
Rara mendongak, wanita tua yang memegang pundak Rara tadi tersenyum gembira, "akhirnya kamu pulang juga, Ara," kata nenek nenek itu dengan sendu. Rara berdiri menatap wanita tua di depannya, melihat penampilannya dari atas sampai bawah. Wajahnya sangat mirip dengan sang bunda, memakai kebaya dan rambutnya yang putih dicepol asal.
"Nenek mengenalku?" seperti melontarkan pertanyaan bodoh pikir Rara, bukankah tadi nenek itu memanggil dirinya dengan Ara, seperti yang Reno, Oma dan Opanya sering sebut dan dia dengar.
"Kenapa nenek tidak mengenali cucu nenek sendiri, hmm," netra nenek itu berkaca kaca, "kamu tahu, nenek sudah lama menunggu kalian pulang semenjak ayah sambungmu mengatakan akan mengobati lukamu," ujar nenek itu sambil menepuk lengan Rara.
"Kita kerumah nenek saja ya, Ra?" Reno mempersilahkan nenek dan Rara berjalan dahulu, namun Rara masih mematung tidak mengerti dengan semua ini, "nanti aku jelaskan," kata Reno seakan tahu pergulatan batin Rara, perempuan itu mengangguk dan mengikuti wanita tua yang mengaku sebagai nenek nya.
Tibalah mereka di sebuah rumah yang sepertinya baru di bangun, hanya ada beberapa tanaman hias di depan. Ketiga orang itu masuk kerumah nenek yang mengaku sebagai nenek Rara, Nenek itu masuk kedapur dan mengambilkan beberapa camilan dan minuman.
"Di minum dulu, Ra," titah nenek setelah meletakkan minuman dan camilan itu, "sebentar nenek mau ambil sesuatu," pamit nya yang langsung di angguki Reno dan Rara.
"Kok dia panggil aku Ara, kaya kamu manggil aku?" Rara berbisik, kemudian mencubit pinggang Reno dan membuat pria itu mengaduh namun tetap tertawa.
"Kenapa kau suka sekali mencuri kesempatan," gerutu Rara kesal, bukankah nya menjawab tadi Reno malah mengecup pipi Rara yang menggemaskan.
Reno dan Rara mendongak lalu melihat kearah pintu, tampak sosok wanita seusia bundanya dan ayahnya masuk.
"Ara, kamu masih hidup nak?" perempuan yang berusia sedikit muda dari bundanya langsung datang, duduk disampingnya dan memeluk Rara. Sedang pria itu menatap cuek kehadiran Rara dan Reno.
"Tante siapa?" tanya Rara kemudian setelah wanita itu melepaskan pelukan nya, "kamu sudah melupakan bulek?" tanya wanita itu tidak percaya. Rara menatap wajah wanita itu dengan seksama, ada garis wajah yang mencetak wajah bundanya di sana.
__ADS_1
"Sepertinya kecelakaan itu membuat Ara kita melupakan semuanya," suara ringkih nenek terdengar, wanita tua itu membawa kotak yang entah apa isinya. Kemudian Reno bergeser membiarkan nenek itu duduk di dekat Rara.
"Kamu mau tahu kotak ini isinya apa?" nenek bertanya seraya menepuk nepuk kotak yang terlihat sudah usang itu, Rara hendak mengangguk namun ragu. Tangan yang sudah ditumbuhi kulit keriput itu akhirnya membuka kotak itu, jantung Rara berdetak lebih kencang. Seakan akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Nenek itu mengeluarkan beberapa foto, dan meletakkan di pangkuan nya, sedang kotak itu dia letakkan di bawah kakinya.
"Ini ibumu," nenek menunjuk wanita yang Rara sangat hafal wajahnya, kemudian nenek mengambil foto lagi, "ini...." ucapan nenek menggantung. Netranya menatap wajah orang orang di ruangan itu dan yang terakhir menatap wajah Rara yang di penuhi beribu pertanyaan.
"Ini ayah kandungmu, dia sudah meninggal saat ibumu hamil tujuh bulan," ucap nenek, netra Rara menatap foto itu dan beralih pada pria yang sedang duduk di dekat pintu. Wajahnya sama dengan yang di foto.
"Aku bukan ayahmu, sudah dikatakan sama nenek mu bukan?" kata pria yang memiliki wajah sama persis dengan foto yang Rara pegang.
"Dia om kamu, suami bulik," wanita di samping Rara menjelaskan, Rara menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang terlihat seperti baru di ganti, jemari nya memijat ujung hidung dan pelipesnya bergantian.
