
Reno menatap seorang anak lelaki yang seumuran putrinya yang tengah berdiri dan terlihat takut saat melihat dirinya, akan tetapi langsung menarik sudut bibirnya kala melihat keberadaan Rea yang duduk di sebelahnya, pikirannya mengingat akan sosok putranya yang hilang.
"Tuan Reno, ini yang namanya Bagas," kepala sekolah itu mengenalkan sosok anak lelaki yang Rea dan Reno cari, "benar dia, Sayang?" Rea mengangguk, baik Bagas maupun kepala sekolah itu terlihat takut.
"Tuan, seandainya anak didik saya melakukan kesalahan, saya sebagai kepala sekolah meminta maaf," ucap kepala sekolah tersebut sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Bagas, kamu sudah ngapain?" kepsek yang posisinya masih berdiri di hadapan Reno dan Rea yang sedang duduk itu agak membungkuk lalu berbisik, kepsek itu tahu, Bagas tidak akan mungkin membuat masalah atau mencari gara gara karena menurutnya Bagas selalu bisa menjaga diri.
"Benar dia orangnya, Sayang?" Rea yang di tanya segera mengangguk, dan itu semakin membuat kepsek bertambah takut, "nona, saya mohon maaf kalau Bagas pernah menyakiti atau menyinggung anda," kini kepsek itu merangsek mendekat dan menyentuh kaki Rea, namun dengan cepat Rea berdiri.
"Apa karena saya nolak kamu membawakan aku makanan kamu marah, trus kamu ngaduin ke ayah kamu?" Bagas berusaha memberanikan diri bertanya, iris mata berwarna hitam itu menatap Rea yang hanya diam.
"Bisa anda duduk dulu," Reno tidak suka ada yang memojokkan dan menyalahkan putrinya, kepsek itu menarik tangan Bagas agar berdiri di sampingnya. Tatapan Bagas tidak pernah lepas dari mata amber milik, beribu pertanyaan ingin dia ungkapkan tapi melihat siapa ayah gadis itu, akhirnya ia hanya diam.
"Sebelumnya saya mau minta maaf karena membuat anda takut, sebenarnya anak laki-laki ini tidak mempunyai kesalahan," Reno duduk dengan santai menopang kaki kanannya pada kaki kirinya, sedang Rea berpamitan masuk ke kelasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
__ADS_1
Setelah kepergian Rea, Reno mengatakan niat putrinya untuk membantu Bagas untuk membayar lunas semua pendidikannya hingga lulus, bahkan akan menjamin sekolah Bagas jika anak laki-laki itu bisa membuktikan dengan prestasi.
Kepsek dan Bagas bernafas lega, mereka berterima kasih akan kebaikan Reno dan Rea.
Reno akhirnya berpamitan karena harus ke kantor dan jam pelajaran pun sudah di mulai, kasihan jika Bagas tertinggal mata pelajaran, sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih dan mendoakan agar rejeki mereka bertambah.
"Kamu ketemu di mana anak gadis itu?" kepsek itu bertanya, kini mereka tinggal berdua di kantor kepsek tersebut, Bagas terlihat berpikir hingga akhirnya ia ingat, "kemarin sih, Bu. Itu pun dia yang nyamperin saya trus ngasih saya bekal makanan yang dia bawa," kepsek itu terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Kamu cerita apa saja sama dia?" lagi Bagas tampak berpikir, "hanya bercerita tentang ibu yang harus membiayai saya dan saya yang harus menjadi tukang semir sepatu sih, Bu," Bagas nyengir dan kepsek itu menggeleng gelengkan kepalanya heran.
"Ya sudah sana kamu masuk kelas," titah kepsek yang langsung diangguki Bagas, sepanjang perjalanan menuju kelas, bibir Bagas tertarik ke atas.
Pelajaran berlangsung dengan baik, semua murid belajar dengan khusuk, kecuali Rendra. Tadi ia melihat Rea keluar dari sekolah kelas kebawah, entah apa yang gadis itu lakukan seakan ia ingin tahu.
Bel istirahat berbunyi, Rendra segera keluar dan menunggu di mana biasanya Rea nongkrong, begitu juga Bagas, anak laki-laki itu sudah duduk manis di tempat kemarin dirinya dan Rea duduk.
__ADS_1
Akan tetapi sampai bel istirahat selesai berbunyi, Rea tidak juga kunjung terlihat. Kedua anak lelaki yang berharap bisa berbicara dengan Rea terlihat kecewa, dengan langkah gontai mereka kembali ke kelas masing-masing.
Saat pelajaran ke delapan hampir di mulai, Rea izin ke kamar mandi, karena tergesa gesa akhirnya ia menabrak seseorang.
"Ck, hobi banget sih nabrak orang," Raditya mengacak rambut Rea yang langsung di tepis gadis itu, "minggir," Rea mendorong tubuh Raditya yang tinggi kesamping, saat Raditya akan membuka mulut, Rea sudah berlari meninggalkan Raditya.
Bukannya marah Raditya malah tertawa, "kenapa dia terlihat begitu menggemaskan," kakak kelas Rea itu menggeleng lalu menutup mulut karena keceplosan.
"Tadi dia mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali?" Raditya mencoba mengikuti kemana Rea tadi berbelok, sudut bibirnya terangkat saat ia melihat Rea keluar dari toilet wanita, tiba tiba datang timbul ide untuk mengerjai gadis itu.
Rea hampir berteriak saat tangannya di tarik ke samping dan wajahnya membentur dada Raditya, Rea segera menarik kepalanya dan menatap tajam pada Raditya.
Raditya hampir saja menjerit kala kakinya di injak oleh Rea dengan kekuatan ekstra, sehingga membuat cekalan di tangan Rea terlepas, "makanya jangan suka gangguin!" ketus Rea yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Raditya yang kesakitan.
"Dasar, semakin kau menjauh semakin aku penasaran. Kau benar benar berbeda dengan gadis-gadis yang lain, Andrea," Raditya menyeringai.
__ADS_1
Kemarin setelah melihat Rea, ia mengikuti gadis itu masuk ke kelas yang mana. Setelah tahu, ia mencari informasi melalui adik dari sahabat-sahabatnya.
Raditya hanya tahu gadis itu pendiam, pandai dalam segala pelajaran, dingin, dan terlihat angkuh. Tidak banyak teman yang mau berbicara padanya karena Rea selalu membuat mereka mati kutu.