
"Kak, ini bukan jalan ke kampus aku lho," Rea protes karena mobil yang di kendarai oleh Raditya, laki-laki yang sedang memegang stir kemudi dan menatap jalanan itu menoleh.
"Memang bukan," kemudian pemilik mata zamrud itu melirik spion bagian kanannya, "sepertinya cowok tadi ngikutin kita," Rea mengikuti arah pandangan Raditya, kepalanya menoleh melihat kearah belakang dan benar saja, ada Rangga yang sedang menaiki motor model ninja mengikuti kemana mobil yang Rea tumpangi melaju.
"Kok kesini, Kak. Kan aku harus ke kampus?" gadis itu protes karena niatnya untuk ke kampus malah jadi ke klinik kesehatan.
"Diamlah," Rea terkejut mendengar nada bicara Raditya yang terdengar dingin, Rea melihat Raditya membuka pintu lalu keluar tanpa menyuruhnya dan Rea hanya diam memperhatikan apa yang laki-laki itu lakukan.
Rea kembali terkejut saat pintu di sebelahnya terbuka dan Raditya tengah tersenyum manis padanya, belum sempat hilanh keterkejutan itu Rea kembali terkejut dan memekik kala tubuhnya tiba-tiba melayang, "maaf bikin kamu takut," bisik Raditya yang di baremgi kecupan di kening itu.
Rea merasa wajahnya memerah bak kepiting rebus, Raditya terus berlari sambil menggendong tubuh Rea yang berada di lengannya.
__ADS_1
Raditya langsung menerobos masuk begitu melihat salah satu pasien keluar dari ruang periksa, dan terdengar berbagai umpatan juga xacian karena ulah nekat dari Raditya, Rangga yang berlari mengikuti kemana Raditya membawa Rea berdecak kesal karena ulah gila lelaki itu.
"Astaga, Radit!!!" pekik seorang perempuan yang tadinya menunduk langsung mendongak begitu mendengar derap langkah.
"Tolong calon istri saya, lengannya terluka," katanya tanpa memperdulikan rasa protes dan ucapan protes, "tapi harus mengikuti prosedur, Dit," dokter itu memggeram kesal.
"Obati calon istri saya!!" Raditya berteriak dan menendang kursi setelah meletakkan tubuh Rea di atas brangkar, semua orang yang berada di situ terkejut dengan tindakan Reyhan Raditya.
Tak mau sesuatu yang buruk terjadi, dokter wanita itu segera berdiri dan menolong Rea, dokter itu meringis kala melihat luka Rea, kemudian berbisik.
Dokter itu menyuruh suster pembantunya menyiapkan semua yang ia butuhkan, sedang Rangga maju dan menggenggam jemari Rea, memberi semangat pada gadis itu. Dan rasanya keluar setelah mengecup lembut kening Rea.
__ADS_1
"Kamu itu cewek tawuran mulu," dokter yang mengobati itu berceloteh, Rea cemberut, "tadi nolongin kakak sepupu kamu yang hampir kena tusuk," Rea tidak terima di katai suka tawuran.
Rangga tersenyum melihat sisi lain gadis ini yang hanya di ketahui oleh orang orang terdekatnya.
"Dia siapa?" dokter itu melirik Rangga dan bertanya, Rea tersenyum.
"Senior di kampus, tadinya kami mau nolongin dia," mendengar ucapan Rea, Rangga merasa bersalah.
Pengobatan itu selesai dan Raditya masuk membawa paper bag, "ganti baju kamu," katanya memerintah sambil menyodorkan tas itu, Rea hanya diam dan hanya menatap datar tas itu.
"Ini baju ganti nya udah di cuci dan di setrika," ucap Raditya yang seakan mengerti Rea yang sedang gelisah, Raditya menatap seorang suster.
__ADS_1
"Bantusm dia," katanya dengan suara dingin, suster itu mengangguk lalu membantu Rea turun dari brangkar dsn segera membantu Rea ganti baju
"Kenapa dia bisa terluka, beruntung tidak parah dan tidak lebar