
Rara dan Fandi beriringan mencari jenis makanan yang bisa menggugah selera mereka, Rara tersenyum kala mendapati tulisan 'Bubur ayam' di salah satu stan di kantin Rumah Sakit tersebut.
"Mau makan apa?" Fandi bertanya memecah kecanggungan, Rara menoleh dan agak mendongak, menatap pemuda tampan ciptaan Tuhan, tetapi entah perasaan nya saja atau memang iya, om Reno lebih tampan dari kak Fandi, eh. Rara menepuk keningnya dan menggeleng.
"Ada apa?" Fandi refleks bertanya, mungkin karena melihat tingkah wanita di sampingnya.
"Ngga ada apa-apa," sahut Rara cepat, kepalanya menggeleng lucu, "aku kira kenapa," Fandi mengusap lembut kepala Rara, sedang Rara hanya nyengir kuda.
Akhirnya mereka memilih menu bubur ayam dan dua gelas teh hangat. Selesai makan Rara menelisik sekitar, kemudian mendesah kesal, bibirnya dia tekuk pertanda sedang kesal.
"Kenapa lagi?" Fandi memandang gadis di sampingnya, "nasi padang titipan om Ridwan ga ada, Kak," keluh Rara terlihat kecewa.
"Di sini memang ga ada, tapi di luar Rumah Sakit ada, di sebelah kiri jalan," Fandi menerangkan, Rara menerbitkan senyum kala mendengar kata-kata Fandi.
"Syukurlah," ucap Rara lega, Fandi mengambil tissu yang tersedia di meja, kemudian menyerahkan pada Rara dan dia mengambil lagi untuk mengelap mulutnya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, kita bisa jalan ke warung nasi padang di sebelah," Fandi menawari Rara, tampak gadis itu berfikir akhirnya mengangguk tanda setuju.
Mereka berjalan beriringan menuju kasir, Rara merogoh dompet di dalam tas slempang yang dia bawa, saat Rara mengulurkan uang, Fandi tidak sengaja menyentuh tangan Rara.
"Biar aku saja yang bayar," kata Fandi seraya mengangsurkan selembar uang berwarna merah, Rara mengangguk dan memasukkan kembali uang kedalam tasnya.
"Terima kasih sudah di traktir, Kak," ucap Rara begitu mereka berjalan keluar menuju rumah makan padang, Fandi mengangguk sambil tersenyum manis.
"Eh, kamu anaknya Gito kan, Amar Sugito?" tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menghampiri Rara dan Fandi yang hendak melangkah keluar menuju gerbang Rumah Sakit.
"Saya Amat, teman Gito ayahmu," terang bapak-bapak yang mengaku bernama Pak Amat, Rara meraih tangan pak Amat dan menempelkan di keningnya.
"Ini mau kemana?" Pak Amat menatap Fandi dan Rara bergantian, Rara tersenyum lalu menjawab, "mau ke Rumah makan Padang itu, Om," Rara menunjuk warung yang di maksud.
Pak Amat mengikuti jari telunjuk Rara sambil manggut-manggut, "oya kalau om mau ketemu ayah, di sana ada om Ridwan juga," tutur Rara kala keheningan tercipta.
__ADS_1
"Kemarin om sudah kesini, kata ayahmu kamu sedang kerja," sahut Pak Amat, Rara melirik kearah Fandi, pemuda itu tampak tidak nyaman.
"Nanti kita lanjutkan di ruangan ayah saja ya, Om. Sekarang Rara mau cari makanan dulu," Rara akhirnya memutuskan percakapan tersebut, om Amat pun mengangguk.
"Ya sudah, om masuk dulu," om Amat tersenyum seraya mengusap lembut kepala Rara, Rara pun membalas senyuman itu.
"Maaf ya, Kak." Rara menunduk merasa tidak enak, Rara merasa ada tangan menyentuh kepalanya, lalu menepuk pelan kepalanya.
Saat mendongak Rara melihat Fandi sudah berjalan sambil mendongak, entah apa yang pemuda itu pikirkan.
"Om Ridwan di pesankan apa, Kak?" tanya Rara begitu mereka sudah di dalam warung nasi Padang tersebut. Rara memperhatikan mata Fandi yang tengah memilih, dan menunjuk telur goreng dan ayam goreng.
Si penjual dengan sigap membungkuskan nasi berisi lauk telur goreng dan ikan goreng, ada sambal hijau dan lalapan daun pepaya juga. Tanpa sadar Rara mengusap bibirnya yang terasa basah, " jangan ngeces," Rara tersenyum malu saat mendengar Fandi berbisik, mungkin pemuda itu memperhatikan tingkah Rara.
*Boleh dong kak, mampir dan dukung karya saya yang lain di ******** dengan judul Gairah Cinta Duda Tampan. Semoga suka, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih, salam sayang dari saya
__ADS_1