Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 87


__ADS_3

Siang hari di Kantor Reno.


"Bodoh, hanya menguntit pria tua seperti itu tak becus!!" Reno berteriak murka dan melempar map yang beruntung tidak terlalu penting isinya. Mas Seno yang melirik hanya menghela nafas, dalam hati dia mengumpat kebiasaan Reno yang suka melempar apapun yang berada di depannya.


Mas Seno juga kesal pada anak buahnya yang tadi sudah segera dia perintahkan untuk menguntit Pak Gito begitu mbak Siti mengabarinya tadi, Mas Seno mengusap wajah gusar. Padahal tadi dia yakin, anak buahnya itu pasti akan berhasil. Sepertinya Pak Gito ini orang cerdik, dan dia selalu waspada pada sekitar.


Dan Mas Seno berdoa semoga Ara dan mbak Siti baik baik saja, walau mbak Siti bisa bela diri, akan tetapi jika berhadapan dengan pria mungkin tenaganya tidak akan seberapa.


"Kenapa loe galau?" Reno melempar tissu yang sudah dia remas ke wajah mas Seno, membuat sahabatnya itu hanya melirik kesal.


"Calon mertuamu itu sepertinya cerdik, ah lebih tepatnya licik. Kita harus selalu waspada, kalau bisa suruh anak buahmu berjaga 24 jam di sana." ujar mas Seno mengungkapkan unek uneknya, Reno menyangga kepalanya dan terlihat berpikir.


"Sepertinya aku harus segera menikahi Ara, jika tidak pria tua itu akan melakukan apapun untuk membuat Ara menikah dengan salah satu anak sahabatnya. Dan yang paling membuat gue takut, si Dion.


Pemuda itu begitu terobsesi dan emosional, tak segan menggunakan kekerasan. Walau dia mengatakan sangat mencintai Ara, akan tetapi tidak menutup kemungkinan dia bisa menyakitu Ara," Mas Seno mengangguk dan membenarkan apa yang Reno ucapkan.


"Boleh saya masuk?" Ria mengetuk pintu sebelum masuk, dan kebetulan pintu itu terbuka. Reno mengangguk pertanda mempersilahkan calon adik iparnya masuk.


"Ini ada tawaran kerja sama dari perusahaan Om Amar, teman ayah. Mungkin ini bisa kita jadikan alat untuk menjadikan senjata agar kak Dion mundur," Ria menyerahkan map pada Mas Seno di mana di situ berisi tawaran kerja sama dari perusahaan Adijaya, perusahaan milik pak Amar, sahabat Pak Gito.

__ADS_1


"Oke, terima kasih informasinya." Mas Seno menerima nya sambil melempar senyum, Ria mengangguk dan berpamitan kembali ke meja kerja.


"Sepertinya dia menyukaimu," ujar Reno setelah Ria tidak terlihat dan Reno berjalan mendekati Mas Seno setelah menutup pintu, kening mas Seno mengkerut.


"Maksud loe?" tanya Mas Seno tak paham, Reno menyeringai.


"Loe tahu, walau gue bukan playboy dan ga suka melihat wajah perempuan kecuali Ara, gue bisa lihat dia, adiknya Ara menyukai dirimu," Reno tergelak begitu melihat ekpresi yang Mas Seno tunjukkan.


"Sudah tak usah membahas Ria, sekarang kita bahas rencana kita dengan kerja sama yang orang tua rival loe ajukan. Mungkin dia belum tahu, jika kau pemilik perusahaan ini," Reno mengangguk membenarkan ucapan Mas Seno.


Reno dan Mas Seno menoleh kearah pintu yang terbuka tanpa ada suara ketukan, "apa gue ganggu?" tanya pria itu yang langsung melangkah menuju sofa dan dengan santai duduk di sana.


"Oya, cewek yang duduk di depan ruangan loe siapa? Kok gue baru lihat, cantik. Tapi wajahnya familier," ucap pria itu sambil memandang Reno dan Mas Seno bergantian.


"Apa pacar perempuan itu preman kok gue bisa habis, atau ayahnya yang menakutkan. Tenang gue bisa menjinakkan," sahut pria itu enteng.


"Yakin, Bro?" Reno menyeringai, sepertinya menyenangkan mengerjai sahabat yang hobi ganti ganti wanita ini dengan menyodorkan adik kekasihnya, akan tetapi jika Ara tahu pasti kekasihnya itu marah.


"Yakin seyakin, yakinnya," jawab pria itu mantap, Reno hanya mencebik dan menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Bukan pacar atau ayahnya yang akan loe hadapi, tapi calon kakak iparnya," Mas Seno berkata santai.


"Ck, bisa apa calon kakak iparnya. Btw kakak iparnya laki apa perempuan?" pria itu mencondongkan tubuhnya kedepan dan menatap wajah sahabatnya bergantian


"Santai saja, kakak iparnya baik kok, asal jangan buat kekasihnya kesal aja," tiba-tiba perasaan pria itu tidak enak.


"Oya, Anton. Apa loe udah putus dengan yang kemarin, wanita yang membuat seorang Anton Wijaya tidak berkumpul dengan kami," ucap Reno kepada pria yang ternyata Anton.


"Sudah dapat apa?" ejek Reno lagi, walau Anton suka bergonta ganti pasangan, akan tetapi baginya melakukan hubungan suami istri tidak ada dalam kamusnya. Oleh karena itu, jika dia menyukai wanita, Anton tidak akan mengeluarkan banyak uang. Mereka yang selalu mengeluarkan biaya jika mengajak pergi Anton.


"Kalau boleh jujur, yang kemarin juga udah ngajakin serius. Tapi gue belum mau, masih banyak wanita cantik dan seksi yang bisa gue ajak jalan." celetuk Anton.


"Sekali sekali ajak ke ranjang," seloroh Reno yang malah membuat Anton tertawa terbahak.


"Memang loe udah ama si bocah kecil itu?" tanya Anton menyindir, Reno terkekeh sambil menggeleng.


"Aku sering membawanya ke kamar dan kami tidur saty ranjang, akan tetapi kami hanya tidur berpelukan, sebentar lagi, dia akan menjadi seorang nyonya Reno," ucap Reno bangga.


"Cih, bangga. Bangga itu sudah tidur dengan dia," cibir Anton, "gue udah ngajakin dia tidur, loe ngga dengar tadi gue ngomong apa!" ketus Reno, Mas Seno dan Anton terbahak mendengar ucapan absourd Reno.

__ADS_1


Ternyata pria es ini hanya tunduk pada wanita masalalunya, dan bisa menahan gejolak yang sering pria rasakan. Padahal bisa saja, Reno melakukan itu dengan wanita manapun jika Ara menolak, namun dengan sabarnya, Reno menunggu hingga waktu itu tiba.


Benar benar patut di juluki Tuan Bucin, pikir Mas Seno dan Anton.


__ADS_2