
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pintu di ketuk dan terdengar salam, Rara yang sedang duduk di sofa menoleh kearah pintu dan melempar senyum kala Om Ridwan masuk di belakangnya ada Kak Fandi yang mengikuti.
"Bukannya ayah minta di temaninya besok ya, Om?" Rara ingat tadi ayahnya meminta Om Ridwan menemani dirinya besok, bukan sekarang.
"Memang nggak boleh om kesini?" Rara terkekeh mendengar nada merajuk dari Om Ridwan, "bukan begitu, Om. Maksud Rara...." ucapan Rara terjeda.
"Belum berangkat, Ra?" Kak Fandi duduk di sebelah Rara, sedang Om Ridwan duduk di kursi dekat ayahnya.
"Bentar lagi kok, Kak," jawab Rara yang kemudian menyimpan ponselnya di meja. Rara melirik plastik yang di bawa Kak Fandi dan di letakkan di meja.
"Ini buat kamu sarapan," kata kak Fandi seakan mengerti pertanyaan yang ingin Rara tanyakan.
"Buat Rara?" tanya Rara sambil menunjuk dirinya sendiri, Kak Fandi mengangguk lalu meraih dan menyerahkan tas plastik yang katanya berisi sarapan.
"Terima kasih, Kak." lagi, Fandi mengangguk seraya mengusap kepala Rara, hati Rara menghangat mendapat perlakuan seperti ini.
Tidak Fajar, tidak Kak Fandi suka sekali membuatnya salah tingkah hanya dengan usapan di kepala. Jika ayahnya pernah berkata, orang mengusap atau membelai kepala mu berarti orang itu sayang padamu. Nah, kini ada dua orang yang melakukan itu selain ayahnya. Itu berarti apa?
"Kak Fandi sama Om Ridwan sudah sarapan?" Rara memandang Kak Fandi dan Om Ridwan bergantian, sedang tangannya sibuk membuka sterofom yang berisi nasi uduk. Keduanya mengangguk kompak, Rara hanya menjawab dengan kata 'o' tanpa suara.
Rara segera memakan nasi uduk yang di bawakan Kak Fandi, enak sekali rasanya, pikir Rara. Mungkin kedua orang itu sedang memandang heran akan sikap santai Rara saat makan, begitu lahap tanpa rasa sungkan.
Rara tiba-tiba cegukan, dengan sigap Kak Fandi berdiri dan setengah berlari menuju pojokan yang terdapat dispenser. Kak Fandi mengambil gelas plastik yang tersedia dan memencet tombol hijau agar air dingin yang keluar, setelah itu memberikan pada Rara. Dan Rara menerimanya lalu meneguknya hingga tandas.
"C'k, makanya kalau makan pelan-pelan, nggak usah ngebut," tegur Kak Fandi dengan nada cemas, Rara mengelus dada dan sedikit mengurutnya. Kebiasaan Rara jika makan terlalu cepat pasti cegukan, jika tidak segera diberi minum bisa lama sembuhnya, sekitar lima menit. Dan itu sungguh menyiksa.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak." Rara merasa bersalah, membuat orang lain kerepotan. Kak Fandi membalas dengan mengacak rambut Rara, membuat rambut Rara berantakan lalu terkekeh.
"Astaga, gawat!" pekik Rara yang tiba-tiba melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.15, Kak Fandi, Om Ridwan dan ayah Rara ikut terkejut.
"Ada apa, Ra?" tanya mereka bersamaan, seketika Rara menoleh kearah ayah dan Om Ridwan, lalu beralih ke Kak Fandi. Menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"He he he, maaf bikin kaget. Yah, Rara pergi sekarang ya." Rara beranjak membereskan bekas sarapan nya, lalu berdiri meraih tas ranselnya lalu memasukkan ponsel kedalam tasnya.
"Mau kemana?" Kak Fandi refleks menarik tangan Rara, membuat Rara berhenti seketika.
"Umm, Rara mau berangkat kerja," jawabnya sambil melirik sang ayah dan Om Ridwan yang tengah menatap mereka.
"Biar di anter nak Fandi, Ra," titah ayahnya, "tapi, Yah...." ucapan Rara terputus dan semua menoleh kearah pintu yang baru saja diketuk dan di buka.
