
"Kakak mau masak apa?" Ria mencoba mengalihkan percakapan mereka, "eh, bentar Ria ganti baju dulu habis itu bantuin kakak," ujar Ria yang langsung berlari kecil menuju kamarnya.
Rara menggeleng gemas melihat tingkah adiknya, "ssshhh," Rara memegang kepalanya setelah meletakkan pisau, rasa sakit itu datang kembali.
"Kamu itu sebagai kakak harus bisa mengayomi adikmu, dan harusnya kamu itu nurut dan memberikan apapun yang kamu punya sama aku. Ingat aku adikmu!" Rara merosot kelantai, entah kenapa tiba tiba Rara seperti pernah mendengar kalimat tersebut.
Rara menutup kedua telinganya dengan kedua lengaannya, sedang telapak tangannya memegang kepalanya yang berdenyut.
"Kak!!! Kak Rara kenapa?!!" Ria yang baru berganti pakaian melihat Rara seperti itu menjadi cemas lalu ikut berjongkok dan menarik kakak kedalam pelukannya, segera Rara mendorong Ria hingga jatuh terjelembab, "aaarrgghhhh, sakkiitttttt!!!!" Rara berteriak dan memukuli kepalanya.
Ria bingung harus melakukan apa, ayahnya belum juga pulang entah di mana dia sekarang. Ini juga yang Ria tidak suka dari ayahnya, selalu pergi bersenang senang saat sedang punya uang lebih. Kakaknya selama ini tidak tahu jika ayahnya suka berjudi, Ria pernah memergoki ayahnya sedang bertaruh. Dan saat Ria menegur ayahnya malah mengancam akan menjadikan dia taruhan, oleh karena itu dia lebih memilih diam.
"Ayah, ayah di mana??!!" erang Ria frustasi. Tiba tiba Ria ingat Mas Seno dan kemudian berniat menghubungi pria itu, "tunggu dulu ya kak, Ria cari pertolongan," Ria segera kekamar dan mencari keberadaan ponselnya.
Setelah ketemu, Ria segera mencari nama 'Mas Seno' lalu menekan tombol telepon. Cukup berdering dua kali hingga terdengar, "ya halo, ada apa?" Ria menggigiti kukunya, kebiasaan yang sama dengan Ara.
"M-m-mas, tolong... Kak Rara kesakitan, dia berteriak teriak terus dari tadi," Ria keluar kamar agar Seno percaya dan bisa mendengar kakaknya berteriak, saat menuju ke dapur dia tidak mendapati kakaknya di sana.
"Kak Rara!!!!" Ria berteriak memanggil nama kakaknya, "kak Raraaaaaaa!!!" Ria kembali berteriak, akan tetapi tidak ada jawaban juga.
"Bentar mas, kak Rara tadi di dapur. Tapi sekarang nggak ada," Ria kembali menempelkan ponselnya pada indera pendengarannya yang tadi sempat dia jauhkan saat berteriak memanggil kakaknya.
"Ngga ada gimana maksudnya?" terdengar nada cemas di pertanyaan Mas Seno. Ria menggigit kuku kukunya sambil terus mencari keberadaan Rara, kakaknya. Dan akhirnya kakinya seakan di arahkan melangkah kekamar kakaknya.
Pintu kamar itu terbuka, dan Ria segera masuk. Di lihatnya Rara sedang menunduk dan memeluk lututnya, "kak," Ria segera berlari kearah kakaknya. Rara mendongak mendengar ada yang memanggilnya.
__ADS_1
"Mas, kak Rara di kamar. Tolong kirim dokter agar bisa memeriksa kak Rara, aku nggak tega melihat dia begini," ucap Ria pada mas Seno di seberang sana dengan nada memelas.
"Ya," hanya kata itu yang Ria dengar dan sambungan telepon itu terputus.
"Kakak kenapa?" tiba tiba netra Ria memanas, gadis itu ikut berselonjor di samping kakaknya. "Beberapa bulan ini kakak sering ngeluh sakit, kakak udah periksa?" Rara memiringkan kepalanya menatap sang adik lalu mengangguk.
Ria menghela nafas, "apa kata dokter?" tanya Ria ingin tahu. Ria bukan Rara yang yang tidak peka akan rasa sakit yang orang derita. Ria dulu tahu sebenarnya ayahnya sakit apa, namun dia enggan menolongnya lagi lagi karena rasa kesalnya akan perkataan ayahnya saat dia masih kecil yang mengatakan "jangan mencampuri urusan ayah, urus saja urusanmu. Kalau bisa kamu sekolah yang bener biar nanti bisa kerja menghasilkan uang yang banyak. Kasih deh ke ayah," ucap ayahnya dengan enteng waktu itu.
Dan mulai saat itu Ria hanya mau menuruti Rara, baginya Rara adalah sosok kakak yang bisa menjadi ibu, ayah dan kakak perempuan bagi dirinya.
"Kakak tidak apa apa, hanya lelah. Tadi udah minum vitamin kok dan sekarang udah baikan," Rara tersenyum pada Ria, Rara berdiri lalu mengibas ngibaskan celananya.
"Yuk, katanya mau bantuin kakak masak," Rara kembali ceria dan tersenyum hangat, Ria mengangguk walau dalam hati dia masih penasaran, sakit apa yang sedang dinderita kakaknya itu. Netra cokelat Ria melirik di nakas kakaknya ada botol obat, ya dia harus mengambil obat itu dan bertanya pada dokter tapi saat ini belum tepat. Jika dia mengambilnya sekarang pasti kakaknya curiga, atau jangan jangan mas Seno atau om Reno tahu dan menyembunyikan penyakit kakaknya?
