Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 41


__ADS_3

"Kenapa wajah Tuan Putri papa cemberut dan di tekuk begitu, hmm?" Reno memeluk leher Rea dari belakang, memberikan kecupan kecil di pelipis putri kesayangannya itu.


"Rea kesel aja, Pa. Tadi Rea ngga sengaja nabrak orang, ee cewek nya yang marah-marah, lebih sebelnya kak Radit ngaku ngaku jadi calon suami Rea," gadis itu mengadu, bukannya marah Reno tertawa kecil.


"Kamu tahu?" Reno melepas tangannya daru leher Rea, menjawil hidung mancung yang mirip dengan dirinya.


"Om dan tante Fernandes sudah meminta kamu jadi istri Radit," Reno mengingat kan, memang Rea mengingat, tapi waktu itu ia belum menjawab.


"Aish," kesal Rea sambil mengacak rambut panjangnya, "oya, Sayang. Rendra itu selama ini kemana saja, cerita ngga dia kemarin itu menghilang kemana?" entah kenapa tiba-tiba Reno ingat dengan pemuda itu.


"Kata dia ikut papa dan mamanya keluar negeri sih, Pa. Tapi di sini dia ada kakak perempuan juga, galak plus jutek," Rea berbisik di akhir kata, Reno tersenyum sambil mengacak poni putrinya.


"Bobok yuk, Papa ngantuk nih," Reno menutup mulut karena menguap, Rea mengangguk lalu keduanya berdiri dan berjalan bersisihan menaiki anak tangga.


Rea yang selalu manja pada ayahnya, mengelayut manja pada lengan kekar Reno, menempelkan kepalanya di lengan itu. Reno pun mengusap lembut kepala Rea dan sesekali mengecup.


"Selamat malam, Sayang," Reno menarik kepala Rea dan mendaratkan bibirnya di sana, "selamat malam juga, Papa," balas Rea sembari tersenyum.

__ADS_1


Keduanya pun masuk kamar dan tidur, merangkai mimpi sebagai bunga tidur.


***


Di tempat lain, Rangga yang sedang duduk di balkon kamar tersenyum samar. Mengingat gadis cantik yang galak dan judes tapi bisa manja pada keluarga nya. Dan terpenting, bisa membuat hari-harinya berwarna.


"Rea," gumamnya, tangan itu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya, membukanya dan mengulirnya sebentar dan tersenyum saat menemukan gambar Rea yang ia ambil secara diam-diam.


Ibu jarinya menelusuri wajah manis itu.


Rangga berdecak sebal saat kakak lelakinya duduk di sebelahnya, keduanya memandang langit yang telah berubah menjadi gelap dan banyak bintang bertaburan, bulan sabit menambah keindahan malam ini.


"Sorry udah buat loe benci gue, tapi ini demi kebaikan loe juga," kening Rangga mengkerut heran, pemuda itu menoleh menatap sang kakak.


"Maksud loe apa sih, ngga jelas," omel Rangga yang kemudian kembali memandang langit gelap.


"Loe tahu siapa Lili?" Ringgo tersenyum saat tidak mendengar jawaban dari mulut adiknya, itu berarti adiknya belum tahu.

__ADS_1


"Dia itu bukan perempuan bener, saat gue gituan ma dia, dia udah ngga perawan," Ringgo tersenyum lagi saat melihat ekpresi kaget dari wajah adiknya.


"Sebelum gue ndeketin dia, gue udah cari informasi tentang mereka. Dan sepertinya loe juga tahu kalau adiknya tak beda jauh dari kakak perempuannya," tanpa menoleh, Rangga mengangguk.


"Lila pernah tidur dengan teman gue," ucap Rangga yang hanya di balas senyum oleh Ringgo.


"Loe tahu, gue tadi ketemu ama cewek yang ada di hape loe. Emang dia galak dan cuek gitu?" kali ini Rangga menoleh dan menatap kesal pada kakak lelakinya.


"Dia tadi nabrak gue, dan Lili marah-marahin dia, tiba-tiba cowok bule datang ngaku ngaku kalau dia calon suaminya," ujar Ringgo yang di balas decakan oleh Rangga.


"Thu cowok memang suka ngaku-ngaku, tapi gue juga kudu ati-ati. Keluarga mereka udah saling merestui, dan terlihat tadi keluarga Rea santai," ujar Rangga.


Maaf ya bang Jungkok, kamu aku jadiin visual Daffa


M


__ADS_1


__ADS_2