
Malam harinya, "Dit, aku minta uang," ujar Pak Gito, Dita melirik sebal pada kakaknya itu, selalu saja minta dan minta uang padanya. Sudah tahun lebih tapi kakaknya ini tidak mau mencari pekerjaan tetap, sekali bekerja uangnya habis untuk berjudi. Di suruh menikah dengan Tante Denok pun tak mau, capek dia sebenarnya, namun tak mungkin juga ia mengusirnya karena Dita bisa saja masuk penjara karena ulahnya yang telah menculik anak Reno.
Dan bodohnya Dita, harusnya dia tidak takut, bukankah dia juga bisa melaporkan kakaknya yang masih buronan. Tapi karena rasa bersalah dan takut akhirnya ia hanya diam dan menuruti sang kakak yang terus saja memeras dirinya.
"Dita, denger nggak. Aku minta uang!!" Pak Gito berteriak, dengan terpaksa Dita berdiri dan mengambil tas yang berada di lemari pakaian miliknya, membuka tas mahal itu dan mengambil beberapa lembar uang merah lalu menyodorkan pada kakaknya.
"Ini, uangku kian menipis. Kenapa kau tak menikah saja dengan Tante Denok itu, dia masih menunggu dirimu sampai saat ini!" ketus dan kesal Dita, "sstt, berisik," Pak Gito menempelkan jari telunjuknya di bibir Dita dan menyuruhnya diam.
"Cari uang yang banyak, nggak usah urus kehidupan kakakmu ini," katanya yang kemudian berlalu meninggalkan Dita yang menggeleng geleng tidak percaya ucapan kakaknya, "bagaimana aku tidak mengurus kehidupannya, sedang dirinya menumpang hidup padaku," cibir Dita.
Dita merogoh kartu nama yang lelaki tadi siang berikan, "lumayan, paling dia 15 menit sudah keluar, jadi tak perlu capek capek menyenangkan dirinya," gumam Dita yang kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, tangannya menekan satu persatu nomer yang tertera di sana, dan nada sambung pun terdengar.
"Halo," suara lelaki dari seberang menyapa indera pendengarannya, "ini aku, yang katanya kau suruh telepon," Dita bingung bagaimana harus berucap, biasanya para lelaki yang menghubungi dirinya dan dia memberi harga, ketemuan lalu deal dan terjadi jual beli.
"Oh, kau," kata lelaki itu terdengar mengejek, "kenapa baru menghubungi?" tanyanya langsung, Dita salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Tadi sibuk-"
"Sibuk melayani pelanggan lain?" tanyanya lagi dengan nada mengejek, kali ini tangan Dita mengepal. Dita berjanji ini adalah pertama dan terakhir dia melayani lelaki gila ini, walau dia ketagihan dan terus meneror dia tak akan perduli. Walau dia sering tidur dengan lelaki manapun dan mereka membayarnya, Dita tak pernah merasa tersinggung dengan nada bicara mereka karena mereka sopan dan butuh tubuhnya.
Memang lelaki ini membayar sedikit mahal dari lelaki lain, tapi Dita tidak suka cara dan nada bicara lelaki ini.
"Lihat saja, malam ini akan ku buat kau takluk dan terus memohon agar bisa memiliki diriku, setelah itu aku akan ganti mengejek bahkan merendahkan dirimu, wahai buncit," gumamnya yang kemudian tertawa.
"Apa kau sudah gila, kenapa kau tertawa sendiri, padahal aku tidak sedang melucu!" bentak lelaki dari seberang sana, Dita tersadar jika sambungan telepon itu masih terhubung.
"Sekarang, temui aku di hotel R, di sana ada asisten ku yang akan mengurus semua kebutuhanmu sebelum aku datang!" ketus lelaki itu, Dita mengangguk, "kau tuli!" lagi lelaki itu membentak Dita.
"Iya, saya akan kesana," jawabnya, dan hanya terdengar dengusan lalu sambungan telepon terputus sepihak, "sabar, Dit. Jika nggak butuh duit saat ini, aku juga ogah. Mending ngejar mantan suami perempuan kampung itu, pasti kaya raya dan penyayang," gumamnya yang kemudian bersiap siap menemui lelaki yang menyewa dirinya.
Di tempat lain, "papaaaaa!" Rea yang baru keluar dan turun dari mobil Nyonya Wijaya langsung berlari berteriak memanggil ayahnya, Reno yang berada di dalam kamarnya dan sedang memandang foto Ara segera meletakkan dan ikut berlari keluar kamar.
__ADS_1
"Sayangnya papa," Reno melangkah lebar menuruni tangga untuk menyongsong putrinya.
Mendekap dan mencium aroma wangi parfum khas anak kecil yang menjadi candunya, kemudian menatap gadis kecil pemilik mata amber seperti miliknya dan berambut sedikit ikal di ujung mirip Ara.
"Kenapa wajah tuan putri papa cemberut seperti ini, hmm?" tanya Reno saat melihat wajah putri kesayangannya memanyunkan bibir, mirip Ara kala marah atau protes akan suatu hal, tangan besar itu sembari menangkup kedua pipi menggemaskan lalu mendaratkan beribu kecupan di sana.
"Hish, Rea nggak bisa tidur di rumah Oma. Ayah Anton berisik mulu," adunya masih sambil mengerucutkan bibir kecilnya yang kemudian melirik lelaki seumuran papanya sedang mengandeng istrinya, Reno mendongak lalu menatap kesal sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Hei, tuan putri. Memang ayah ngelakuin apa?" tanya Anton seolah tak merasa bersalah, Rea memutar bola malas mendengar Ayah Anton-nya berkilah.
"Papa, Rea mau sekolah," katanya setelah mereka duduk di sofa di ruang tamu, "bukankah Rea sudah sekolah dengan memanggil guru ke rumah?" kening Reno mengernyit bingung, kemudian menatap Ria dan Anton yang saling senggol.
"Si Daffa sudah sekolah," kata Anton, "itu gue tahu,"
"Si Daffa nggak sekolah di rumah, Pa. Dia keluar dan punya banyak teman, Rea mau kaya Daffa yang banyak temennya," lirih Rea yang sedikit menyentil jiwa Reno.
__ADS_1
Reno memang membatasi pergerakan anaknya, ia tidak memperbolehkan Rea berhubungan dengan kalangan bawah atau yang menurut Reno tidak berguna, dalam arti Reno selalu menjaga Rea agar tidak mengenal dunia luar karena tidak ingin ada yang menyakiti putrinya tersebut. Rea hanya mengenal keluarga Ara, keluarga Anton dan keluarganya