Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 40


__ADS_3

Perdebatan berakhir dengan Fajar membawa Rara di jok belakangnya, dan Rania sendiri dengan motor maticnya. Fajar dan Rara mengiringi Rania sampai kerumah perempuan itu terlebih dahulu, setelah itu Fajar mengantar Rara ke Rumah Sakit.


Rara berpegangan pada jaket jeans yang Fajar kenakan, jujur hatinya dag dif dug berduaan dengan pria seperti ini.


"Eh," Rara terkejut saat Fajar mengambil tangannya dan meletakkan di atas perutnya, di tepuknya pelan punggung tangan Rara seraya berkata, "udah nggak ada Rania ini, jadi ngga usah malu."


Rara hanya diam tidak menyahut, dari tadi sebenarnya dia juga ingin berpegangan seperti ini, tapi dia malu. Ponselnya berdering, Rara menepuk pelan pundak Fajar setelah menarik tangan kanannya. Fajar pun menepi, Rara turun dan mengambil ponselnya, lalu tersenyum.


"Ya," jawab Rara begitu telepon tersambung.


"Kak Raraaaaaa!!!!!" suara cempreng terdengar memekakkan gendang telinga Rara, refleks tangan yang menggenggam ponsel menjauh dari telinganya, di usap-usapnya telinga yang langsung berdengung.


"Ria, kenapa teriak-teriak?" tanya Rara sabar, terdengar decakan kesal dari sana.


"Kak Rara buruan kesini, ayah ngrepotin mulu!" ketus Rara, Rara menatap Fajar yang juga tengah menatap dirinya.


"Iya, ini kakak baru perjalanan kesana, kamu malah telepon," sahut Rara pelan, menghadapi adiknya harus dengan extra kesabaran, pikirnya.

__ADS_1


"Ya sudah cepat, tapi...." Riana menjeda ucapannya, Rara mencebik.


"Iya, mau makan apa?" tanya Rara langsung, terdengar kekehan dari sana.


"Kak, kalau nasi padang ada, Ria mau kok, hihihih," ucap Riana dari seberang lalu terkikih.


"Kalau nggak ada nasi goreng juga nggak papa, Kak," tambah Riana lagi, Rara mengangguk mengerti.


"Ya sudah, kakak carikan dulu. Sekarang kamu jaga ayah," titah Rara, lagi Ria terkekeh.


"Jangan lupa minum nya es jeruk ya, Kak," telepon langsung di matikan sepihak, Rara mendegus kesal pada tingkah adiknya.


"Ria?" tanya Fajar begitu Rara sampai di depan motor Fajar, perempuan itu mengangguk.


"Tahu tempat penjual nasi Padang atau nasi goreng yang enak plus murah nggak?" tanya Rara sambil menatap manik mata Fajar, warnanya hitam, tetapi tidak pekat.


"Naik dulu aku anter kesana," Rara mengangguk patuh kemudian duduk di jok belakang, motor yang mereka tumpangi melewati Rumah Makan Padang, di depannya ada penjual nasi goreng.

__ADS_1


Fajar memberhentikan motornya agak jauh dari Rumah Makan Padang itu dan penjual nasi goreng, kepala Fajar menoleh menatap Rara yang sedang menatap depan.


"Mau yang mana, Padang atau nasi goreng?" tawar Fajar, Rara menggaruk alisnya bingung.


"Ya udah beli dua duanya aja," jawab Rara akhirnya, Fajar mengangguk dan memutar motornya menuju penjual nasi goreng, meminta Rara turun dan menunggu di dalam.


"Lauknya mau apa?" Rara bingung dengan pertanyaan Fajar, bukankah nasi goreng ini sudah ada telur dan kerupuknya, kenapa masih bertanya.


"Ra, nasi Padang nya mau lauk apa, biar aku yang kr seberang. Kamu nunggu di sini aja?" Rara tersenyum lalu menjawab, "telur goreng aja, di kasih sambel hijau," Fajar mengangguk lalu setengah berlari menuju seberang, di mana Rumah Makan Padang berada.


"Duduk dulu, Mbak," seorang pria muda menyodorkan kursi plastik pada Rara, Rara menerima lalu mengucapkan terima kasih.


"Itu pacarnya, Mbak?" tanya bapak si penjual nasi goreng, tangannya sibuk mengaduk sayur dan capcay. Rara bingung harus menjawab apa.


"Kalau pacarnya, di jaga baik-baik mbak, dan berarti mbak nya termasuk cewek beruntung. Jarang ada cowok mau ke Rumah Makan kaya gitu," timpal mas-mas yang tadi menyodorkan kursi plastik pada Rara.


Si mas itu menyiapkan piring, dan si bapak menuang capcay kuah itu ke piring. Lalu di beri acar, Rara tiba-tiba mengelap sudut bibirnya. Pemandangan di depannya benar-benar menggoda nafsu makannya.

__ADS_1


Selamat membaca kawan, terima kasih masih setia membaca karya recehku. Tidak henti-hentinya mengingat kan, jaga kesehatan dan semoga puasanya lancar.


__ADS_2