Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 110


__ADS_3

"Nek, gimana kalau ayah tahu pas aku lamaran dan dia nggak ada? Apa dia nggak marah?" Ara bertanya pada neneknya yang kini duduk di brangkar dan Ara meletakkan kepalanya di pangkuan wanita yang telah melahirkan bundanya tersebut.


Dan kini ruangan tempat Ara di rawat hanya ada Ara, neneknya, tantenya, Ria dan Anton. Sedang Reno pergi mengantar kedua orang tuanya pulang karena sang mama selalu cemberut saat acara lamaran tadi.


Dan Reno juga sengaja meminta Anton menemani Ara dan menjaga adiknya dari pak Gito, dan Anton yang sudah tertarik pada gadis kecil itu setuju setuju saja. Dalam pikirannya dirinya juga heran, kenapa mau-maunya berbuat seperti ini.


Seorang Anton Wijaya tidak pernah tunduk dan patuh pada wanita kecuali dengan maminya seorang, namun kenapa dengan bersama gadis kecil ini membuat dunia Anton hanya berkutat padanya saja.


"Biarkan saja, toh masih ada nenek. Nenek lebih tua dari ayah kamu itu dan berhak menentukan masa depan kamu dengan nak Eno," sang nenek berujar dengan enteng.


Ara melirik Ria yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu sang tante, dan tantenya mengusap lembut kepala Ria sambil memberikannya kecupan sesekali.


Sungguh, Ara tidak iri dengan kasih sayang yang tante dan neneknya berikan padanya dan Ria. Karena Ara percaya mereka akan adil seperti bunda mereka yang adil membagi kasih sayangnya dengan Ria dan Rara.


Ara meringis menahan sakit kala mengingat nama Rara, Anton yang melihat segera berdiri dan menghampiri.


"Sakit lagi?" tanyanya yang kemudian berlari keluar memanggil dokter, walau ada tombol untuk memanggil mereka, Anton lebih senang memanggil langsung. Jika memanggil lewat interkom pasti mereka akan berjalan santai walau keadaan sedang gawat, dan jika dokter langsung di datangi maka mau tidak mau harus segera ikut dan menurut jika tidak mau terkena skors atau bogem dari Anton atau Reno.

__ADS_1


"Tan, kak Rara sakit apa?" Ria menitikkan airmata melihat sang kakak yang terlihat begitu menderita, dulu memang sering dirinya melihat Ara sakit kepala, namun tidak separah dan terlihat sesakit ini.


"Kakakmu pernah kecelakaan waktu kecil, dan dulu dia pernah koma hingga berminggu minggu, hingga akhirnya dia sadar dan ayahmu membawa Ara pergi ke kota untuk berobat. Dan kata nak Eno setelah Ara di ronsen, dia menderita gegar otak," tangis Ria meledak seketika mendengar penuturan sang tante.


Ria tahu orang yang menderita gegar otak tidak akan mungkin sembuh dan sembuh pun kecil kemungkinannga, kecuali dia meninggal. Ria sudah kehilangan bundanya, dan dia tak mau kehilangan kakaknya.


"Bagaimana Kak Rara bisa kecelakaan?" entah kenapa Ria tiba-tiba bertanya, dan sang tante pun menjelaskan semua yang dia tahu.


"Kak Rara punya kembaran?" tanya Ria tak percaya, tantenya mengangguk mengiyakan sebagai jawaban untuk Ria.


"Dan dia Ara, bukan Rara. Rara sudah meninggal, dan entah atas dasar apa ayahmu mengganti nama Ara menjadi Rara," tandas tante Rina yang membuat Ria tercengang, sedang Anton yang ikut mendengar tidak terkejut karena Reno sudah menceritakan semua masalah hidup kekasihnya pada mereka.


Ara kini mulai tenang dan tertidur karena dokter sudah memberikan suntikan penenang juga pereda sakit. Reno yang datang bersamaan dengan Ayah Andri karena Anton mengabarinya kalau Ara berteriak histeris karena sakit di kepalanya menyerang.


Reno segera mendekap dan menghujani wajah Ara dengan kecupan, "maaf aku tidak ada saat kau sakit, Sayang. Maaf, aku memang teledor, maaf, maaf," berkali-kali bibir Reno mengumamkan kalimat maaf.


"Bukankah tadi saat saya tinggal dia baik baik saja?" Reno bertanya setelah menghampiri airmatanya, Anton terlebih menelan ludahnya. Pasalnya dia juga tak mengerti kenapa tiba-tiba perempuan itu memegang kepalanya dan berteriak histeris.

__ADS_1


Ayah Andri hanya bersandar di tembok, hatinya teriris melihat putrinya menderita seperti ini, "Ren, segera jadwalkan operasi wajah untuk saya. Kalau bisa pekan ini, saya sudah tidak bisa menunggu untuk membuat pria itu sengsara," ucap ayah Andri sembari menggeram marah.


Reno dan Anton saling bersitatap kemudian keduanya mengangguk setuju, "baik, Yah. Kami akan segera memberi tahu dokter itu," balas Reno yakin, Ayah Andri tersenyum penuh arti.


"Karena sudah malam, Nenek, ayah Andri, tante sama kamu pulang saja. Biar Ara saya jaga," titah Reno sambil memandang wajah setiap orang yang dia ajak bicara.


"Saya sudah menyiapkan tempat buat kalian istirahat, biar nanti Anton yang mengantar," Reno bersuara lagi saat melihat bibir nenek Ara hendak terbuka dan mungkin ingin protes.


"Jaga dirimu dan titip Ara," Ayah Andri menepuk pundak Reno, dan lelaki itu mengangguk cepat dan melempar senyum.


***


Di tempat lain, "kenapa kau dari tadi mencuri pandang dengan wanita yang jadi tante calon istrinya Reno?" cecar mama Reno, bukannya tidak tahu, tapi wanita itu sengaja memilih diam dari pada harus adu mulut dan berakhir dengan saling berteriak di tempat umum.


"Tidak apa-apa, Sayang," Om Yudha mencoba menarik istrinya kedalam dekapan nya, namun wanita itu segera bergeser dan menatap tajam wajah suaminya.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa tapi cara memandang mu padanya seperti cara seorang pria merindukan wanitanya," cibir mama Reno terdengar cemburu. Selama ini memang mama Reno tidak mengetahui siapa saja nama nama mantan pacar atau wanita manapun yang pernah dekat dengan suaminya ini.

__ADS_1


"Ck, kalau tak percaya ya sudah," Om Yudha berdiri lalu menjawil hidung istrinya, lalu melangkah menuju ruang kerja untuk menghindari tatapan yang akan membuatnya mengatakan sesuatu yang pernah terjadi dan pernah singgah di hatinya.


"Ara, putri Rani dan Andri," Om Yudha terkekeh sambil menggeleng tak percaya dengan fakta yang dia terima. Terlebih wanita kini telah pergi untuk selamanya, Om Yudha mendongak menahan agar airmatanya tidak turun. Benar benar kenyataan yang menyakitkan, gumamnya dalam hati.


__ADS_2