Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 44


__ADS_3

"Yah, mungkin Rara besok ngga bisa nemenin ayah operasi, kalau ngga lembur ya masuk siang. Tapi nanti coba Rara minta Ria nemeni ayah," Rara berujar seraya menyuapi sang ayah.


"Telepon Om Ridwan saja, biar dia yang menemani ayah, lebih baik dia dari pada Ria. Dia itu sibuk dengan hp nya terus, ayah minta tolong ini itu dia malah marah-marah," adu sang ayah di sela mengunyah.


Dara mengusap wajahnya dengan satu tangan, merasa bingung. Merasa tidak enak jika merepotkan orang lain, "tapi, Yah...." Rara menjeda ucapannya, dokter datang dan saatnya pemeriksaan.


"Selamat pagi, Pak," sapa dokter ramah, suster yang bertugas membantu dokter mengulas senyum pada Rara, dan Rara membalasnya.


Rara yang semula duduk di brangkar turun, membiarkan dokter memeriksa keadaan ayahnya.


"Nanti malam mulai puasa ya, Pak." dokter memperingatkan, "jangan tegang, di buat santai saja, takutnya kalau tertekan nanti tensi darahnya naik lagi, mundur lagi operasi nya," tegur dokter lagi.


"Besok jam berapa operasi nya, Dok?" Rara berharap masih ada waktu menemani ayahnya, memberi semangat pada ayahnya


"Kalau semua normal jam 10.00 bisa berjalan, tapi kalau belum siap bisa di undur, maksud saya kalau tiba-tiba kondisi ayah anda ngedrop," dokter meralat ucapannya.

__ADS_1


"Baik, Dok. Terima kasih atas penjelasannya," dokter itu mengangguk lalu tersenyum dan melingkarkan steteskopnya di leher karena selesai memeriksa ayah Rara.


"Jangan lupa kamu hubungi Om Ridwan biar dia nemeni ayah ya, Ra." pinta sang ayah dan diangguki oleh Rara. Rara mengambil ponsel yang di letakkan di meja dekat sofa dirinya tidur. Keningnya mengernyit heran, ada panggilan masuk tapi tanpa nama. Tidak ingin berpikir jauh, akhirnya Rara mencari nomer kak Fandi.


Setelah menemukan nya, Rara menekan nomer itu. Terdengar nada sambung.


Tersambung.


"Hallo Assalamualaikum, Ra." sapa Kak Fandi dari seberang sana. Rara menggaruk kepala belakangnya, netranya melirik sang ayah yang tengah menatap dirinya.


"Ya, Ra, ini Om Ridwan," Rara terkejut ternyata sudah berpindah tangan.


"Pagi, Om," sapa Rara sambil tersenyum, Rara tahu Om Ridwan pasti tidak bisa melihat senyumnya.


"Iya, pagi. Ada apa kok tumben telepon, oya dapat nomer Fandi dari mana hayo," kelekar Om Ridwan.

__ADS_1


"Ini, ayah mau ngomong sama om," jawab Rara mengalihkan perbincangan, bukan dia yang minta nomer kak Fandi, tapi kak Fandi yang meminta nomernya. Rara lalu menyerahkan ponselnya pada ayahnya, membiarkan mereka ngobrol.


Di saat sang ayah sibuk berbicara, Rara menyiapkan pakaian yang akan ayahnya kenakan. Rara mengusap wajahnya pelan, pakaian ayahnya ternyata menumpuk banyak di sini dan dia lupa membawa pulang.


"Besok-besok saja lah nyucinya, sekalian. Capek juga ini badan, Tuhan beri Rara kesehatan," pintanya pada sang Pencipta.


"Sudah, Yah?" Rara menerima ponsel yang telah terputus dan sudah menjadi hitam yang ayahnya serahkan.


"Ayah mandi dulu, ya. Sudah Rara siapkan," Rara mendekat dan membantu sang ayah turun dari brangkar. Ayah Rara tidak mau kalau Rara ikut masuk dan membantu memandikan ayahnya, padahal ayahnya memakai celana pendek jika mandi.


Selama ayahnya mandi, Rara bermain ponsel, membuka aplikasi hijau miliknya. Me scrool chat-chat yang masuk ke aplikasi tersebut. Tidak sengaja tangannya menekan profil Reno, matanya menyipit.


Di dalam profil itu, Reno memiliki sedikit jambang dan jenggot tipis, terlihat lebih macho, dan lebih.... Ah, Rara tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.


Rara menepis bayangan Reno, membuka profil Fajar, di sana ada rumah besar berwarna putih dan mobil ferarri, ah pintar mencari obyek ternyata, pikir Rara.

__ADS_1


__ADS_2