Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 47


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit dan setelah memarkirkan motor milik Kak Fandi, mereka berdua menuju kamar inap ayah Rara. Sesekali Rara memukul kepalanya yang terasa berat, "pusing banget?" lengan Kak Fandi melingkar di pundak Rara.


"Tadi udah makan malam?" tanya Kak Fandi seraya menarik kepala Rara agar bersandar di dadanya, "belum," jawab Rara pelan, Kak Fandi menyuruh Rara duduk di kursi tunggu di luar pintu ruang rawat ayahnya


"Mau makan apa, biar saya carikan?" Kak Fandi berjongkok dengan hanya bertopang lututnya, tangannya sibuk memijit kepala Rara, hati Rara menghangat akan perlakuan yang Kak Fandi lakukan padanya.


"Rara," Rara dan Kak Fandi menoleh dan sedikit mendongak melihat siapa yang memanggil namanya, "mas Seno," Rara tersenyum ramah, ternyata teman Om Reno di sini. Seno duduk di sebelah Rara, menatap Rara yang setelah membalas sapaannya lalu menyenderkan kepalanya di tembok.


"Kamu kenapa?" Rara hanya menggeleng, Seno berdecih tidak percaya, "cih, ngga papa gimana orang wajah kamu itu pucat!" geram Seno.


"Dia belum makan malam, dan kelelahan" Kak Fandi yang menjawab. Seno menghembuskan nafas beratnya, "kalau kaya gini biasanya bisa hilang kalau makan dan minum apa?" Rara menoleh masih dengan kepala bersandar pada tembok.


"Mie rebus di kasih sayur diberi irisan cabe dan telur, sama minumnya teh panas," jawabnya, Seno mengangguk lalu beranjak dari sana. Kak Fandi ganti duduk di sebelah Rara.


"Dia siapa?" Kak Fandi bertanya mungkin karena penasaran, "Mas Seno," jawab Rara.


"Iya tahu, tadi kamu udah sebut namanya. Maksud Kak Fandi, dia itu siapa kamu?" cecar Kak Fandi, Rara yang tadi terpejam langsung membuka mata.


'Mati gue, nggak mungkin kan gue bilang dia asisten Om Reno, cowok yang membuat gue jadi pacar sewaannya,' gumam Rara dalam hati. Cukup lama Rara terdiam, bingung harus menjawab apa. Sampai terdengar derap langkah sepatu menuju kearah mereka, refleks Rara menoleh dan mendapati Seno berjalan dengan tegap, di belakangnya ada seorang suster yang membawa nampan.


"Ini di taruh mana, Mbak Rara?" suster yang sudah hafal dengan Rara bertanya sambil menunjuk nampan yang dia bawa.


"Itu apa?" Rara berdiri dan melirik kearah Seno, "pesanan kamu," jawab Seno singkat. Mendengar itu sakit kepala Rara mendadak hilang, dengan antusias dia bergeser kesamping kursi tralis yang tadi dia duduki.


"Taruh di sini saja, Sus," pintanya sambil menunjuk kursi tadi, suster itu mengangguk dan meletakkan nampan tersebut. Tidak sabar Rara membuka mangkok bertuliskan Rumah Sakit tersebut, dan menghirup aroma mie kuah dengan rasa soto yang menguar.


Rara segera duduk lesehan, menekuk kakinya menjadi bersila dan meraih gelas di depannya lalu menyesap teh yang masih mengepul mengeluarkan asap, setelah itu menyuapkan mie instan yang sebelumnya dia ambil menggunakan garpu dan dia letakkan di sendok. Kepala menggeleng dan sesekali punggung tangan Rara mengusap keringat yang mengalir.


"Ehemm," Rara menghentikan suapannya dan mendongak, di sana Seno sedang bersedakep menatap dirinya yang sedang asyik makan, 'haish kebiasaan kalau makan mie rebus lupa sekitar,' gerutu Rara dalam hati.

__ADS_1


"Makan mas," tawar Rara pada Seno, pria itu hanya menggeleng lalu menyuruhnya melanjutkan makannya. Rara menoleh kearah Kak Fandi yang juga sedang menatap dirinya.


"Makan, Kak," Kak Fandi hanya tersenyum, Rara menghela nafas dan melanjutkan makan mie instannya, sayang kalau dingin. Sesekali Rara menyesap teh yang mungkin sudah sedikit dingin karena terkena AC.


"Kenapa chat saya nggak di balas, nggak di baca juga enggak?" Seno yang sudah duduk di kursi seberang bertanya pada Rara yang telah menandaskan mie rebus beserta tehnya tadi, Kak Fandi bergeser sedikit agar Rara bisa duduk.


"Mas Seno nge-chat saya?" Rara yang terlihat sudah segar mengambil ponsel di dalam tasnya yang di bawa Kak Fandi. Seno mengangguk, Rara segera membuka aplikasi hijau miliknya. Tidak ada chat masuk kecuali tadi pagi ada nomer baru dan sengaja tidak dia baca, dia kira itu hanya spam.


"Tadi saya mau ngasih kabar kalau saya di tugaskan mengawasi operasi ayah kamu sampai selesai," tutur Seno, Rara manggut-manggut mengerti.


"Dia yang nyuruh?" Rara hati-hati dalam berbicara, Seno berdecak sebal.


