Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 27


__ADS_3

"Coba kalian tanya ke anaknya langsung," ucapan ayah Rara membuyarkan lamunan Rara, dan gadis itu menjadi gelagapan kala para sahabat ayahnya memandang dirinya, Fandi pun tidak kalah.


Pemuda itu memandang Rara seakan memohon agar menerima dirinya, percaya diri sekali Rara, begitu pikiran konyol yang terbesit di otak Rara.


"Nak, gimana kamu mau kan jadi menantu, Om?" Om Amat berjalan mendekat, Rara melirik di belakang punggung om Amat, om Ridwan juga melangkah mendekat kearahnya.


"Kamu sama Fandi saja, Ra. Lihat dia alim, sholeh, dan sudah mapan. Fandi hanya kurang pendamping hidup saja," bujuk om Ridwan sambil sesekali menoleh kearah putranya, Fandi.


Rara menelan ludah pelan, bingung mau menjawab apa, Rara menatap sang ayah seakan meminta bantuan. Bibir Rara manyun kala melihat sang ayah pura-pura tidak melihat dan memilih merebahkan tubuh ringkihnya di ranjang pesakitan.


"Maaf om, Rara belum bisa menjawab," akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibirnya, Fandi terdengar menghembuskan nafas, entah kecewa atau lega.


Kecewa karena tidak atau belum memilih dirinya, dan lega karena masih ada kesempatan untuk lebih dekat dan mengenal Rara.

__ADS_1


Kata pak Amar, ayah Rara. Anaknya itu berbeda dengan gadis-gadis lain, dan banyak yang membenarkan. Di saat gadis seusia dirinya melanjutkan sekolah Rara sibuk menjadikan dirinya tulang punggung menggantikan sang ayah.


Di saat para gadis lain bergandengan tangan, berpelukan dengan pemuda yang memiliki status pacar, yang entah satu sekolah atau tidak, Rara sibuk bekerja mencari pundi-pundi rupiah.


"Berapa lama waktu yang kamu minta untuk menjawab pertanyaan kami, Nak?" Om Amat bertanya dengan nada lembut tapi terdengar mendesak dan menuntut.


"Rara tidak tahu, Om," jawab Rara pelan, lalu menunduk menatap ubin Rumah Sakit yang berwarna putih yang kini terlihat menarik daripada harus memandang kedua pria paruh baya yang mengejar dan menuntut jawaban dari dirinya.


Kaki Rara bergerak-gerak di bawah ranjang pesakitan, sumpah saat ini dirinya ingin berteriak mengeluarkan unek-unek nya lalu berlari keluar.


Segera Rara merogoh tasnya dan mengambil ponsel itu, Rara memejamkan mata kala melihat siapa yang menelpon.


"Om, ayah, Rara izin keluar sebentar ya, mau nerima telepon. Takut ada yang penting," pamit Rara yang diangguki ketiga pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


Kaki Rara melangkah dengan cepat, mungkin lebih tepatnya berlari kecil, dan bergegas keluar setelah tersenyum kecil pada Fandi yang juga tengah menatap dirinya.


Sesampainya di luar Rara memutar bola mata jengah, MAS RENO GANTENG terpampang di panggilan yang sedang terhubung.


"Ya, halo," sapa Rara begitu gambar telepon dia gulir kearah berwarna hijau, terdengar helaan nafas dari seberang.


"Mana nomer rekening kamu, mau saya transfer, atau kamu minta ke bagian resepsionis biar saya langsung transfer biaya ayah kamu," ucap Reno dari seberang.


"Saya ga hafal nomer rekening saya, om eh mas. Coba nanti waktu adik saya kesini dan pas saya pulang mau mampir ke resepsionis bagian pembayaran," jawab Rara jujur.


Rara memang memiliki rekening, karena gaji dari minimarket tempat dia bekerja tidak di berikan lewat amplop, uang gaji yang dia terima dikirim langsung ke rekening oleh pihak minimarket.


"Hmm, segera kabari saya," jawab Reno dari seberang, Rara mengulas senyum mendengar jawaban Reno. Masih ada waktu bertanya berarti nanti, dan nanti dia harus segera menyuruh adiknya segera datang agar dia bisa menemui resepsionis Rumah Sakit ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2