Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 21


__ADS_3

Sekitar pukul tiga dini hari, Rara baru bisa beristirahat karena dirinya harus berdebat terlebih dahulu dengan sang ayah. Dua watak yang sama-sama keras kepala beradu argument, dan berakhirlah sang ayah yang mengalah akan menginap di sini beberapa hari lagi.


Tentu dengan syarat yang harus Rara lakukan, walau berat namun jika menyangkut sang ayah pasti akan dia lakukan.


"Yah, nanti Rara masuk siang, ayah di tungguin Ria sebentar mau ya?" Rara memberi tawaran pada ayahnya, terlihat ayahnya menggeleng.


"Memang dia mau? Nanti dia ngomel-ngomel sama ayah kalau Ria yang nungguin ayah," bermaksud mengadu juga menolak halus, Rara berfikir jika bukan Ria tidak mungkin meminta tolong orang lain, atau meninggalkan ayahnya sendiri di kamar ini.


Walau ada perawat, kan mereka tidak bisa standbay dua puluh empat jam untuk menunggu ayahnya, Rara meraih ponselnya dan menekan tombol yang aplikasi ponsel berwarna hijau, mencari nama adiknya. Kali ini dia berharap adiknya mau menunggu sang ayah dengan sabar.


(Dek, kakak minta tolong boleh?) ketik Rara dan dia kirim kenomer sang adik, sedikit melirik sang ayah yang juga sedang melirik dirinya.


"Bentar ya, Yah. Semoga Ria mau nunggu ayah," Rara mencoba menghibur dan memberi pengertian ayahnya.

__ADS_1


"Bilang pada Ria, jangan galak-galak sama ayah," Rara tersenyum mendengar permintaan sang ayah, entah kenapa Ria itu galak sekali pada ayahnya, tapi jika dengan Rara, adiknya ada sedikit rasa takut.


Rara memaklumi karena dulu almarhumah sang bunda memanjakan Ria, dan Rara sering mengalah. Bukan di suruh oleh Ayah dan bundanya, namun dia merasa sebagai kakak harus bisa mengayomi sang adik, begitu pikir Rara.


(Apa, Kak?) balasan dari Ria, Rara bernafas lega setidaknya ada balasan walau harus menunggu sepuluh menit.


(Hari ini kamu bisa gantiin kakak jaga ayah?) Rara membalas pesan Ria, menggigit bibir bawah cemas berharap sang adik bersedia.


(Kayaknya ga bisa deh, Kak. Ria capek, soalnya ada rencana lamar pekerjaan di kantor R'Corporation, setelah itu mau ke perusahaan lain) balasan dari Ria, Rara mendongak menghirup udara se banyak-banyaknya.


(Tapi bilang sama ayah, jangan banyak mau dan permintaan, kalau ga nanti ayah bakalan Ria tinggal) balasan dari Ria, Rara tersenyum bahagia, menarik nafas lega.


(Iya, nanti kakak bilangin ke ayah, trus kalau kesini bakal kakak ganti uang transportnya) Rara mengirim balasan.

__ADS_1


(Serius, Kak? Oke) Rara tersenyum lalu menggeleng pelan.


"Setidaknya uang yang diberikan om Reno berguna," gumam Rara pelan, Rara berdiri dan melangkah menuju tempat tidur sang ayah yang sedang diperiksa oleh dokter dan suster.


"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanya Rara pada dokter yang sudah selesai menanyakan apa saja keluhan ayahnya, dan mengukur tekanan darahnya.


"Bapak Gito sudah baik, mungkin besok atau lusa kalau ada uang bisa di operasi," jawab sang dokter di sertai senyum manisnya.


"Saya ngga mau di operasi, saya mau pulang!!" pak Gito ayah Rara berteriak histeris, mencoba mencabut selang infus yang berada di tangan kirinya.


Rara segera memegang lengan sang ayah lalu memeluknya, mengusap lembut punggung ayahnya.


"Ayah harus operasi, kalau tidak nanti ayah pingsan terus, mau ya di operasi. Kan semalam udah perjanjian sama Rara," Rara membujuk sang ayah yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kasihan putrinya, Pak kalau harus bolak balik kesini kerumah ketempat kerja," sang suster ikut angkat bicara, Rara tahu suster itu bermaksud baik, karena dia sering melihat Rara datang malam hari kadang masih dengan seragam kerjanya dan ketiduran waktu menunggu sang ayah.


__ADS_2