
"Gimana, sekolahnya seru?" tanya Reno di dalam mobil, ayah dari Rea tersebut sengaja menjemput putrinya karena sudah tidak ada pekerjaan di kantornya.
"Guru gurunya baik, Pa. Tapi tadi Rea belum masuk ke kelas, baru lihat lihat keadaan dan suasana sekitar sekolah aja," gadis itu bercerita apa saja yang dia lihat dan dia lakukan. Reno mendengarkan juga mengangguk menanggapi ucapan putri tersayangnya.
"Sekarang mau makan di mana, mumpung papa kosong?" Reno mengusap lembut pucuk kepala Rea, gadis kecil itu meletakkan telunjuknya di dagu terlihat seperti sedang berpikir, Reno mencubit gemas hidung Rea yang langsung mendapat delikan dari gadis kecil itu seraya berkata, "papa kebiasaan deh," Reno semakin tertawa melihat ekpresi menggemaskan dari Rea.
"Makan di rumah makan mama saja, Pa," Reno segera mengangguk menanggapi permintaan sang buah hati, mobil yang Reno kemudikan akhirnya meluncur kearah resto di mana ada mbak Siti berjaga dan di tugaskan sebagai owner di sana.
Reno segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus, membuka seltbelt dan membantu putrinya membuka seltbelt juga. Reno turun terlebih dahulu kemudian menutup pintu dan berputar kearah pintu di mana Rea akan keluar, lalu membukakan pintu untuk putri tersayangnya.
__ADS_1
Anak dan ayah tersebut bergandengan tangan menuju dapur, senyum terukir di mulut kecil Rea, bayangan saat sang mama di dalam sana dan menyambut papanya dahulu dengan senyum terbayang. Semua papanya ia ceritakan agar putrinya mengenal sosok Ara, wanita yang telah ia cintai dan telah memberinya buah hati kembar dan sangat di sayangkan kembaran Rea menghilang.
"Tante Siti!!!" Rea berteriak kala sampai di depan pintu dan melihat sosok wanita yang telah menyayangi dirinya seperti menyayangi anaknya sendiri, semua orang menoleh termasuk mbak Siti yang tadi sedang sibuk menghitung uang kemarin yang lupa ia hitung.
"Dari mana?" tanya Mbak Siti yang kini telah memangku Rea sedang Reno duduk di pojok sambil menatap mobil dan kendaraan roda dua berlalu lalang yang terlihat dari kaca yang terpasang dan Mbak Siti menghujani kecupan pada wajah gadis kecil itu, wajah yang mengingatkan sosok wanita yang sudah ia anggap sebagai adik, wanita yang dengan berjuta kepolosan dan kebaikan hati sehingga banyak yang menyayangi dirinya dan selalu ingin menjaganya, akan tetapi Tuhan lebih menyayangi wanita itu dan memilih menjaga wanita yang ia sayangi sendiri.
"Tadi Rea mendaftar sekolah, Tan," jawab Rea antusias, "oya, bukannya Rea sudah sekolah di rumah," Mbak Siti menanggapi ocehan gadis kecil itu, bukannya menjawab Rea malah cemberut.
"Kenapa Rea nggak minta bunda Ria?" Mbak Siti berusaha tersenyum dan bertanya walau sesak menghimpit dadanya, "menu hari ini apa?" kedua wanita itu mendongak mendengar suara berat Reno.
__ADS_1
"Biasa, Tuan. Tapi kalau tuan sama Non Rea mau makan sesuatu bisa di masakkan koki," pandangan mbak Siti turun dan menatap gadis kecil yang sedang ia pangku.
"Saya seadanya saja, yang penting Rea," kata Reno sembari mengusap lembut kepala putrinya lalu berjalan menuju etalase yang menyediakan berbagai menu masakan, Reno tersenyum melihat masakan koki yang aslinya resep dari Ara. Walau bentuk, takaran dan bahan sama entah kenapa rasanya sangat berbeda, mungkin karena itu wanita yang ia cintai yang mengolahnya.
Reno mengambil piring kemudian menunduk karena celananya ditarik tarik oleh Rea, "ada apa, Sayang?" tanyanya.
"Papa mau makan pakai apa?" tanya gadis kecil itu, "daging ayam di masak rendang, kamu mau tuan putri?" tawar Reno yang di mana jari telunjuknya menunjuk kearah makanan yang ia maksud, dan pandangan Rea mengikuti gerakan tangan papanya.
"Pedes?" tanyanya sambil menelan ludah karena tergiur, Reno menggeleng, "manis seperti masakan mama," jawab Reno yang langsung membuat binar di mata Rea.
__ADS_1
"Papa ambil yang banyak, nanti makan berdua ya?" Rea mendongak dan memamerkan barisan gigi giginya yang berwarna putih dan rapi, "siap tuan putri," sahut Reno yang kemudian meletakkan tangannya di keningnya. Mbak Siti tersenyum melihat tingkah anak dan ayah tersebut
"Apa kabar kamu, kamu pasti bahagia melihat mereka." mbak Siti menatap bingkai foto di mana ada foto Ara dan dirinya, yang memang sengaja ia cetak dan selalu ia bawa dan ia letakkan di meja kala ia bekerja.