Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 78


__ADS_3

"Hati hati," kata Reno, Ara mengangguk dan tersenyum pada Reno.


"Iya tenang saja, sudah ada mbak Siti yang akan menggantikanmu menjagaku," ucap Ara menenangkan Reno yang terlihat khawatir dan tidak rela jika dirinya pulang dan bertemu ayahnya.


Kini mereka sudah berada di pelataran rumah Ara, mereka berdua juga sudah menjemput mbak Siti untuk menemani Ara juga melindungi Ara dari sang ayah jika memiliki niat buruk, sekaligus membantu memecahkan masalah yang tengah terjadi.


"Mbak Siti," orang yang sedang berdiri di luar mobil karena ingin memberi waktu sang majikan memutar badan dan menatap Reno sejenak.


"Ya tuan," jawab mbak Siti, "jaga non Ara, jika ada yang mai macam macam dengan dia, hajar saja. Buat tangannya patah atau nyawanya melayang," mbak Siti mengangguk dan terlihat seraya berkata, "baik Tuan," Reno pun puas dan lega akan jawaban yang mbak Siti berikan, walau masih ada sedikit kecemasan namun akhirnya dia singkirkan.


"Ya sudah, kami masuk ya," pamit Ara yang sudah membuka pintu mobil tersebut, Ara kaget saat Reno menarik tangannya dan mendaratkan kecupan di keningnya, di matanya, di pipinya dan yang terakhir di bibirnya.


Pipi Ara merona, dan itu menambah kadar kegemasan pada Reno, "hati hati," sahutnya yang kemudian mengacak rambut Ara dengan sayang.


Ara dan mbak Siti berdiri bersisihan menatap kepergian mobil Reno yang semakin menjauh, "maaf mbak mungkin kedepannya saya akan merepotkan mbak Siti," Ara berkat dengan suara lembut, mbak Siti mengangguk.


"Sudah tugas saya nona," jawab mbak Siti, 'pantas tuan Reno begitu sayang non Ara, dia baik juga tulus,' gumam mbak Siti dalam hati.


"Oya mbak, ingat ya. Nanti jika di depan semua orang, mbak Siti panggil saya jangan pakai 'non', panggil nama saja," tutur Ara, walau merasa tak enak hati karena memanggil majikan dengan nama akhirnya mbak Siti hanya mengangguk.


"Baik mbak," Ara tersenyum mendengar jawaban sekaligus panggilan yang mbak Siti lontarkan.


"Begitu juga lebih baik, yuk masuk. Sudah malam," Ara menarik tangan mbak Siti masuk.

__ADS_1


"Lho, baru pulang, Ra?" Pak Gito yang keluar kamar karena mendengar pintu di buka bertanya, netranya menatap wanita yang sedang berdiri bersama putri sambungnya.


"Iya, Yah," jawab Ara, "banyak yang harus di kerjakan, dan ya ini mbak Siti. Dia karyawati Ara yang baru," ucap Ara mengenalkan mbak Siti pada ayahnya.


"Tadi muter muter dulu bantuin dia nyari kostan tapi ngga ketemu, akhirnya Ara tawarin nginep di sini dulu. Nggak papa 'kan, Yah?" Ara tersenyum meyakinkan kebohongan yang baru saja dia buat.


Dalam hati Ara berdoa, 'Bunda, Tuhan, maaf ya Ara bohong,' monolog Ara dalam hati.


"Oya, Ra. Kamu nggak bawa makanan, adikmu nggak pulang. Entah pergi kemana dia," gerutu pak Gito, Ara berpura pura kaget.


"Hah?" Ara menutup mulut dengan satu tangan, "maksudnya pergi, Yah?" tanya Ara masih berpura pura tidak tahu.


"Adikmu itu, semenjak dekat dengan asisten pria kaya itu. Menjadi tidak jelas, sering pulang malam, jika ayah menyuruhnya, dia selalu menolak dengan berbagai alasan." kata Pak Gito berbohong namun dia ucapkan dengan berapi api agar Ara yakin dan percaya, namun Ara yang sudah mengetahui kebenaran yang terjadi hanya bisa meremas ujung jaket yang dia kenakan.


"Maaf, ayah malah menjelek jelekkan adikmu. Itu semua karena asisten pria kaya itu. Bagaimana kalau kamu jauhi dia dan menikahlah dengan anak sahabat ayah?" Pak Gito masih keukeuh menjodohkan Ara dengan salah satu anak sahabatnya.


