Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 113


__ADS_3

"Kak, aku nggak mau makan menu masakan rumah sakit ini, nggak enak," Ara menolak menu makanan yang baru saja suster antar, dan Ara mengatakan saat suster itu sudah pergi dari sana.


"Lalu kamu mau makan apa?" tanya Reno, tangannya yang tadi memangku nampan berisi menu sarapan pagi untuk Ara kembali ia letakkan di atas meja sampai brangkar Ara lalu menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya, "apa aja, Kak. Asal jangan itu," perempuan itu cemberut membuat kadar gemas Reno pada Ara semakin bertambah.


"Bagaimana kalau makan aku saja," goda Reno yang mendapat cubitan di perutnya yang sispack, bukannya marah Reno malah tergelak saat melihat raut wajah wanitanya merona.


"Mau makan apa? Nanti kalau ada yang datang menggantikan aku, biar aku keluar, hmm," ucap Reno sembari menatap wajah Ara yang masih terlihat sedikit pucat.


"Nggak usah keluar, ini tante bawain masakan dari rumah," Tante Ara menginterupsi, Ara dan Reno menoleh memandang kearah pintu yang terbuka dan menampakkan tiga orang wanita kesayangan Ara yang berbeda generasi.


"Kak, tadi aku bantuin tante masak lho," Ria yang ikut kerumah sakit terlebih dahulu sebelum ke kantor menimpali ucapan sang tante, Ara tersenyum mendengar ucapan adiknya.


"Kamu itu memang harus bisa masak, kamu nggak selamanya akan makan masakan kakak terus, karena kakak akan nikah dan kita jarang bertemu," ucap Ara sendu, Ria melengkungkan bibirnya yang sudah terpoles lipstik berwarna merah muda sebagai tanda dirinya sedang protes.

__ADS_1


"Sudah, makan dulu ya," Reno menengahi, tangannya sibuk memindahkan makanan yang dibawa sang tante yang berada di dalam rantang kedalam piring, dan berjalan menuju pojokan mengambilkan segelas air putih yang berasal dari dispenser lalu meletakkan di atas nakas.


Reno membantu Ara duduk dengan benar, kemudian dirinya duduk di sampingnya dan memangku piring yang berisi makanan yang tadi dia ambil.


"Aakk," ujar Reno menyodorkan sendok berisi nasi dan sayur bayam kedepan mulut Ara, perempuan itu melirik sekitar, rasanya malu jika diperlakukan romantis seperti ini.


"Nggak usah malu, tar laper," Reno kembali bersuara karena Ara tak kunjung membuka mulut, dengan perlahan Ara menerima suapan pertama lalu mengunyah nasi itu hingga lembut, tante Rina sengaja memasakkan sayur bayam khusus untuk Ara dan berlaukkan tahu dan tempe.


Sedang mereka tadi memakai lauk ikan, "kamu nggak makan, Kak?" Ara bertanya karena sedari tadi Reno terus saja menyuapi dirinya.


"Memang kamu doyan masakan rumah sakit?" Tante Rina bertanya dengan nada menggoda, Reno menoleh lalu menggeleng. Semua orang terbelalak melihat jawaban Reno, "hish, nggak usah di makan. Tar kakak beli di luar aja sekalian pulang, dan sebelum berangkat ke kantor," kata Ara yang langsung di angguki Reno.


"Lalu makanan ini?" tanya Tante Rina bingung, "gampang, Tan. Tar suruh cleanning servis nya membersihkan ini Semua," ujar Reno yang malah mendapat cubitan gemas dari Ara.

__ADS_1


"Oya, nanti Anton yang jemput kamu. Kalau kamu berangkat sendiri takutnya ayah kamu macam macam," Reno berkata sambil menunjuk Ria, netra gadis itu membulat.


"Kenapa harus dia, Bang?" protes Ria, "sstt, udah nurut aja sama nak Eno, dari pada nanti ayah kamu nyulik kamu lagi," nenek Ara menengahi, karena dirinya juga takut kalau kalau saja Pak Gito nekat.


"Iya, Ria. Kak Anton nggak jahat kok cuma suka iseng aja," Ara angkat bicara, mau tak mau Ria mengangguk setuju, "anak pintar," kata mereka bersamaan, yang malah membuat Ria mencebik.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi," suara seorang lelaki yang kini berdiri di ambang pintu, lelaki itu mengulas senyum dan di sambut senyum oleh semua orang kecuali Reno.


"Gimana keadaan kamu hari ini, Ra? Udah baikan?" tanya lelaki yang ternyata adalah Kak Fandi, Ara mengangguk menjawab pertanyaan lelaki itu.


Ara sadar jika kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya saat ini tengah cemburu dan berusaha menahannya, kak Fandi berjalan menyalami nenek dan Tante Ara, kemudian menghampiri Ara.


Reno mengecup kening Ara sebelum turun dari brangkar dan meninggalkan mereka untuk menelepon Anton, Kak Fandi yang melihat calon istrinya di kecup lelaki lain di hadapannya membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


Hatinya bertekat akan meminta ayahnya segera melamar gadis ini agar segera menjadi istrinya, agar tidak ada yang berani menganggu dan menyentuh miliknya.


__ADS_2