"Memang siapa lagi pa...." ucapan Seno terpotong karena Rara tiba-tiba duduk di sampingnya, bisa perang dunia jika Mas Seno mengatakan tentang Om Reno.


"Pa\_ pa apa, Ra?" Kak Fandi yang terlihat penasaran akhirnya bertanya, menatap tajam Seno yang terlihat santai.


"Oya, Kak. Kakak pulang aja ya, udah malam juga, nanti tante sama om khawatir lho. Ini Rara udah mendingan kok, nggak usah khawatir," Rara mengusir Kak Fandi dengan halus, kelamaan di sini bisa terbongkar semua. Awalnya sangat sulit meyakinkan Kak Fandi jika Rara baik-baik saja, namun karena Rara terus membujuk akhirnya Kak Fandi mau pulang dan dengan syarat, jika ada apa-apa harus menghubungi dirinya. Rara pun mengiyakan dari pada menjadi panjang urusannya nanti.


"Anaknya teman ayah saya," Seno mencebik mendengar jawaban Rara, tidak percaya sepenuhnya.


"Tapi sepertinya dia suka kamu, ingat kamu pacarnya Reno," tegur Seno, netranya sesekali melirik kebrangkar di mana ayah Rara sedang terlelap.


'Pacar sewaan!' pekik Rara dalam hati, Rara lupa jika perjanjian itu hanya dia dan Om Reno yang tahu, sehingga tidak salah Mas Seno menegur dirinya saat bersama pria lain.


"Iya," hanya itu yang keluar dari mulutnya, Mas Seno mengangguk puas. Rara mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi, sesampainya di pintu dia menoleh kearah Mas Seno.


"Saya tidak akan mengintip, saya punya tunangan yang harus saya jaga perasaan nya," kata Mas Seno seakan mengerti kekhawatiran Rara. Terbiasa sehabis pulang kerja mandi dan mengunci pintu karena tidak ada orang, kini perasaan was-was bersemayam di benaknya.


Akan tetapi mendengar Mas Seno berkata demikian dia sedikit lega.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Rara keluar dalam keadaan sudah segar, beban yang tadi membuat kepalanya pusing seakan sudah hilang.


"Reno baru bisa pulang Sabtu siang, mungkin hari Minggu dia baru bisa kesini," Mas Seno menerangkan tanpa Rara bertanya, "dia menugaskan saya di sini menemani kalian," timpal Mas Seno.


"Berarti Mas Seno udah ketemu trus ngobrol sama ayah?" Mas Seno mengangguk, Rara mendelik tidak percaya.


"Lalu ayah bertanya aneh-aneh nggak? Trus Mas Seno jawab apa?" Mas Seno terlihat memutar bola malas. Rara sangat hafal ayahnya, dia pasti akan bertanya dengan detail jika berhubungan dengan dirinya.


"Cuma tanya saya siapa kamu, di kiranya saya pacar kamu yang mau di kenalin ke ayah kamu," jawab Mas Seno, Rara menggaruk keningnya.


"Memang hubungan kalian sudah serius sampai mau saling mengenalkan ke orang tua masing-masing?" Mas Seno bertanya seraya memincing sebelah matanya.


"Kalau iya, mending kamu jauh-jauh dari para cowok." Mas Seno menyarankan.


"Kenapa begitu?" Rara penasaran, Mas Seno berdiri lalu mengelar tikar plastik yang sudah ada di sana di sebelah kiri pintu. Lalu masuk kekamar mandi setelah melepas sepatu nya. Dan meletakkan ponselnya di atas meja


"Pantes aja atasannya nyebelin, bawahannya aja juga lebih nyebelin. Di tanya gitu harusnya njawab dulu, bukannya pergi," gerutu Rara kesal akan sikap seenaknya Mas Seno.


"Kenapa bajumu dan baju ayahmu nggak di laundry saja, bukannya di sini ada jasa seperti itu?" Mas Seno yang baru keluar dari kamar mandi mengelap wajahnya dengan sapu tangan dan kembali mengantonginya.


"Nggak ah, mahal," tolak Rara, Mas Seno melangkah mengambil ponselnya lalu duduk di tikar yang tadi dia gelar.


"Itu sudah termasuk biaya akomodasi yang akan di masukkan ketagihan Reno, jadi kamu nggak usah memikirkan itu." Mas Seno kemudian merebahkan tubuhnya, kepalanya menoleh kearah Rara.


"Tidur, besok ayahmu operasi bukan?" Rara mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di sofa yang tadi dia duduki, netranya menatap lekat tubuh sang ayah.


"Kamu nggak usah khawatir, Reno sudah memastikan semua aman, dan ayah kamu akan baik-baik saja," Rara melempar senyum dan mengangguk.


"Terima kasih," ucapannya pada Mas Seno, "katakan itu pada Reno pacarmu, besok kalau kalian bertemu," jawab Seno akhirnya. Rara mengangguk kemudian memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Ada rasa senang jika keselamatan ayahnya sudah di pastikan, tetapi sedih karena besok tidak bisa menemani ayahnya.


"Terima kasih, Om Reno," gumam Rara lirih, "aku akan membalas jasamu suatu saat nanti," Rara bergumam kembali, kemudian Rara terhanyut dalam mimpinya. Dan berharap semua akan baik-baik saja.


__ADS_2