
Sera menangis sesenggukan di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya, rasa sakit hati juga tubuh ia rasakan bersamaan.
Sedang, Beny si pelaku perampasan harga diri juga kehormatan Sera tersenyum puas.
Sebelumnya ia berniat menyakiti adik Sera dengan mendekati gadis yang Rendra suka, tapi begitu mengetahui gadis itu bukan perempuan biasa, melainkan dari keluarga yang terkenal kejam dan sadis, oleh karena itu Beny mengurungkan niatnya karena tak ingin celaka dan memilih memiliki Sera secara paksa.
Dan kemarin, ia telah membayar para asisten rumah tangga Sera untuk berlibur beberapa hari, tentu saja dengan begitu ia puas melepaskan hasratnya dan sebisa mungkin setiap jam, agar Sera hamil dan mau menikah dengan dirinya.
"Kenapa kau lakukan ini, Ben. Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau malah menghancurrkan hidupku!!!" Sera berteriak marah, Beny yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang dan menutup tubuh polosnya sebatas pinggang menoleh kearah Sera.
"Aku memang mencintaimu, Sayang. Oleh karena itu, aku menjadikan diriku menjadi milikmu dengan memberikan keperjakaanku," ucapnya yang kemudian terkekeh.
"Aaaarrgghh, kau memang lelaki brengsek, Ben. Aku menyesal sudah mengenal dan dekat dengan mu!!" Sera menepis tangan kekar Beny dan menarik tubuhnya menjadi duduk dan berusaha memukuli lelaki itu.
__ADS_1
"Aah, sakit," Sera meringis kala merasakan intinya masih terasa sakit dan perih.
"Kau mau obatnya agar tak sakit lagi?" Beny tersenyum smirk, "menjauh dariku, Bennn!!" Sera mendorong dada bidang Beny yang mulai mendekati dirinya.
Namun bukannya menjauh, Beny semakin mendekat. Sera berteriak seperti kesetanan, bayangan Beny menyetubuhi dirinya kembali datang, dengan reflek ia menendang perut Beny yang kini dalam posisi di atasnya dan tengah mencium bibirnya dengan ganas, Beny mengerang merasakan sakit akibat tendangan itu yang tak sengaja mengenai senjatanya.
Plak, Plak, Beny menampar kedua pipi Sera bergantian, kemudian dengan sebelah tangan menjambak rambutnya yang panjang hingga membuat Sera terdongak.
"Apa kau ingin bermain kasar, Sayang," desis Beny tepat di depan wajah Sera.
"Oke, sepertinya kau ingin bermain kasar," geram Beny yang tiba-tiba menarik selimut yang masih menutupi tubuh polos Sera.
"Beny, aku mohon jangan," tapi Beny menulikan pendengarannya, lelaki itu menghujam inti Sera tanpa pemanasan dan tanpa perasaan.
__ADS_1
Sera berusaha memukul dan mendorong tubuh Beny, tapi itu sia-sia saja. Semakin Sera meronta, semakin Beny kuat dan bersemangat menghentak tubuhnya.
Sera kembali menangis saat Beny membuang benihnya kedalam rahimnya tanpa ampun.
***
"Nanti pulang aku anter ya?" kini Rendra dan Rea tertidur di balik selimut, tapi masih memakai pakaian lengkap. Rea hanya tersenyum dan mengangguk.
Tadi setelah mengobati bibir Rea, mereka berdua memasak makan siang, dan saat akan pulang hujan pun turun. Rendra yang tak memiliki mobil meminta Rea menunggu hingga hujan reda.
Bertemankan musik romantis mereka berpelukan bak sepasang kekasih, "apa papamu akan setuju dengan hubungan kita?" Rendra menunduk menatap wajah cantik Rea.
"Entahlah," Rendra mengecup gemas kepala Rea karena jawaban yang terdengar ragu.
__ADS_1
Yang sebenarnya, Rea hanya ingin menjelajah dahulu sebelum menikah dengan Raditya. Menuruti apa kata lelaki itu, bermain main dahulu jika lelah kembali padanya.
Hah, kurang sabar apa coba si Radit, gumam Rea dalam hati.