
Setelah sampai di rumah, Rara segera masuk kamarnya dan bersiap.
"Kak, itu ada dua cowok di depan nungguin kakak," Ria masuk dan memberitahu, Rara yang sedang menyisir rambutnya hanya mengangguk. Tahu siapa yang Ria maksud.
"Besok aku ngga jadi tes wawancara, bos tempat aku melamar baru ke luar kota beberapa hari," Ria berujar, Rara mengernyit mendengar perkataan adiknya, memang sebelumnya Ria melamar di berbagai perusahaan. Dan sama sekali belum ada panggilan tes wawancara, mungkin mereka mempertimbangkan lulusan Ria yang baru, jadi mungkin menurut mereka Ria belum berpengalaman dan itu salah satu tidak adanya panggilan tes wawancara.
"Kamu udah di kabari salah satu perusahaan itu?" Ria mengangguk sambil menatap mata Rara, "udah beberapa hari sih, Kak. Tapi aku nya ragu karena itu perusahaan gedhe, di sana cuma buka lowongan OG, dan aku nggak mau jadi OG," keluh Ria, Rara mendesah pelan.
"Siapa tahu berawal dari OG nanti naik tingkat, di tekuni dulu aja kerjaannya," saran Rara yang dibalas cebikan Ria.
"Heleh, kakak aja yang kerja di sana beberapa tahun juga nggak naik pangkat, apa lagi aku," Ria mengatakan kenyataan.
"Itu beda, di sana kakak kan langsung kasir, biasanya karyawan dulu lho," Rara membela diri, "terserah kakak aja lah," sahut Ria pasrah.
"Berarti bisa nemeni ayah dong? Kakak belum pasti soalnya, tapi semoga kakak bisa menemani ayah." Ria mendengus mendengar ucapan kakaknya.
"Nggak mau ah, Kak," tolak Ria langsung, Rara berpikir bagaimana caranya agar Ria mau menjaga ayahnya besok. Bibir Rara tertarik keatas menemukan ide agat adiknya mau menunggu ayahnya. Rara berjalan kearah belakang pintu dan mengambil tas yang dia gantung di sana. Mengambil dua lembar kertas berwarna merah dan melipatnya.
"Kamu beneran nggak mau nunggu ayah?" tanya Rara pura-pura sedih, Ria mengangguk pasti. Rara berpura-pura kecewa, "kamu ada teman yang bisa di mintai tolong nggak, nanti kakak kasih uang jajan. Ya lumayan sih dua ratus ribu, cuma sehari aja?" pancing Rara sambil menunjukkan uang tersebut, mata Ria terlihat berbinar.
"Dua ratus ribu buat jaga ayah?" Rara mengangguk akan pertanyaan Ria, "cuma sampai kakak datang?" Rara mengangguk lagi.
"Ya sudah, nanti kalau ada temen kamu yang mau bantuin kakak jaga ayah, kabari ya," ujar Rara sambil memakai sepatu, "c'k sepatu gue yang satu ketinggalan di Rumah Sakit lagi," gerutu Rara kesal. Lalu melangkah keluar dan mendapati Kak Fandi juga Fajar sedang duduk di kursi kayu di luar rumahnya.
Tanpa melirik kedua pria yang menunggu dirinya, Rara segera menaiki motor dan melajukan dengan kecepatan sedang. Netranya sesekali melirik spion, Rara terkekeh kala melihat kak Fandi dan Fajar terlihat adu mulut.
Sesampainya di tempat kerja, Rara segera membuka pintu tralis. Kemudian masuk menuju gudang, melakukan absensi lalu bersih-bersih. Kak Fandi membantu Fajar menata barang-barang display yang habis, hari ini Rara ingin fokus bekerja. Pikirannya hanya tertuju pada operasi ayahnya besok, semoga besok berhasil dan ayahnya sehat seperti semula, begitu doanya.
"Ra, Kak Fandi pulang dulu ya, nanti pulang jam berapa? Biar kak Fandi jemput?" tanya Kak Fandi pada Rara yang sedang menghitung kembali modal hari ini, memastikan hitungannya kemarin dan hari ini sama. Jangan sampai kurang, kalau lebih bisa dia masukkan ketabungan. Dan biasanya jika lebih itu dia dapat dari sisa pembayaran yang tidak pembeli ambil.
__ADS_1
Rara mengangguk sambil melempar senyum, kemudian melanjutkan lagi menghitung uang itu. Fajar datang mendekat, Rara masih belum membuka suara.
"Benar orang tadi calon suami kamu, Ra?" ada nada kesal di sana, Rara menoleh. Ikut menghempaskan bobotnya di kursi plastik.
"Belum tahu, ayah menjodohkan kami. Ada teman ayah yang satu juga menjodohkan aku dengan putranya," Fajar terkejut akan jawaban Rara.
