Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 96


__ADS_3

Suara erangan dan rintihan manja menggema di sebuah kamar, bantal dan guling serta sprei yang berantakan dan tidak pada tempatnya menandakan betapa seru dan bergairahnya sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dan salah satunya di rasuki obat.


Setelah beberapa menit ada sesuatu yang hendak meledak dan keluar, Reno semakin mempercepat pergerakan pinggulnya dan Ara yang berada di bawah kendalinya menggeleng ke kanan dan ke kiri, pinggulnya ikut meliuk liuk mengikuti gerakan Reno.


"Aahh," Ara memejam dan menghempaskan tubuhnya setelah gelombang kenikmatan itu datang, dan membiarkan Reno menyelesaikan permainan nya yang sebentar lagi selesai.


"Araaaa," Reno mendesis sambil menumpahkan cairan kentalnya di dalam inti Ara, membiarkan benihnya tumbuh di dalam sana, setelah menumpahkan semua cairan itu, Reno ambruk di samping Ara.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Ra," bisik Reno yang diangguki oleh Ara, "maaf aku terpaksa melakukan ini," bisik Reno lagi.


Ara hanya diam dan masih memejamkan kedua matanya, tubuhnya terasa lelah dan sakit terutama di bawah sana. Reno tersenyum lalu menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka.


"Tidurlah," Reno menarik Ara ke dalam pelukan nya dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Ara. Setelah terdengar dengkuran halus dari bibir Ara, Reno menyunggingkan senyum bahagia.


Reno beringsut mundur dan menggantikan bantal asli sebagai lengan yang di pakai Ara tadi, memakai boxernya kembali lalu mengambil ponsel yang dia lemparkan ke atas sofa.


"Batalkan kerjasama dengan ayah pria brengsek itu, dia hampir saja mencelakai Ara ku," perintah Reno langsung pada Mas Seno yang menerima telepon darinya.


"Baik, ada lagi?" tanya Mas Seno dari seberang, Reno mengacak rambutnya gusar.


"Bagaimana keadaan calon istri loe?" Mas Seno terkekeh mendengar sahabatnya mencemaskan mbak Siti, kekasihnya.


"Dia baik baik saja, hanya ada beberapa pemuda yang babak belur karena mencoba menyentuh nya," walau terdengar santai namun Reno tahu sahabatnya itu tengah kesal.

__ADS_1


"Maaf, aku melibatkan dia." ucap Reno tulus, di sana Mas Seno menggeleng dan membalas, "kewajibannya menjaga Ara, dan dia senang bisa mengenal Ara. Siti menganggap Ara adiknya yang lugu dan polos sehingga harus dia jaga, tenang saja, kami akan menjaga Ara demi dirimu."


Reno menghapus airmata yang turun, hatinya benar benar tersentuh akan kebaikan dan ketulusan sepasang kekasih itu.


"Apa yang Anton lakukan pada bocah itu?" Reno ingat tadi sebelum membawa Ara pergi, Anton datang dan menghajar Dion. Mas Seno menceritakan semua yang tadi dia lihat dan dia dengar, tanpa sadar tangan Reno mengepal kuat lalu memukul tembok.


Tak masalah bagi Reno ada pria lain yang mencintai Ara, akan tetapi caranya untuk mendapatkan wanita itu yang tidak bisa di tolerir. Dan membatalkan kerja sama antara perusahaan miliknya dan milik Om Amar atau ayah Dion.


Mereka berbasa basi dan akhirnya Reno menutup sambungan telepon itu setelah berkata terima kasih dan jangan lupa apa yang tadi mereka bicarakan, dan Mas Seno mengiyakan permintaan sahabat terbaik nya itu.


Reno menatap keluar dan memandang langit malam hari yang terlihat dari jendela yang baru saja dia buka, ada perasaan senang dan sedih setelah melakukan hubungan yang seharusnya mereka belum lakukan. Dalam hati Reno mengumpat namun berterima kasih pada Dion yang sudah memberikan obat pada minuman Ara yang kini menyebabkan Ara menjadi miliknya seutuhnya.


