Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 37


__ADS_3

"Si ibu bisa saja bercandanya," Rara menggeleng gemas mendengar ucapan absourd ibu tersebut.


"Ya sudah mbak Rara, saya pulang dulu. Ngga enak banyak yang antri," pamit si ibu yang diangguki oleh Rara.


"Ibu itu kocak juga ya?" Rania muncul setelah tadi bersembunyi di kolong meja kasir, kebiasaan jika berganti shift dan dirinya serta Rara tidak satu shift.


"Loe nggak pulang?" Rara mendudukkan dirinya di kursi plastik sambil menunggu para pelanggan membayar.


"Bapak sama emak gue pergi ketempat eyang gue, jadi gue males pulang," jawab Rania yang kemudian ikut duduk di sebelah Rara.


"Eh nggak papa'kan ya gue di sini bantuin?" Rania memutar kepalanya melihat kearah Rara, Rara hanya mengedikkan bahu lalu berkata, "tapi nggak di itung lembur lho ya, kan Fajar masuk," kedua bahu Rania lungai.


"Nggak papa deh, tapi tar traktir makan ya?" Rania menarik turunkan kedua alisnya, Rara meraup gemas wajah sahabatnya seraya berkata, "oke," sambil menempelkan ibu jarinya di kening Rania, keduanya kemudian terkekeh.

__ADS_1


Selang beberapa saat ada ojek online datang dan segera masuk membawa tas plastik bertuliskan sebuah restoran.


"Mbak Rara nya ada? Ini ada pesanan buat mbaknya?" tanya si ojol sambil sesekali melihat ponselnya, mungkin takut salah tempat.


"Saya Rara," Rania maju menyela sedang Rara mendelik seraya berujar lirih, "makanan aja cepet," si Rania hanya tersenyum dan menerima tas plastik tersebut.


"Eh, mas dari siapa ini?" tanya Rania penasaran, si tukang ojol menjawab, "dari calon suaminya," kemudian melempar senyum. Rania dan Rara saling lempar pandangan, calon suami? siapa?


"Terima kasih ya, Mas," Rara melempar senyum pada tukang ojol dan di angguki si mas-mas.


Raya termenung memikirkan siapa yang mengirimkan makanan untuknya, Dion 'kah, kak Fandi 'kah. Otaknya mencari jawaban, namun tetap menolak satu orang yang mengirimkan makanan untuknya.


Rara tidak menjawab pertanyaan Rania karena tiba-tiba ada pembeli yang antri untuk membayar, kali ini selamat dia dari interogasi si julid ini. "Terima kasih, semoga hari anda menyenangkan. Datang lagi ya, Kak," ucap Rara pada pembeli yang terakhir mengantri.

__ADS_1


"Siap, di sini harganya agak miring. Mungkin saya akan sering kesini, jangan bosan ya mbak," sahut pria itu.


"Nggak akan bosen kok, Kak. Apalagi kakak ganteng," seloroh Rania yang langsung mengaduh karena di injak Rara.


"Hahahaha, mbaknya ini lucu ya," pria itu kemudian berlalu, "eh, Ra beneran di minimarket ini harganya paling murah?" Rania jadi penasaran, Rara diam tidak menjawab.


"Iya, apalagi sama yang namanya Indoapril sama apa satunya gue lupa," Fajar yang selesai menyetok ikut nimbrung, netranya terpaku pada kotak makanan di depan Rania.


"Wuih, makan-makan nih. Ulang tahun loe?" tanya Fajar kemudian mendekat kearah Rania, "ini dari calon Rara," ujar Rania lalu memukul punggung tangan Fajar yang hendak mencomot makanan itu.


"Calon suami Rara, Siapa?" Rania memutar bola malas, "Ra, boleh gue makan ini?" tanya Rania sambil menunjuk kue-kue yang terlihat mengiurkan. Rara hanya mengangguk, kemudian dia berdiri dan sedikit berlari menuju lokernya.


Ingin memastikan siapa yang mengirimi dia makanan, pasti orang itu menghubungi dirinya bukan walau sekedar bertanya 'makanan yang aku kirim sudah sampai?'

__ADS_1


Rara segera mengambil ponselnya dan benar ada notif pesan masuk dari aplikasi bergambar gagang telepon berwarna hijau, netranya mendelik tidak percaya saat ada pesan masuk yang menanyakan tentang makanan itu.


Hayo lho kira- kira siapa ya?


__ADS_2