
Setelah merasa baikan sehabis meminum vitamin, Ara hanya rebahan saja. Sedang Reno diam menatap wajah wanita yang dia cintai, tangannya tidak berhenti mengusap kepala Ara dengan sayang.
"Dulu, aku memanggil kamu dengan panggilan apa?" Ara bertanya dengan posisi mendongak karena Reno sedang duduk di samping dirinya.
"Kak Eno," jawab Reno, "trus umurku waktu pertama bertemu kamu berapa tahun?" Ara mencoba duduk dan Reno akhirnya membantu.
"7 tahunan seingatku, karena katamu dulu kau baru masuk Sekolah Dasar," ujar Reno menerangkan.
"Apa kau juga bertemu dengan saudari kembarku?" Reno mengangguk lalu mengecup kening Ara lama, "apa dia lebih cantik dari ku?" Reno menggeleng.
"Walau kalian kembar, aku sedikit bisa membedakan kalian," Ara mengernyit, "dari mana kau bisa membedakan kami?" tanya Ara penasaran.
"Kalau kau suka tersenyum dan ramah, kata orang orang kau mirip ayah kandung mu, sedang kembaranmu jarang tersenyum, mirip suami bulek," Reno berbisik di akhir kalimat. Ara terkekeh sambil menutup mulut.
"Mereka sudah tahu kau melamar aku?" Reno mengangguk, "sebelum aku melamarmu, aku minta pendapat mereka terlebih dahulu." kata Reno dengan disertai senyum.
"Dan mereka setuju?" lagi Reno mengangguk, "kok bisa?" tanya Ara penasaran.
"Karena aku membujuk mereka, aku bilang kalau aku sudah cinta mati pada gadis kecil yang memberikan aku kue," Reno tergelak setelah berkata demikian.
"Trus kenapa kau bisa yakin jika aku Ara, bukan Rara?" tanya Ara lagi, Reno memegang pundak Ara dan menatap dalam netra cokelat wanita di depannya itu.
"Saat pertama bersentuhan dengan mu, hati ku mengatakan kau milik ku," Ara mencoba mengingat kapan mereka bersentuhan.
"Sakit," keluh Ara karena Reno mencubit gemas hidungnya, "pasti lagi mikir kapan?" Ara mengangguk.
__ADS_1
"Di hari aku keluar dari mobil lalu menabrak kamu, ingat?" Ara mengangguk cepat dan tertawa, "apa segitu dalam kau mencintai aku," goda Ara.
"Menurutmu?" goda balik Reno, "jika aku tidak mencintai mu, aku akan menerima wanita yang disodorkan mama padaku lalu menikahinya. Akan tetapi aku sudah memastikan hatiku hanya untuk Ara seorang, jadi aku menolak mereka semua." kata Reno dengan mengerlingkan netranya nakal,
"Mengenai ayah... Apa kau juga tahu?" jemari Ara berputar putar pada dada bidang membuat Reno mengeram menahan sesuatu.
"Aku baru tahu saat om kamu juga turun tangan," Reno mengecup kepala Ara sebagai pelampiasan karena ulah polos wanita ini.
"Maksud nya gimana?" Ara merubah duduknya menjadi berhadapan dengan Reno.
Pria itu menarik nafas sejenak kemudian menarik tangan Ara dan menggenggam nya.
"Berjanjilah akan baik baik saja dan jangan membenci siapapun, termasuk bundamu," Ara terpaksa mengangguk. Dan mengalirlah cerita tentang pertemuan bunda Ara dengan ayah kandung Ara. Ayah Ara yang hanya seorang kuli bangunan namun berkulit putih tidak seperti kuli lainnya, sedang bunda Ara hanya tukang buruh cuci yang membantu ibunya atau nenek Ara menghasilkan uang. Berawal dari ayah Ara yang meminta tolong temannya mencarikan tenaga mencuci karena tidak ada waktu, dan akhirnya mereka bertemu. Melalui jasa mencuci dan gosok itu mereka akhirnya menikah karena saling mencintai.
Di usia pernikahan dua bulan, ayah kandung Ara harus pergi ke luar kota karena pekerjaan tersebut, dan berjanji akan pulang seminggu sekali. Dan saat bunda Ara mengandung dengan usia kandungan lima bulan, ayah sambung Ara datang dan menawarkan cinta. Bunda Ara dari awal tidak tergoda hingga suatu saat ayah Ara kecelakaan dan ayah sambung Ara kembali datang, entah bagaimana ceritanya mereka bersama dan akhirnya menikah.