"Bawa dia ke kamar," titahnya pada Reno, pria itu menurut dan berdiri lalu menuntut Rara menuju kamarnya. Samar samar Rara mendengar nenek itu menyalahkan dirinya sendiri.
"Mas, mereka siapa?" Rara menyandarkan kepalanya di dada Reno, pria itu memberikan kecupan kecil di kepala Rara. Saat ini mereka sudah di dalam kamar, dan duduk di atas tempat tidur yang berada di lantai.
"Mereka keluargamu, yang tadi nenekmu, ibu dari bundamu," Rara menarik kepalanya dan menatap tidak percaya pada perkataan Reno.
"Tapi kata ayah...." Rara meringis saat kepalanya seperti tertimpa beton, Reno menyentak nafas kasar lalu berdiri dan berlari keluar, saat masuk pria itu membawa air putih dan vitamin milik Rara. Lalu menyuruhnya meminum obat vitamin itu.
__ADS_1
"Kenapa ayah bohong," Rara terisak lalu berbaring dan meringkuk, ingatannya tentang dulu saat dia masih kecil melihat teman teman di sekitar bermain dengan nenek-nenek mereka melintas, "ayah apa aku tidak punya nenek? Aku juga ingin di sayang seperti mereka," keluh Rara kala itu sambil menunjuk di mana ada pemandangan seorang nenek dan cucu nya bermain. Sang ayah menjawab "kamu tidak perlu seorang nenek untuk hidup, dia hanya akan menyusahkan bila kamu besar. Sekarang kamu fokus cari uang dan bersekolah, ya," Rara kecil hanya mengangguk walau dalam hati masih ingin memiliki seorang nenek, namun dia juga takut membuat ayahnya marah jika dia menjawab tidak. Dan sampai sekarang Rara sangat patuh dan percaya dengan apa yang ayahnya katakan.
"Huhuhu, aku punya nenek. Ayah aku punya nenek, kenapa ayah berbohong" katanya sambil sesengukan, Reno yang tidak tega segera merengkuh wanita itu kedalam dekapannya.
"Sstt, diam ya," bujuk Reno sembari mengecup kepala Rara bagian belakang. Rara berbalik dan menatap Reno, "kau tahu dari dulu aku ingin punya nenek dan sekarang aku memiliki nya, huhuhu," seperti anak kecil Rara mengadu, Reno mengangguk dan kembali memeluk Rara.
"Kamu punya semuanya, Ra. Semuanya," kata Reno menghibur Ara-nya, 'tapi dengan tega ayah yang kau sayangi membuat seakan akan kau tidak punya keluarga, lihat kau punya nenek, bibi dan paman yang selalu merindukan dirimu.' namun itu hanya terucap di hati Reno.
"Eno, Ara ayo makan dulu," suara wanita yang tadi mengaku buleknya mengetuk pintu dan mengajak mereka makan.
"Ya, bulek, kami segera keluar" sahut Reno dengan suara lembut, Rara terperangah. Biasanya pria ini selalu kasar dan ketus dengan orang lain, dengan Oma nya juga, tapi kenapa dengan orang yang mengaku keluarganya pria ini bisa sopan? Sungguh Rara tidak mengerti dengan jalan pikiran orang ini.
"Kita makan dulu," Reno bangkit dan membenahi pakaian dan celananya, tidak sengaja Rara menangkap suatu pemandangan asing.
"Mas," Reno yang tadinya menunduk, lalu mendongak menatap wajah Rara, "ya," jawabnya. Rara menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal, netranya tidak bisa lepas dari sana.
"Itu apa?" tanyanya seraya menunjuk kearah yang dia lihat, Reno mengkerut kening penasaran.
"Yang mana?" pria itu malah celingukan, Rara kesal bukan main, "itu kamu nyembuyiin apa di celanamu," geram Rara sambil menunjuk lagi yang dia lihat.
Reno mengikuti arah telunjuk jari Rara, 'mampus' umpat Reno dalam hati, senjatanya berdiri saat memeluk Rara. Reaksinya terlalu cepat memang jika berdekatan dengan wanita itu, oleh karena itu dia segera melamarnya.
__ADS_1
"Kita makan yuk, udah di tungguin," Reno mengalihkan percakapan lalu berbalik memunggungi Rara. Terdengar perempuan itu mendengus kesal karena Reno tidak menjawab pertanyaan darinya.
Reno melihat wajah di tekuk saat perempuan itu melewatinya, "kamu akan melihat nya sendiri saat kita sudah resmi, Sayang," gumam Reno menghibur dirinya sendiri.