Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 95


__ADS_3

"Hai, kamu temannya Rara?" seorang perempuan duduk di sebelah mbak Siti, mbak Siti yang tengah fokus memperhatikan Ara menoleh dan tersenyum sembari mengangguk.


"Saya teman SMA nya Rara, nama saya Ayu. Nama mbak siapa?" perempuan yang bernama Ayu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan, mau tak mau mbak Siti menyambut tangan itu dan menyebut namanya.


"Siti," balas mbak Siti sopan, mbak Siti merasa ponselnya bergetar, pasti ada pesan masuk pikirnya. Saat mbak Siti sudah mengambil dan hendak membaca, perempuan yang bernama Ayu menyela.


"Mbak ini temannya zaman apa? Kalau SMA ngga mungkin, karena saya mengenal semua teman seangkatan kami. Lagi pula ini reuni satu kelas," perempuan bernama Ayu itu berujar.


"Saya pegawai baru mbak Ara, eh mbak Rara di restonya. Dan saya nginep di rumahnya," mbak Siti menjawab.


Sementara di sudut lain, Rania memberikan minuman berupa jus pada Ara. Setelah mengucapkan terima kasih, Ara segera meminum jus yang Rania berikan tanpa menaruh curiga.


"Enak, Ra?" tanya Rania yang kini juga tengah meminum jus yang telah di sediakan.


"Enak," jawab Ara sambil sesekali menyesap jus tersebut, dan seorang pria tengah tersenyum menyeringai melihat mangsanya masuk ke perangkapnya.


"Habiskan, Ra. Setelah ini kau akan menjadi milikku," desis pria itu.


Di lantai bawah, Mas Seno bergerak gusar. Pesan yang dia kirim pada mbak Siti tidak juga di baca, jika melakukan panggilan suara pasti akan membuat curiga semua orang.


Sedang Reno menatap pria yang tadi Mas Seno katakan sudah memberikan sesuatu pada minuman yang telah Ara minum, dalam hati Reno mengumpat kesal. Kenapa gadis keras kepala itu tidak menurut, walau dia mengirim mbak Siti, jika menghadapi pria ini dan teman temannya pasti mbak Siti tidak akan sanggup.


Reno mendesah gusar, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

__ADS_1


"Awas saja jika sesuatu terjadi pada Ara, habis keluarga mu," desis Reno, Mas Seno menoleh kearah Reno. Netranya menatap sahabatnya yang terlihat tenang namun mematikan tersebut.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Mas Seno bertanya sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa tersebut.


"Kita tunggu sebentar," Mas Seno mengangguk mendengar jawaban Reno.


Di lantai atas, Ara bergerak gelisah dan tak tenang. Tubuhnya tiba-tiba merasa panas, padahal ac di lantai tersebut menyala.


"Ran, gue ke toilet dulu ya," Ara berpamitan pada Rania yang duduk di sampingnya, "perlu di temani?" tawarnya, Ara menggeleng pertanda menolak tawaran Rania.


Dengan tergesa, Ara menyambar tas dan berjalan menuju lantai bawah karena di lantai atas tidak ada toilet, pria yang memberi obat pada minuman Ara tersenyum, kemudian melangkah mengikuti langkah Ara.


"Mau kemana, Ra. Pesta nya belum selesai lho?" tanya pria itu sambil menatap penampilan Ara, dan tentu dengan tatapan yang entahlah.


"Aku, aku mau ke toilet sebentar," pamitnya, "biar aku antar, kamu pasti belum tahu letaknya 'kan?" tawar pria itu sambil menyeringai, Ara menggeleng.


"Di sini dulu aja mbak, Rara pasti baik baik saja kok 'kan ada Dion," Rania yang datang segera mendorong tubuh mbak Siti agar kembali duduk, dan menahannya agar tidak menyusul Ara.


"Tapi-" ucapan mbak Siti terputus karena Ayu memberikan minuman yang baru saja teman lainnya berikan.


Ara dengan susah payah menuruni anak tangga, dengan perasaan kesal dia menepis tangan Dion, pria yang menawarinya mengantar ke toilet, namun entah apa yang terjadi.


Setiap kulit Dion dan kulit Ara bersentuhan, ada desir halus yang mendatangi raganya. Ada sesuatu yang berbeda dengan sentuhan itu, kali ini kulitnya lebih peka dan sensitif.

__ADS_1


"Aku bisa kesana sendiri," Ara kembali menepis tangan Dion, wajah Ara berubah menjadi merah. Suara penolakan dari Ara, menurut Dion seperti \*\*\*\*\*\*\*. Dan seketika gairahnya bangkit seketika, rasa memiliki wanita itu semakin kuat.


Ara menjerit kala Dion mendorong tubuhnya kedinding lalu menghimpitnya, "Dion, minggir," Ara berusaha mendorong tubuh Dion yang lebih besar dari dirinya.


Saat Dion kepalanya hendak berdekatan dengan Ara, tiba-tiba tubuhnya tertarik kebelakang dan membentur tembok.


Bugh, bugh, bugh, tubuh Dion terjelembab ke lantai. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, "brengsek," umpat Dion kemudian menghapus darah itu dengan jari jempolnya.


"Kamu ngga papa?" lelaki yang menghajar Dion melepas jas itu dan membelitkan di tubuh Ara yang gemetar.


"Kak," panggil Ara pada lelaki itu, tatapan itu terlihat sayu.


"Ren," Anton yang baru datang karena Mas Seno mengabari segera ke TKP, "urus cecunguk itu," perintah Reno tanpa menatap Anton ataupun Dion.


"Kak, aku kepanasan," Ara yang kini di dalam gendongan Reno mengeluh, tangannya berusaha melepas jas yang membungkus tubuhnya, namun dengan erat Reno merapatkan tangannya.


"Kita pulang," Reno berbisik karena suara musik yang keras dan berdentum membuat suaranya pasti tenggelam.


"Aku suka wangimu," Ara menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reno, membuat gelenyar aneh pada diri wanita itu dan juga diri Reno.


"Apa yang orang itu berikan hingga Ara seperti ini," desis Reno geram.


Di lantai atas Mas Seno tengah mencari mbak Siti yang tak terlihat, tadi saat Reno dan Mas Seno melihat Ara turun bersama Dion, mereka segera bertindak. Reno membuntuti Ara dan Dion, Mas Seno naik mencari mbak Siti yang dari tadi tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


Sedang di lorong menuju toilet, wajah Dion bengkak dan babak belur karena Anton menghujaninya dengan bogem mentah. Walau menyebalkan, solidaritas Anton dan teman temannya sangat tinggi.


Jika ada musuh berurusan dengan salah satu dari mereka, sama saja dia berurusan dengan teman lainnya.


__ADS_2