
Beberapa minggu kemudian, "non Sera kenapa?" tanya salah satu asisten rumah tangganya, wanita berumur hampir 60 tahun tersebut sangat khawatir.
Sudah hampir 3 hari anak majikannya menolak makanan kesukaannya yang sering ia sajikan dan selalu mengeluarkan kembali jika sudah masuk ke perutnya.
"Sera ngga tahu, mbok," sahutnya sambil membasuh wajahnya, "rasanya pusing dan mual mendominasi," tambah Sera.
"Apa non ke dokter saja?" walau ia mengenal Sera yang tak pernah dekat dengan lelaki manapun, tapi saat ia kembali dari pulang kampung tempo hari ia mendapat cerita, jika mereka, para pekerja rumah ini di beri voucher Beny.
Di mana mereka mengenal sosok Beny adalah pacar atau kekasih dari majikan mereka, "kami akan ada acara kantor di luar kota selama beberapa hari, jadi dari pada kalian menganggur dan tidak ada pekerjaan, bagaimana kalau kalian juga liburan. Pulang kampung atau piknik mungkin, dan tenang saja. Semua saya yang nanggung," ucap Beny pada para asisten rumah tangga Sera.
Walau agak ragu tapi pada akhirnya mereka setuju dan mengemasi beberapa barang mereka dan pergi tanpa berpamitan pada Sera, karena berpikir Sera tahu rencana tersebut.
"Buat apa, Mbok?" tanya Sera yang belum tahu jalan pikiran mbok Asih, wanita yang bekerja di rumah ini sedari Sera kecil.
__ADS_1
"Periksa aja, Non. Siapa tahu non punya asam lambung atau magh," mbok Asih mencoba merayu, berharap apa yang ia pikiran salah.
Walau tak menampik jika umur Sera sudah cukup untuk menikah, tapi bukan begini caranyaa mendapatkan restu orang tua mereka.
"Kan si mbok tahu, Sera dari kecil tak punya riwayat penyakit itu," Sera kembali menolak.
Tanpa mbok Asih tahu, Sera juga merasa takut dengan apa yang ia pikirkan. Selama 3 hari, Beny berturut-turut menggagahi dirinya, dan membuang benihnya kedalam rahimnya.
"Ya sudah, se nyaman non Sera saja," akhirnya mbok Asih mengalah dan tak lagi membujuknya. Namun, dalam hati ia bertekat besok akan menemui Beny dan meminta lelaki itu menceritakan apa yang telah terjadi.
"Apa kau yakin dengan hasil ini?" Raditya membolak balik kertas yang berada di hadapannya, kertas laporan yang ia minta mengenai kemana perginya kembaran Rea.
"Benar dan ini akurat, Bos," kesal lelaki bertubuh tinggi kurus tersebut, "kenapa nada bicaramu seperti orang kesal begitu?" pemilik manik mata biru itu menyipitkan sebelah matanya dan menarik satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Gimana ngga kesal, kerja lama bos komplain, kerja cepet ngga di percaya," gerutu orang itu, Raditya tertawa.
"Menurut kalian, aku harus bagaimana? Haruskah aku memberi tahu papa Reno?" Raditya menatap bergantian anak buahnya meninta pendapat mereka, dan mereka tidak merasa canggung.
Bagi orang yang tak mengenal Raditya, pasti mereka mengira lelaki itu sombong. Dan mereka yang juga sudah mengenal sosok Reno, calon papa mertua bos mereka.
Mereka pasti akan mengatakan banyak kesamaan pada kedua lelaki itu, sama- sama dingin dan cuek pada orang lain, tapi begitu hangat dan perhatian pada orang yang mereka kasihi.
Mereka saling melempar pandangan, seakan juga saling meminta pendapat. Hingga akhirnya salah satu dari mereka maju.
"Mending bos kasih kertas ini dulu ke papa mertua-" lelaki itu mengusap kepala karena tiba-tiba Raditya melempar bolpoin.
Teman teman lelaki itu tertawa kecil, takut kena lempar juga.
__ADS_1
"Kenapa bos melempar bolpoin ke kepala saya?" tanyanya sambil mengusap kening nya.