Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 86


__ADS_3

"Mbak Ara kenapa, habis dari dapur kok mukanya di tekuk kaya gitu?" mbak Siti menelisik wajah Ara yang kini tak enak di pandang, bibir mengerucut dan berjalan dengan menghentak hentak. Tapi bagi mbak Siti itu terlihat lucu dan menggemaskan.


"Ayah mbak. masih saja njodoh njodohin dan maksa Ara buat nikah sama Dion atau kak Fandi, padahal sudah berulang kali, Ara sudah punya kak Reno," Ara bersungut sungut meluapkan kekesalannya.


"Kawin lari saja mbak sama tuan Reno," kata mbak Siti dengan berbisik, "capek lah, mbaakkkk!" Ara memekik tertahan.


"Maksudnya? Kok bisa capek, gimana ya?" mbak Siti menggaruk keningnya bingung, Ara mendengus sebal.


"Kalau kawin sama lari, ya pasti capeklah," ujar Ara polos yang seketika membuat mbak Siti tertawa terbahak namun segera menutup mulut dan terdengar suara cekikiannya.


Ara menatap mbak Siti dengan tatapan penuh tanya, salah nya di mana coba. Ara mencebik kemudian berjalan menuju kasurnya dan merebahkan tubuhnya di sana.


Sebelum tidur, Ara berkirim pesan terlebih dahulu pada kekasih dan adiknya.


"Mbak," Ara memiringkan tubuhnya menghadapi mbak Siti, wanita yang di panggil menoleh lalu tersenyum.

__ADS_1


"Lagi chatan sama pacar?" goda Ara, mbak Siti mengangguk.


"Calon suami," ralatnya, kedua netra Ara melebar mendengar ucapan mbak Siti, "tunangan?" mbak Siti menggeleng.


"Maksudnya gimana sih, calon suami tapi bukan tunangan?" Ara beringsut mengubah posisinya menjadi duduk.


"Sudah, tidur saja yuk," bukannya menjawab, mbak Siti malah memejamkan kedua netranya. Ara hanya bisa mendengus kesal, kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan ikut memejamkan kedua netranya.


******


"Siapa sih?" gumamnya heran, dengan langkah berjinjit, Ara membuka tirai jendela dan netranya membulat sempurna kala melihat siapa yang berada di luar dan sedang berbincang.


"Mas Seno sama mbak Siti?" tanya Ara pada dirinya sendiri, kemudian Ara mengucek perlahan netranya, meyakinkan bahwa itu memang mereka.


Ara memutuskan akan menanyakan itu nanti pada Reno, apa hubungan keduanya, hingga saat ini dirinya melihat mbak Siti dan Mas Seno begitu dekat bahkan begitu akrab. Bukankah mas Seno punya tunangan, dan semalam mbak Siti mengatakan memiliki calon suami, bukan tunangan. Haish, kepala Ara tiba-tiba pusing memikirkan ini semua.

__ADS_1


Ara segera kembali ke kamar saat melihat mbak Siti melambaikan tangannya saat mobil yang di kendarai mas Seno menjauh, dan mbak Siti melangkah masuk.


"Dari mana mbak?" Ara bertanya berpura pura tidak tahu dan bertanya, mbak Siti terlihat salah tingkah lalu tersenyum malu.


"Dari luar, cari udara segar mbak." jawab mbak Siti, Ara tidak protes karena mbak Siti memang dari luar dan memang udara pagi hari terasa segar, akan tetapi kenapa mbak Siti tak mengatakan tadi bertemu seseorang? Ara bertanya dalam hati.


"Oya mbak Ara, tadi ayah mbak berangkat pagi pagi entah mau kemana. Beliau juga belum sarapan," mbak Siti menceritakan yang dia lihat tadi pagi.


Saat mbak keluar kamar untuk bertemu dengan mas Seno, tidak sengaja melihat Pak Gito keluar kamar dan mengendap endap keluar rumah. Beruntung tadi Mas Seno belum sampai dan mereka tidak bertemu, hanya selang beberapa menit Pak Gito pergi, Mas Seno baru sampai.


"Kemana sih pagi pagi udah pergi?" tatapan mereka bertemu dan Ara terlonjak langsung meraih ponselnya hendak menghubungi Reno, namun dia urungkan.


"Jika mengikuti sekarang terlambat bukan, harusnya dari tadi," gerutu Ara kesal, mbak Siti tertawa kecil.


"Tenang saja mbak, saya sudah memberi tahu mas Seno agar meminta seseorang mengikuti ayah mbak Ara," ucap mbak Siti keceplosan.

__ADS_1


__ADS_2