"Oya, tadi ayah belum makan 'kan? Ini tadi Ara sama mbak Siti mampir ke warung dan beli ini," Ara memutus percakapan yang seakan akan Reno dan Mas Seno yang salah, dan Ara tidak suka jika ada yang meng cap buruk calon suami dan sahabat calon suaminya yang sudah baik padanya.


Pak Gito menerima kantong plastik berwarna hitam itu lalu membukanya sedikit dan tersenyum, "terima kasih ya, Ra. Kamu memang anak yang baik dan pengertian, beruntung ayah mempunyai putri seperti kamu. Bukan seperti Ria adikmu," lagi-lagi Pak Gito menjelek jelekkan adiknya.


Karena Ara sudah tahu semua akhirnya dia mengangguk dan tersenyum kecil, jengah rasanya mendengar ayahnya yang selalu menilai orang dengan keburukan, padahal dia lebih buruk. Apalagi tentang adiknya yang dia sudah tahu dan kenal dari dulu dalam dan luar nya.


"Kami masuk dulu ya, Yah," pamit Ara sambil menggandeng mbak Siti masuk kedalam kamarnya, mbak Siti hanya mengangguk dan berkata, "permisi," yang langsung membuat pak Gito mengibaskan tangan pertanda menyuruh mereka segera masuk.

__ADS_1


"Dasar bodoh, mau maunya aku bohongin. Lagian kemana sih itu anak ngga tahu diri, bukan kah enak tinggal melayani para pria dan mendapatkan uang. Ini malah kabur dan membuat aku harus ganti rugi, tapi tidak apa. Nanti aku minta pada si Rara atau Ara bodoh itu," ucap Pak Gito pada dirinya sendiri, dan kemudian tertawa pelan kala membayangkan dia memegang uang banyak.


"Ndri, harusnya harta mu itu kau berikan saja padaku. Kenapa harus dengan membuat nyawamu melayang dan membuat wanita yang aku cinta menderita dengan melahirkan putri yang nggak berguna," Pak Gito berkata dengan nada gusar, kemudian membuka bungkusan yang tadi Ara berikan dan memakannya.


Pak Gito tidak tahu dan tidak sadar ada yang merekam perkataannya, "tuan, anda harus membayar saya mahal karena membantu non Ara." ucap mbak Siti lirih sambil terkekeh dan mendekap ponsel yang tadi dia gunakan untuk merekam.


Baik mbak Siti maupun para Asisten rumah tangga di rumah nyonya besar atau oma Reno yang lain tahu, jika sang cucu minta tolong pasti akan dan berani membayar dengan harga tinggi. Dan saat tadi kepala art bertanya, dengan segera mbak Siti mengusulkan diri. Kebetulan dirinya butuh uang untuk sekolah sang adik dan kebetulan ada pekerjaan yang tidak berat menurutnya.


"Maaf Pak," mbak Siti keluar setelah beberapa menit, dirinya tidak ingin membuat Pak Gito tahu jika dia sudah menguping.


"Astaga, bikin kaget saja!" ketus Pak Gito karena kaget dengan kemunculan mbak Siti, dalam hati Pak Gito berdoa semoga karyawati Ara tidak mendengar ucapan nya barusan.


"Hehehe, sekali lagi maaf pak. Saya mau ambil minum, di kamar mbak Ara persediaan air minumnya habis," kata mbak Siti sambil menunjuk kan teko yang biasa Ara gunakan dan bawa ke kamar kosong.


"Ambil saja itu," pak Gito menunjuk dispenser dengan dagunya, mbak Siti hanya mengangguk dan berjalan kearah dispenser dan mulai mengisi teko yang dia bawa.


'Wah, ternyata calon mertua tuan Reno sombong dan angkuh. Belum kaya saja sudah songong apalagi sudah kaya raya,' tanpa sadar mbak Siti yang bergumam dalam hati menggeleng.


"Kamu sedang memikirkan apa?" Pak Gito yang penasaran karena pegawai anaknya menggeleng geleng tidak jelas bertanya, mbak Siti yang di tanya mendongak dengan cepat.


"Eh, ngga papa pak. Sudah dulu ya, ini sudah penuh," mbak Siti menutup kran dispenser dan berjalan keluar dari dapur.


"Ck, aneh," gerutu Pak Gito karena mendengar jawaban dari mbak Siti yang menurutnya tak jelas.

__ADS_1


Ini sudah lebih panjang partnya dari kemarin, jangan lupa ya tinggalin jejak biar saya semangat updatenya. Terima kasih, sehat selalu


__ADS_2