Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 89


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah hampir seminggu Tuan Andri, ayah kandung Ara beringsut membaik keadaannya, dalam diam dirinya sering menangis kala pernah mendengar sang ibu mertua dan adik iparnya membicarakan anak dan istrinya.


"Bagaimana kita harus mengatakan jika Rara dan mbak Rani sudah tiada pada mas Andri, Bu. Dia pasti shock, apalagi tahu jika istrinya telah menikah dengan orang yang telah mencelakainya. Mas Andri pasti sedih sekali," ucap Rina, istri dari Indra atau adik iparnya.


"Kita akan mengatakan perlahan lahan, kita hubungi nak Eno saja. Dia pasti bahagia mendengar ayah Ara masih hidup," ucap nenek Ara mencoba menghibur putrinya. Mereka tidak tahu saat mereka berbicara, ayah kandung Ara mendengar.


Deg, Rani dan Rara anak ku sudah meninggal? gumam ayah kandung Ara, hatinya semakin sakit kala mengingat jika istrinya juga telah menikah dengan orang penyebab dirinya celaka.


'Eno? Siapa dia?' gumam Tuan Andri di dalam hati, tiba-tiba dia penasaran dengan sosok Eno yang sering ibu mertua dan adik iparnya bicarakan, dan kini dia ingin bertemu dengan Ara, putrinya.


Berbagai pertanyaan tersimpan di benaknya, itu yang dia jadikan pemicu agar dirinya cepat sembuh dan membalaskan dendam pada pria yang telah mencelakai dirinya.


Sayup sayup terdengar suara pria dewasa di luar kamar, Tuan Andri semakin mempertajam pendengarannya. Hingga pintu terbuka, nampaklah sosok pria dengan tubuh tegap berdiri di ambang pintu tengah menatap dirinya yang sedang berpura pura tidur.


Langkah kaki mendekat semakin jelas terdengar, ada rasa takut jika tiba tiba pria itu menyakiti dirinya kala dirinya belum pulih benar.


"Ara pasti bahagia melihat anda, Ayah," suara pria yang tengah menggenggam jemarinya membuat Tuan Andri tanpa sadar membuka mata, Reno tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa, dan siapa kau?!" tanya Tuan Andri dengan dingin, Reno melepas genggaman tangan itu karena Tuan Andri menepisnya. Reno tidak marah, pria itu mengambil ponsel dan mengulirnya hingga menemukan sesuatu yang dia cari.

__ADS_1


"Anda kenal dia?" Reno menunjukkan foto seorang perempuan yang sedang dia peluk dan tertawa lebar, sejenak tuan Andri melirik ekpresi wajah Reno.


"Aku tak mengenalnya!" ketus Tuan Andri, Reno sedikit kesal akan jawaban Tuan Andri.


"Dia ini Ara, putri anda sekaligus calon istri saya," Reno menghempaskan bobotnya ke kursi yang tidak jauh dari sana, tapi ponsel itu masih di pegang Tuan Andri.


"Dia, dia Ara?" tanya Tuan Andri tidak percaya, "ya, tapi sekarang dia dalam bahaya, jadi anda harus sembuh dan ikut saya menjaganya," Reno melempar senyum.


"Sudah bangun?" suara wanita yang baru masuk membuat kedua pria itu menoleh, "sudah nek, tadi ayah malah pura pura tidur," Reno terkekeh setelah berkata demikian sedang ibu mertua Tuan Andri tersenyum, membuat Tuan Andri kesal.


Dalam hati dari mana pemuda itu tahu aku sedang berpura pura tertidur, bukankah dia baru masuk?


"Ayah tahu, Ara mirip dengan anda jika sedang kesal. Ya seperti ini, selalu marah jika ada yang mengetahui rahasianya," Reno tertawa kecil sambil menggeleng.


'Sial, anak muda ini sangat mengenal Ara ku, apa benar dia calon suaminya,' gumam Tuan Andri dalam hati.


"Tapi maaf, Yah. Ara belum saya bawa kesini, tadi om Indra mendadak menelpon saya, sedang calon istri saya masih mengurus restonya," Reno berkata sambil menatap wajah calon ayah mertuanya.


Tuan Andri berusaha duduk, dengan sigap Reno bangkit dari duduknya dan membantu Tuan Andri duduk bersandar pada tembok, " terima kasih, " ucap Tuan Andri tulus, "kewajiban saya, Yah," jawab Reno yang membuat Tuan Andri tersenyum.

__ADS_1


Dering ponsel membuat Reno mengambil ponsel yang kini ada di atas kasur di samping Tuan Andri, terlihat senyum di bibir Reno.


"Ya, Sayang," sapa Reno pada si penelpon, seakan tahu apa yang ayah Ara pikir, Reno meloud speaker telepon tersebut.


"Kamu ngga ke resto buat makan siang?" tanya seorang perempuan dengan nada merajuk, Reno melirik calon mertuanya yang kini juga tengah melirik kearah dirinya.


"Kayaknya enggak, Ra. Aku tiba-tiba harus ke luar kota," jawab Reno sambil mengusap tengkuknya, tadi saat Om Indra menelepon dirinya, Reno segera bergegas ke kampung tempat kekasihnya lahir tanpa memberitahu Ara.


"Kok ngga ngabari?" terdengar ada nada kecewa di pertanyaan yang Ara lontarkan, Reno mengatupkan kedua bibirnya menahan rasa bersalah.


"Maaf, Sayang. Tapi ini mendadak, mungkin nanti sore aku sudah sampai di-" ucapan Reno menggantung.


"Terserah!" ketus Ara yang langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Reno menggeram frustasi, saat ingin menelepon kembali, Ara sepertinya sengaja merijek panggilan dari dirinya.


"Ara marah?" nenek Ara yang mendengar akhirnya bertanya, Reno mengangguk pelan.


"Berapa usiamu?" ayah Ara bertanya setelah memindai penampilan Reno, terlihat lebih tua beberapa tahun dari putrinya yang dia perkirakan kini berusia 20 tahun.


"Saya, 36 tahun," jawab Reno, ayah Ara mencebik, "apa kamu tak terlalu tua buat anak saya?" nenek Ara ingin tertawa mendengar pertanyaan menantunya, apa dulu dia tak ingat jarak usia dirinya dengan Rani, gumam nenek Ara dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2