Hingga beberapa waktu lalu Reno datang mencari rumah Ara dan bertemu dengan neneknya, dengan bantuan om Indra akhirnya mereka mengungkapkan kenyataan siapa dan apa pekerjaan ayah sambung Ara.
"Dari apa yang kau ceritakan tadi, apa ayah kandung ku bukan dari kalangan biasa?" tanya Ara ragu ragu, Reno mengangguk.
"Apa dulu aku dekat dengan ayah Gito?" tanya Ara lagi, "sepertinya tidak, lebih dekatan saudari kata nenek," jawab Reno seperti sedang berpikir.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Ara menggaruk hidungnya, Reno hanya mengangkat kedua alisnya tanda tidak mengerti.
"Hish, kan tadi dari cerita paman, ayah Gito suka judi," Ara menjeda ucapannya, Reno mengangguk menunggu wanita itu melanjutkan apa yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
"Bukannya mau berpikir negatif, mungkin nggak sih ayah mau kaya ngejual aku ke temannya dengan cara menikahkan aku dengan Kak Fandi atau Dion?" Reno menunduk takut untuk menjawab, karena apa yang gadis itu tanyakan memang benar.
"Jadi, apa yang aku pikir benar?" netra Ara berkaca kaca, "aku kurang bakti apa lagi sama ayah sih, aku dari kecil membantu bunda cari uang sedang ayah bekerja tidak pernah ngasih uang ke bunda. Hingga tega teganya dia njual aku," akhirnya tangis Ara meledak. Reno yang tidak tega menariknya kedalam dekapannya.
"Oleh karena itu aku mengajakmu menikah, agar kau lepas dari jerat ayahmu. Soal adikmu aku sudah minta tolong Seno, dia akan menjaga adikmu itu." tutur Reno lembut.
"Maksud kamu? Kamu nyuruh Mas Seno ndeketin Ria adikku?" tanya Ara dengan nada tidak suka, Reno berdecak, "bukan begitu," kilah Reno.
"Lalu?" cecar Ara kesal, Reno menarik nafas pelan lalu membuangnya perlahan, "dengar, aku menyuruh Seno menjaga adikmu bukan mendekati. Lagi pula Seno sudah punya tunangan," Reno menjelaskan, tidak mungkin dia mengatakan jika adiknya Ara pernah bercerita pada Seno jika dia akan di jual atau dijadikan bahan taruhan ayahnya.
Sesayang sayangnya dia pada ayahnya, Ara pasti tidak akan terima jika ada yang menyakiti adiknya. Apalagi menjadikan adiknya yang dia biayai sekolah mati matian agar lulus dengan nilai bagus dan berpendidikan malah di jadikan taruhan.
Mengingat itu Reno juga jadi kesal dengan pria tua itu, dia berharap Ara sedikit menjaga jarak dan paham sifat ayah sambungnya itu.
"Cuma itu?" Reno mengecup gemas bibir Ara, membuat wanita itu cemberut.
"Jadi, namaku Ara? Bukan Rara?" tanya Ara meyakinkan, Reno mengangguk, " ya sementara sampai kau belum ingat semua, jika ayahmu memanggil mu dengan Rara, tidak apa," ada sedikit rasa tidak nyaman saat Reno menyebut nama wanita lain.
"Lalu, jika ayah bertanya aku dari mana?" Ara memiringkan kepalanya menatap Reno, "aku akan bilang kau sedang surve tempat untuk membuka rumah makan baru di luar kota," tangan Reno membingkai wajah Ara.
"Kau tidak mau tidur?" Reno berharap Ara segera tidur agar dia bisa melakukan sesuatu yang kini tengah menyiksanya.
"Trus aku harus memanggil mu apa? Mas Reno apa Kak Eno, seperti saat aku kecil?" bukannya menjawab Ara malah bertanya.
"Aku ingin kau memanggil ku, Sayang. Bisa?" Ara diam sejenak lalu mengangguk pelan dan kemudian menunduk malu.
__ADS_1
"Tapi jika hanya berdua, jika banyak orang aku panggil Mas aja ya," Ara menggigit pelan bibir bawahnya, menahan malu.
"Terserah asal kau senang," sahut Reno yang kemudian mengecup pipi Ara.