Saat Reno menunduk pandangan matanya tertumbuk pada lantai basah yang berawal dari kamar mandi sampai di bawah tempat tidurnya, dan Reno yakin tempat tidur di belakang Ara basah. Mengingat kejadian tadi, Reno menggeleng dan tersenyum.


Masih di kafe, Ara yang berada di dekapan Reno terus saja gelisah. Dengan terpaksa Reno membopong Ara menuju mobilnya dan memasukkan gadis itu kesana, Ara terus berteriak kepanasan sehingga membuat Reno kasihan.


Dengan kecepatan penuh Reno melajukan mobilnya menuju apartemen, dan sialnya selama dalam perjalanan Ara tak mau diam. Perempuan itu bergelayut manja di lengan Reno dan sesekali mengesek gesekkan kedua buah dadanya pada lengan itu dan semakin membuat Reno mengumpat dalam hati.


Ara terus saja gencar menyerang dan membuat fokus Reno hampir hilang dengan menggoda lelaki itu. Mencium, meraba dan mengeluarkan suara suara aneh padahal Ara merasa kepanasan.


Sesampainya di apartemen, Reno masih membopong tubuh Ara yang mungil. Ara semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Reno dan tangannya tak berhenti bergerilya.


Setelah di kamar, Reno memasukkan Ara ke dalam bathrum dan menyalakan air dingin. Menguyur tubuh serta kepala perempuan itu agar cepat hilang rasa panas yang dia rasa.

__ADS_1


Bukannya hilang, rasa yang Ara rasakan semakin tumbuh kala melihat baju Reno yang basah dan menjiplak tubuh kekar Reno. Ara semakin agresif, Reno tidak kehilangan akal. Menarik Ara di bawah shower dan menyalakan air dingin dan mendekap Ara di bawah guyuran air itu.


Bukannya membaik, Ara semakin menggila kala merasakan sesuatu yang keras tengah menekan punggung nya. Ara bergerak gerak tidak teratur membuat Reno semakin kewalahan, 'apa yang harus aku lakukan agar Ara bisa kembali?' gumam Reno dalam hati.


Walau menikmati pelukan itu, namun percaya lah, Reno berusaha mati matian menahan nafsunya untuk menyentuh Ara.


Reno segera melepas Ara dan berlari keluar dalam keadaan basah kuyup, mengunci Ara di dalam kamar mandi tersebut dan memilih menghubungi salah satu temannya.


Akhirnya Erik yang menerima panggilan tersebut. Reno bertanya tentang obat macam apa yang telah diberikan pada Ara dan apa resikonya. Reno mengumpat dan mencaci karena kesal setelah tahu jawaban yang di berikan oleh Erik.


Reno kembali masuk ke kamar mandi dan menatap tubuh Ara yang basah kuyup dan terlihat menggoda.


Melihat Reno datang, Ara segera menghambur kedalam pelukan pria pemilik iris mata amber tersebut. Ara mendongak dan sedikit menjinjit kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Reno sembari menekan tengkuk Reno agar menunduk.


Ara mengecup lembut bibir tebal Reno, karena tak mendapat respon, Ara semakin gencar dan ganas. Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitu pepatah mengatakan.


Akhirnya Reno terhanyut kecupan yang Ara berikan sehingga dia membalasnya, keduanya saling bertukar saliva, bermain lidah dan saling mencecap.


Tangan Reno tak tinggal diam, jemarinya yang besar dan dingin membuka dan menanggalkan dress yang di pakai Ara, pun Ara. Tangannya melepas kancing kemeja yang di pakai Reno secara tidak sabar.


Kini Ara hanya memakai pengaman untuk kedua gunungnya dan segitiga pengaman penutup intinya, sedang Reno bertelanjang dada dan masih menggunakan celana jeansnya.


"Kak, bantu aku. Aku kepanasan," rintih Ara yang membuat hasrat Reno semakin membara, Reno mengangguk lalu mereka menyatukan kedua bibir mereka lagi.

__ADS_1


Reno membopong tubuh Ara yang sudah basah kuyup dari rambut hingga kaki dan menurunkan tubuh itu di atas ranjang empuk milik Reno.


__ADS_2