"Berarti sainganku dua?" tanya Fajar sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, Rara mengangguk.
"Tidak apa-apa, aku akan berjuang merebut restu ayahmu," tangan Fajar mengepal dan dia naik turunkan seakan memberi semangat pada dirinya sendiri. Tapi Rara tidak menanggapi, sungguh pikirannya saat ini hanya tertuju pada ayahnya saja.
Waktu berlalu begitu cepat, siang hari Fajar membelikan Rara makan siang, setelah itu mereka kembali bekerja. Rara kesal bukan main sudah sore mbak Santi belum juga datang, berarti dia mengambil libur, dan besok dia harus masuk pagi.
Jika dia masuk pagi berarti tidak bisa menemani ayahnya, Rara membuang nafas berat. Padahal dia ingin memberi semangat pada ayahnya, ini semua gara-gara mbak Susi Susanti itu, geram Rara.
Rania pun hari ini mengambil libur, tambah kesal saja dia.
"Istirahat dulu saja, Ra," Fajar menyodorkan minuman dingin pada Rara, dan di terima lalu langsung di minum. "Terima kasih." katanya dan dibalas anggukan oleh Fajar.
"Capek?" tanya Fajar yang ikut berselonjor di bawah meja kasir, Rara yang memejamkan kedua matanya mengangguk sambil mengurut punggungnya, sesekali memijat pangkal hidungnya.
"Uang nya udah di hitung?" Rara menggeleng, membentur-benturkan pelan kepala belakangnya pada tembok.
"Sakit tahu kaya gini," Fajar meletakkan tangannya di kepala Rara yang tadi dibentur-benturkan ke tembok.
"Pusing," jawab Rara singkat, kepala Rara seperti di hantam palu besar, lehernya seperti diberi gantungan besi dengan berat berkwintal-kwintal. Berat rasanya, selalu begini jika berpikir terlalu berat dan serius.
"Di bawa santai aja, aku doakan semoga ayah kamu besok berhasil," Rara tersenyum lalu membuka kedua kelopak matanya, menoleh kearah Fajar.
"Terima kasih doanya," sahut Rara tulus, ponsel Rara bergetar ada pesan masuk. Di raihnya ponsel yang tadi di letakkan di bawah pahanya.
__ADS_1
(Aku sudah di depan tempat kerja kamu, kamu di mana?) pesan yang masuk dari aplikasi hijau.
(Aku masih di dalam.) ketik Rara dan di kirim, langsung centang biru, beberapa detik tidak ada balasan. Tulisan online hilang.
"Kalian sedang apa?" Rara dan Fajar terkejut lalu mendongak dan mendapati Kak Fandi sedang berdiri menatap mereka.
"Rara hanya kelelahan," Fajar yang menjawab, Kak Fandi mengangguk lalu berputar, melewati Fajar dan ikut berjongkok di samping Rara lalu menyentuh keningnya dengan punggung tangan Kak Fandi.
"Udah tutup 'kan?" tatapan Kak Fandi beralih pada Fajar, pria itu mengangguk.
"Besok masuk apa?" Kak Fandi bertanya pada Rara, "pagi," Kak Fandi berdecak gemas.
"Partner Rara sering izin, Bang. Gue juga ikut kesel, karena Rara sering lembur dadakan," geram Fajar pada Mbak Susi.
"Ini yang belum ngapain aja?" Kak Fandi berdiri dan menelisik meja kasir, pandangannya beralih kepada Rara.
"Menghitung uang, dan menyetok barang." jawab Rara pelan, Kak Fandi menarik tangan Fajar berdiri dan mensejajari dirinya.
"Ajarin saya cara menghitung dan menyetoknya," titah Kak Fandi, Rara menggeleng mendengar Kak Fandi ingin belajar menjadi kasir. Fajar mendengus sebal tapi tak urung melakukan juga.
"Rara biar saya yang anter," mereka sudah selesai dengan pekerjaan mereka, dan sekarang berada di tempat parkir.
"Biar gue aja, Bang!" tolak Fajar terang-terangan.
"Jar, aku pulang bareng Kak Fandi aja ya. Kamu pasti juga capek seharian lembur kerja, juga bantuin aku," kata Rara dengan lembut, Fajar hanya diam dan menatap Rara dalam lalu mengangguk pada akhirnya.
"Hati-hati, langsung istirahat jika ayahmu sudah tidur," titah Fajar seraya mengacak poni Rara lalu membelai pipi Rara yang membuat Rara merona.
"Ck, nggak sopan," Kak Fandi menepis tangan Fajar, Rara menghela nafas berat lalu menarik Kak Fandi naik ke motornya dan segera pergi dari sana.
__ADS_1
Sungguh hari ini otak dan tubuhnya lelah, semoga besok bisa sehat kembali, doanya dalam hati