Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Sesion 2 Part 2


__ADS_3

"Kak, Sera berhenti. Kasihan Diva," seorang anak lelaki berumur sekitar 7 tahun merentangkan kedua tangannya di depan seorang remaja berusia 15 tahun dan memunggungi seorang gadis kecil 5 tahun yang terlihat begitu ketakutan, lelaki kecil itu berusaha memisahkan sang kakak yang terus saja menyerang gadis kecil yang bernama Diva.


"Rendra, minggir kamu! Kakak nggak mau buat kamu terluka hanya untuk membela gadis tidak tahu diri itu!!" Sera, gadis yang lebih tua dari Rendra marah dan terus menunjuk sosok gadia kecil yang sedang berlindung di punggung kecil Rendra, lelaki kecil yang ia anggap kakak lelakinya.


"Kak," Rendra memeluk tubuh Sera yang lebih tinggi dari dirinya, "dia itu adik kita, kita harus selalu menjaganya, bukan malah memarahi atau memukul dia," katanya masih dalam pelukan Sera yang kini membalas pelukan pria kecil itu.


'Aku tidak suka dia selalu mencuri perhatian dan kasih sayangmu, semenjak dia hadir kau lebih berpihak dan berdekatan dengan dia. Aku tidak suka ada yang mencuri perhatianmu,' gumam Sera dalam hati, namun matanya menatap nyalang gadis kecil yang kini berdiri sambil berpegangan kursi karena ia lari menjauhi kakak perempuannya setelah kakak lelakinya memeluk dan menenangkannya.


"Ada apa ini?" seorang lelaki paruh baya datang dan melihat sedikit kekacauan yang terjadi, "kakek," Diva berlari dan menghambur kedalam pelukan sang kakek, sedang Rendra mengurai pelukan itu dan memutar tubuhnya menghadap lelaki yang mereka pangil kakek.


"Itu, cucu kesayangan kakek bikin aku marah terus," ucap Sera dengan pongah, "enggak kok, Kek. Diva nggak nakal, Diva cuman main sama bang Rendra lalu kak Sera yang baru datang marah marah dan membanting semua itu," Diva membela diri seraya menunjuk beberapa barang yamg pecah akibat ulah Sera.

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu menarik nafas nerat lalu menghembuskan perlahan, kenapa Sera mirip sekali dengan mantan istrinya yang egoos dan selalu mau menang sendiri. Selalu iri dengan apa yang orang lain punya, sekali lagi ia menghembuskan nafas pelan.


"Kalian sudah makan?" tanya lelaki paruh baya itu, "kami menunggu kakek juga yang lain," Rendra yang menyahut, lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.


"Harrusnya kalian makan dulu, kenapa harus menunggu kami. Kalian itu masih anak anak dan butuh tenaga untuk belajar," tutur lelaki itu yang kemudian menggiring ketiga cucunya pergi ke ruang makan, "ish, kakek kaya ga kenal Rendra aja. Dia itu lebih suka melihat orang makan dulu baru dirinya," Sera menyahut.


"Hari ini mama pulang 'kan, Kek?" Diva menoleh dan menatap wajah sang kakek, mengangguk adalah jawaban yang lelaki itu berikan, walau dalam hati ia masih sangsi.


Sera mengepalkan kedua tangannya, tidak suka melihat pemandangan yang membuat ia merasa tersaingi dan kalah telak.


"Bukannya kamu harus belajar, Ren. Kan sebentar lagi kamu mau sekolah," ujar Sera mengingat kan, akan tetapi kenyataan nya ia tidak rela dan tidak suka jika Rendra bersama Diva.

__ADS_1


"Oh iya, kalau begitu kita belajar bersama aja gimana? Bang Rendra juga akan mengajari kamu membaca, berhitung juga mewarnai," tawar Rendra yang di sambut anggukan cepat oleh gadis berumur 5 tahun itu, lagi Sera mengepal kuat hingga buku jarinya yang putih menjadi merah.


***


Kembali ke kediaman Reno, Anton duduk di sofa dengan memandang lantai. Sedang sang istri berulang kali menarik nafas karena masih kesal.


"Ren, tar belaain gue ya. Kan gue udah jadi adik ipar loe, gue kan juga sahabat loe," Anton mengiba agar Reno membela dirinya, tadi saat mereka masih berbincang dan Anton tidak mau di salahkan, mertua Ria menelepon. Dan Rea berteriak kalau ayah Anton sudah jahat dan membuat Rea sedih, di seberang terdengar geraman yang berakhir Anton harus menunggu kedatangan orang tuanya.


"Omaaa, Opaaaa!!!" Rea berteriak begitu melihat wanita dan lelaki paruh baya yang begitu menyayangi dirinya, gadis kecil itu lalu berlari menuju kepada orang tua Anton.


"Rea, cucu oma yang cantik," kata nyonya Wijaya setelah memeluk Rea dan memberikan kecupan di seluruh wajah itu, wajah perpaduan antara Reno juga Ara, akan tetapi sifat dingin dan cuek Reno menurun pada Rea luntur jika berhadapan dengan orang tua Anton, Ayah Andri, Tante Rina dan anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2