"Mau berangkat, Ra?" Fajar yang baru saja masuk bertanya pada Rara, kemudian mengedarkan pandangan lalu melangkah maju kearah ayah Rara dan mengambil tangannya kemudian mencium takzim.
"Mau berangkat, Ra?" Fajar mengulang pertanyaan nya karena belum di jawab, "iya," jawab Rara sambil mengangguk.
"Ya, sudah yuk, bareng. Kan kita satu kerjaan," terlihat wajah Fajar memerah, seperti yang menahan sesuatu entah apa Rara tidak tahu.
"Biar Rara saya yang antar," Kak Fandi berdiri dengan masih memegang tangan Rara, Fajar mendengus pelan.
"Biar bareng gue aja, kami satu arah, satu tempat kerja juga!" ketus Fajar, Rara mengerutkan kening heran, tidak biasanya Fajar seperti itu.
"Tapi dia calon istri saya, jadi saya lebih berhak!" sahut Kak Fandi tidak kalah ketus, saat Rara ingin menyugar rambutnya yang sengaja dia gerai, Rara terkejut tangannya di genggam Kak Fandi. Segera Rara menarik tangannya dan membuat Kak Fandi terkejut.
__ADS_1
"Kak Fandi, Fajar, Rara berangkat sendiri aja, nggak usah di anter," kata Rara merasa tidak enak, serba salah dirinya
"Tidak bisa!!" jawab Kak Fandi dan Fajar bersamaan, Rara menggaruk kepalanya bingung.
"Ya sudah, kalian berboncengan saja, biar Rara naik motor Fajar!" putus Rara menunjuk kak Fandi dan Fajar bergantian. Rara tahu Fajar pasti membawa motor maticnya, beruntung dia bisa menaiki motor tersebut.
"Mana kunci nya?" Rara maju dan menengadahkan tangannya, Rara melotot saat Fajar tak kunjung memberikan kunci nya. Rara tersenyum kala Fajar menyerahkan kunci motornya pada Rara, sedang Fajar menekuk wajah tampannya.
"Yah, Om, Rara berangkat dulu ya," Rara berpamitan setelah mencium takzim tangan kedua pria dewasa tersebut, kemudian melangkah keluar diikuti dua orang tampan di belakangnya.
"Kenapa gue harus boncengan sama dia sih, Ra?" protes Fajar yang sudah mensejajari langkah Rara, "gue pengen nya boncengin elu kaya kemarin tahu!" gumam Fajar seperti anak kecil, Rara berpura-pura tidak mendengar.
"Kemarin kalian jalan bareng? Ra, kan kamu tahu kamu itu...." Rara menutup kedua telinga nya lalu berhenti. Lelah mendengar orang berdebat.
"Kak, kemarin Rara dan Fajar cari makanan buat Ria, udah itu aja!" ketus Rara, kemudian memandang Fajar dan berkata, "kamu tahu jika aku mendengar kalian terus aku bisa terlambat dan gajiku kena potong, lalu gimana kalau aku kena SP!" pekik Rara kesal.
Setelah menghentakkan kakinya dan melangkah meninggalkan keduanya yang mematung, mungkin terkejut karena Rara marah. Di dalam perjalanan menuju parkiran Rara mendumel dan bergumam sendiri, pagi-pagi mood nya sudah rusak karena mendengar orang berebut ingin mengantarnya, padahal dia bisa berangkat sendiri.
Rara memindai sekitar mencari keberadaan motor Fajar, dan melangkah mendekat kala sudah melihat wujudnya. Rara membuang nafas berat kala melihat kedua orang yang sudah membuat hancur moodnya datang.
"Mau pulang dulu apa langsung ke tempat kerja?" tanya Kak Fandi, Fajar menoleh menatap tidak suka pada Kak Fandi.
"Mau pulang dulu, mau mandi dulu," jawab Rara yang sudah naik dan menyalakan mesin motor itu.
Kak Fandi melempar kunci kepada Fajar seraya berkata, "Lu yang depan bro!" Fajar hendak protes namun akhirnya menurut karena motor yang di tumpangi Rara sudah keluar area parkir.
__ADS_1
Baru kali ini bikin bab panjang, semoga suka. Maaf kalau ceritanya muter-muter,