Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 26


__ADS_3

"Mar, apa anakmu yang cantik itu sudah punya pacar?" tanya om Amat sambil melirik Rara, sedang Rara hanya menunduk dan mendengarkan.


"Sepertinya belum," jawab pak Amar yang membuat Rara hendak melotot dan protes, apa ayahnya lupa perjanjian kemarin yang hendak mempertemukan ayahnya dengan om Reno, pikir Rara.


Rara hanya bisa cemberut dan mendengus sebal, sedang Fandi yang mendengar terlihat tidak suka ada yang bertanya seperti itu. Terlihat dari tatapannya yang tajam.


"Bagaimana kalau kita jodohkan anakmu dengan anakku, kita bisa menjalin siraturahmi dengan berbesanan?" om Amat berkata seraya menatap dan tersenyum pada gadis yang berdiri di bagian ujung kaki sang ayah.


Di sofa sudah di pakai duduk om Ridwan dan Fandi, sebenarnya Rara bisa saja ikut duduk di sana, tapi perasaan tidak enak dan canggung mendominasi, jadi Rara memilih berdiri saja.


"Wah maaf, Mas...." Om Ridwan menyela ucapan om Amat, keempat orang yang berada di ruangan itu menoleh bersamaan kearah om Ridwan. Om Ridwan berdiri dan melangkah menuju tempat tidur di mana ayah Rara yang kinj dalam posisi duduk dan bersandar pada tembok.

__ADS_1


"Gito, bukankah kita sudah setuju akan menjodohkan Rara dan Fandi," ucap om Ridwan yang kemudian menatap Rara dan Fandi bergantian.


Rara bergerak tidak nyaman akan ucapan teman ayahnya, om Ridwan. Rara melirik Fandi yang tengah tersenyum kikuk dan sesekali melempar senyum pada Rara kala mereka tidak sengaja beradu pandang.


Ayah Rara terlihat bingung, kedua pria ini sahabat baiknya. Om Ridwan sahabat kala SMP sedang om Amat SMA, dan keduanya memiliki putra yang masih sendiri atau masih jomblo.


Rara yang sebal berpamitan hendak keluar, merasa aneh jika membicarakan perjodohan. Ini bukan zaman Siti Nurbaya yang harus di jodoh-jodohkan.


Rara hanya paham dan tahu jika sang ayah harus di operasi dan membutuhkan uang yang banyak untuk itu.


Dan sisanya untuk menyambung hidup dirinya, Ria adiknya dan sang ayah. Mungkin Tuhan kali ini sangat baik hati, benar-benar baik hati dengan mengirimkan om Reno untuk menjadikan dirinya pacar sewaan dengan bayaran yang tinggi.

__ADS_1


Dengan begitu beban untuk mencari uang operasi sang ayah sudah terlepas. Bekerja di minimarket dengan gaji kurang lebih satu setengah juta kadang dua juta kadang lebih jika lembur atau ada bonus, harus benar-benar dia irit dan dia bagi.


Membayar listrik bulanan yang tidak sampai lima puluh ribu sebulan itu cukup lumayan, karena di rumahnya tidak ada lemari es, hanya ada laptop Ria sang adik yang dulu sering dia gunakan untuk mengerjakan tugas online.


Membeli keperluan bulanan seperti sabun cuci sabun mandi, pasta gigi dan masih banyak lagi, itu harus benar-benar Rara stok. Untuk makan Rara sering masak nasi dan membeli sayuran matang jika waktunya mepet, jika jatah libur atau masuk siang dirinya memilih memasak, agar bisa di gunakan sampai sore


Ayah Rara bukan pegawai negeri, jadi tidak mungkin mendapat jatah pensiun dan keseharian sang ayah saat sehat setelah kepergian bunda Rara sekedar membantu tetangga, entah apa yang mereka suruh sang ayah akan lakukan asal dirinya sanggup dan demi mendapat uang untuk keseharian dan membantu Rara.


Ayah Rara memang perokok, beruntung tidak terlalu deras, dalam artian sehari hanya satu atau dua, itupun setelah makan. Dan ayah Rara selalu menyerahkan uang yang dia terima setelah membantu para tetangga, Rara pun menyimpan di kaleng bekas roti dan mengatakan jika sang ayah sewaktu-waktu butuh silahkan ambil.


Bersambung.

__ADS_1


Maaf up nya agak lama, terima kasih bagi yang masih mau dan setia membaca karya receh saya.


__ADS_2