan informasinya, Reno meminta Ara atau Rara yang ternyata hilang ingatan karena kecelakaan itu menjadi pacar sewaannya. Kebenarannya adalah dia begitu bahagia dengan keadaan dan status ini, walau Ara nya masih menganggapnya pacar sewaan namun bagi Reno ini serius.
__ADS_1
Memeluk, mencium, dan menunjukkan perasaannya yang tertahan belasan tahun pada gadis yang dia cintai, terkadang Reno susah payah menahan hasrat untuk menyentuhnya. Menahan rasa cemburu saat Ara berdekatan dengan pria lain dia lakukan, asal mereka masih bisa bersama.