Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 32


__ADS_3

Pagi harinya, seperti biasa, Raditya yang tak kenal lelah terus mendekati dan mengantar jemput kemana pun Rea pergi. Seperti pagi ini, Raditya hendak mengantar Rea ke kampus. Namun, saat di jalan ada pengeroyokan.


"Kak Radit, berhenti dulu," Rea menepuk lengan tangan Raditya bagian kiri, karena kaget, akhirnya Raditya menginjak rem dan menimbulkan suara decitan karena pertemuan ban dengan aspal.


"Bantuin dia dulu, yuk," Rea langsung membuka seltbelt dan mendorong pintu mobil itu begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti secara benar.


"Rea," terlambat, Rea sudah turun dan berlari kearah di mana seorang pemuda di keroyok 10 orang.


"Hei, berhenti!!!" Rea berteriak sambil berlari, beberapa orang yang menyerang akhirnya berhenti dan menoleh, saling berpandangan lalu tersenyum pada Rea.


Kening Rea berkerut bingung, para berandal bertubuh tinggi besar, ada yang gemuk itu kembali menyerang. Rea berdecak kesal kemudian menendang mereka satu persatu, "udah ku bilang berhenti ya berhenti!!!" teriak kesal Rea karena ucapannya tidak di gubris.


"Jangan ikut campur, Nona," salah satu preman itu mendesis dan geram, tangannya memegang lehernya yang sakit karena kena tendangan Rea.


"Ck, bandel," Raditya yang berhasil menyusul Rea mengacak rambutnya, di luar dugaan para preman itu kembali menyerang, baku hantam pun tak terelakkan.

__ADS_1


Bugh, bruukk. Suara berat orang jatuh di belakang Rea.


"Kamu ngga papa?" Rea mendongak lalu mengangguk, tadi hampir saja Rea di pukul menggunakan balok.


Rea menoleh kearah orang yang masih tersungkur di tanah, sepertinya tendangan Raditya begitu keras.


Rangga yang tadi melihat Rea hampir celaka mengamuk, lelaki itu mengambil balok dan menghajar semua orang yang dekat dengan dirinya. Rea melihat ada seorang lelaki hendak menusuk Raditya, dengan sigap Rea menarik Raditya dan malah membuat lengan nya tergores.


"Aarrggh," rintihnya, Raditya dan Rangga yang terkejut segera mendatangi Rea yang mundur sambil memegang lengannya yang berdarah.


Preman yang tadi gagal menusuk Raditya wajahnya pias saat mendapati tatapan tajam dari lelaki pemilik manik mata berwarna hijau zamrud tersebut.


Bugh, bugh, bugh, Raditya membabi buta menghajar lelaki yang sebenarnya tubuhnya lebih besar darinya. Sedang Rangga mengambil sapu tangan yang selalu ada di tasnya, lalu mengikatnya agar darah yang keluar tidak bertambah banyak.


"Sakit?" Rangga bertanya dengan cemas, Rea tersenyum sambil menggeleng. Tapi itu semakin membuat hati Rangga hancur, dengan tatapan dingin Rangga mengedarkan pandangan. Seketika ia bangkit dan berjalan kearah mereka, mengambil balok dengan menyeretnya dan Rangga kembali menghajar mereka.

__ADS_1


Brugh, Rea kaget saat di depannya ada lelaki nya tadi menusuk lengannya sedang terkapar di hadapannya.


"Katakan, siapa dan motif apa yang membuat kalian menyerang dia?" Raditya sadar, sebenarnya orang orang itu mengincar Rangga dan karena mereka ikut campur dengan membantu maka mereka harus ikut terluka.


"Tolonggg!!!" suara perempuan berteriak dan mengalihkan perhatian Raditya yang telah menginjak leher preman itu.


"Jangan sakiti saya," suara memelas itu terdengar begitu menyayat, "Re," tegur Raditya yang melihat Rea bangkit dan hampir berjalan menuju kearah perempuan yang sedang di sandera.


"Lepaskan anak buahku, dan aku akan melepaskan gadis ini!!" sentak lelaki yang ternyata ketua preman tersebut, Rea yang tadi sempat maju lalu mundur lagi dan bergidik geli kala tak sengaja melihat lelaki itu menggesek gesekkan bagian depannya pada bongkahan bagian belakang milik gadis itu, dan tangannya yang tidak memegang senjata meremas salah satu gunung kembar gadis itu, parahnya gadis itu hanya diam dan terlihat seperti menikmati.


Walau Rea belum pernah melihat atau melakukan tapi dia sangat hafal ekpresi wajah seseorang, "kenapa?" Raditya sedikit menunduk dam berbisik di telinga Rea.


Karena kaget mendengar bisikan Raditya, refleks Rea mendongak lalu mendelik karena lagi lagi bibir mereka bertemu tanpa sengaja, sedang Raditya tersenyum lebar.


"Woi, malah pacaran. Lepaskan anak buahku, dan aku akan melepaskan gadis ini!!" ketua preman itu kembali mengertak, Rangga yang terlihat lelah karena telah bertarung dan menghajar beberapa preman, melangkah maju.

__ADS_1


Seringai muncul di sudut bibirnya, "wanita murahan," desis Rangga saat menatap perempuan yang tengah di sandera.


__ADS_2