"Iya ayo," Ria mengalungkan tangannya di bahu Rara menuju dapur, di sana mereka memasak di selingi dengan sendau gurau.
"Sebentar, ayah ganti baju dulu," pamit ayahnya, Rara mengangguk dan kemudian ayahnya berlalu ke kamar. Perasaan Ria tidak enak, akhirnya dia membuntuti ayahnya kekamar, dan benar saja di kamar ayahnya sedang menelpon seseorang entah siapa. Intinya menyuruh anaknya datang kesini karena Rara memasak yang banyak dan enak enak.
Geram sekali Ria mendengar perkataan ayahnya, senyum jahat terukir di bibirnya. Segera Ria mengetik pesan pada seseorang agar dia kesini, terkirim.
"Kak Rara itu pacar Om Reno, dan mas Seno udah suruh aku jadi mata mata dan ngasih tahu apapun ke dia dan bayarannya tidak sedikit. Ya hitung hitung menjaga kakak lah sambil di bayarlah, tambahan buat jajan," ucapnya lalu terkekeh, kemudian Ria kembali ke ruang makan dan duduk di sana.
"Kak," panggil Ria pada kakaknya, ekor matanya melirik kehadiran ayahnya, Rara menoleh dan tersenyum sebagai jawaban.
"Pacar kakak, Mas Reno kapan nglamar kakak? Buruan lah di resmikan," goda Ria, ayahnya menatap tidak suka pada Ria. Akan tetapi Ria berpura pura tidak melihat.
__ADS_1
"Tadi dia udah ngelamar kakak secara pribadi," jawab Rara malu malu, "lalu kakak jawab apa?" Ria tiba tiba antusias dengan jawaban kakaknya.
"Ya kakak terima," jawabnya masih malu malu, "kok Rara nggak tanya ayah dulu?" Rara terkejut ayahnya bertanya dengan suara meninggi, tidak biasanya seperti ini.
"Kamu ingat, kamu sudah ayah jodohkan dengan Fandi, atau Dion yang usianya masih muda," geram ayahnya. Ria dan Rara tidak mengerti kenapa ayahnya seperti itu, Ria yang tidak pernah berpikiran postif pada ayahnya menduga duga yang tidak tidak.
"" Sudah Rara bilang, Yah. Rara sudah punya pacar, dan kini dia melamar Rara. " jawab Rara terdengar lembut. Setelah beberapa bulan mengenal mereka, Rara merasa Kak Fandi terlalu sholeh dan dia tidak pantas mendampingi pria seperti itu, sedang bersama Dion, Rara merasa pria itu temperamen. Dan Rara tidak suka itu, dan entah kenapa perasaannya pada Fajar tiba tiba seperti terkikis, yang tersisa hanya ingin menjadi teman.
Sedang saat bersama Reno, perasaannya menjadi nyaman dan seperti sering berbicara padanya, atau istilahnya sudah kenal sejak lama. Pria tua yang dingin dan cuek bersama orang lain namun menjadi hangat dan perhatian padanya, mau melakukan segala perintahnya dan permintaannya yang kadang Rara sengaja persulit, namun dia lakukan seperti layaknya budaknya Rara.
Pintu di ketuk dan Ria berjalan membukakan, Ria membuang nafas berat kala melihat dua pria yang di jodohkan ayahnya dengan kakaknya.
"Masuk, Kak," titahnya, kedua pemuda itu mengangguk dan segera masuk setelah Ria membuka lebar pintu itu, bukannya segera masuk Ria malah keluar menunggu seseorang.
Senyumnya merekah kala melihat mobil hitam datang dan terparkir di depan rumahnya.
"Ayo, segera masuk saja. Mereka sudah di dalam," kata Ria yang membuat pria itu mengernyit bingung, "mereka?" ulang pria itu.
"Iya, Mas Reno. Pacar kak Rara, di dalam sudah ada kak Fandi sama kak Dion. Buruan masuk nanti mereka rebutan duduk jejer kakak lho," Reno memutar bola malas, adik kekasihnya ini mulai berani mengejeknya.
Lalu keduanya masuk dan segera ke ruang makan, "Mas Reno," Rara yang melihat kehadiran pacarnya atau yang kini berganti status menjadi calon suaminya tersenyum.
Ria merasakan hawa di ruangan tersebut menjadi mencekam, tatapan sengit dan persaingan kedua pemuda dan pria di sampingnya ketara.
Tapi dia tetap memihak pada Om Reno, entah kenapa hati kecilnya mengatakan kakaknya akan bahagia bila bersama pria, "duduk," tawar Ria pada calon kakak iparnya. Reno mengangguk lalu melangkah menuju kursi di mana Rara berada.
__ADS_1
Netranya menyipit kala mendapati kursi itu tinggal satu, Reno mengambil piring di depan Rara dan mengambil nasi dan lauk. Mengambil mangkok untuk sayurnya, "kita kesana," ujar Reno pada Rara sambil menunjuk ruang tamu. Rara mengangguk dan berdiri, belum sempat melangkah ayahnya bersuara.
"Kalau mau makan di sini," Reno menoleh dan menatap tajam ayah Rara, Ria hanya menonton adegan itu. Ingin tahu siapa yang berkuasa akan kakaknya.