Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 18


__ADS_3

Rara melangkah masuk dan mematikan televisi tersebut, bibirnya mengulas senyum saat melihat ada beberapa kertas dan map yang bertulisan nama suatu perusahaan, ternyata adiknya sedang membuat lamaran pekeerjaan.


Setelah mematikan televisi, Rara membereskan kamar adiknya, Rara geleng-geleng tidak habis pikir. Adiknya ini cewek tapi begitu jorok, membersihkan kamar saja harus Rara mengomel dulu, kalau sedang tidak lelah biasanya Rara sendiri yang membereskan kamar adiknya.


Rara jadi berfikir membuka jasa pacar sewaan, siapa tahu hasil uang yang dia dapat bisa buat dia tabung. Berjaga-jaga jika ada keperluan, tapi jika jadi pacar sewaan harus siap mental, harus siap lahir dan batin apalagi menghadapi wanita seperti Cila. Rara mendesah kesal, jika mengingat wanita menjengkelkan itu.


"Lho, kak kok udah pulang? Ayah yang nungguin siapa?" adik Rara tiba-tiba terbangun karena Rara tadi tidak sengaja memukul meja dan mungkin karena berisik adiknya bangun.


"Ini kakak mau kesana, kakak baru pulang kerja," Rara berjongkok di depan sang adik, "ini ada makanan, kalau kamu mau kamu makan aja. Kakak udah tadi," ujar Rara seraya mengangsurkan tas kain yang diberikan bibi Darmi tadi.


"Kakak dari mana?" adik Rara beringsut menyandarkan tubuhnya pada tembok, matanya menelisik penampilan Rara.


"Kakak?" tunjuk Rara pada dirinya sendiri, Ria adik Rara mengangguk.

__ADS_1


"Kakak kerja lah, memang dari mana?" Rara mengusap lembut kepala Ria, Ria nampak tidak percaya.


"Kakak masih di minimarket itu'kan?" Ria bertanya meyakinkan, "iya lah, memang kenapa?" Rara berdiri dan menatap heran adiknya.


"Sejak kapan minimarket itu seragamnya kaya gitu?" Rara melonggo, matanya memindai tubuhnya sendiri, 'bodoh kenapa bisa lupa,' umpat Rara dalam hati.


"Ow ini, ini pakaian temen kakak. Tadi ada acara, jadi kakak pinjem gaunnya. Ga mungkin dong kakak datang pakai seragam," bohong Rara.


"Ya, iyalah kan kakak pinjem," Rara juga bingung, kalau di kembali kan pasti om Reno tidak mau karena itu sudah diberikan padanya, jika tidak dikembalikan kan dia berkata pada Ria, adiknya, dia meminjam. Rara dilema.


"Bilang temen kakak kalau gaunnya hilang aja," ada senyum bahagia di bibir sang adik, Rara menyipitkan sebelah matanya tidak mengerti arah perkataan sang adik.


"C'k gini kalau punya kakak cantik tapi lemot," Ria mencubit dagu Rara.

__ADS_1


Ria menarik Rara agar duduk di kursi kayu yang di depannya ada meja, di sana tertumpuk buku-buku pelajaran milik Ria, meja itu tempat dia biasa belajar. Ria berjongkok didepan sang kakak, mengenggam tangannya dan menatap mata sang kakak.


"Begini kak, aku suka baju ini," Ria mengusap lembut gaun yang di kenakan Rara, Rara mengangguk dia tidak banyak bertanya, dan membiarkan adiknya menyelesaikan kalimatnya.


"Kakak bilang saja pada temen kakak kalau baju ini hilang, atau rusak," Ria menggigit bibir bawah, Ria pasti tahu kalau sesayang-sayangnya dia ke Ria, dia tidak akan mau berbohong. Padahal saat ini Rara berbohong dan Ria tidak tahu akan hal itu.


Rara menghela nafas, mulai paham arah perbincangan ini. Rara menangkup kedua pipi sang adik dan menatap nya lekat.


"Kamu mau baju ini?" Ria mengangguk antusias, Rara mengulas senyum melihat jawaban sang adik.


"Ya sudah, besok kamu cuci dan kamu pakai. Biar kakak bilang ke temen kakak, kalau harus mengangsur tidak apa-apa, asal kamu seneng," Ria seketika berdiri dan memeluk Rara.


"Terima kasih, Kak. Kakak memang kakak terbaik," Ria menghujani wajah Rara dengan kecupan karena bahagia.

__ADS_1


__ADS_2