Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 118


__ADS_3

"Kak, rumah yang di tinggali tante sama nenek besar nggak?" Ara memutar tubuhnya menghadap Reno yang sedang mengendalikan kendaraan roda empatnya.


"Kenapa? Kamu mau yang besar?" Reno menatap wajah Ara sebentar dan kembali fokus pada jalanan yang terlihat padat.


"Enggak kok, malah jangan besar. Takutnya nanti aku capek pas bersihin rumah," Ara memanyunkan bibirnya, membuat Reno yang melirik menjadi gemas.


Reno menarik tangan Ara dan kini mereka berdekatan, hembusan nafas keduanya saling menyapa, rasa penuh cinta pun tersalur lewat tatapan itu.


Reno menarik tengkuk Ara dan menyatukan kedua kening mereka, bibir Reno perlahan mengecup kening itu lama. Ara menikmati kecupan itu, kecupan itu berpindah pada pangkal hidung Ara, perempuan itu masih terpejam menikmati bibir Reno yang menempel pada wajahnya.


Tanpa sadar bibir Ara mengatup, perutnya seperti dihinggapi kupu kupu, geli tapi menyenangkan, hingga detik berikutnya, sebuah benda hangat menempel pada bibirnya.


Ara membuka kedua matanya, menatap mata Reno yang kini tengah menatap dirinya. Reno menarik kepalanya dan tersenyum, lalu melepaskan tangannya yang berada di tengkuk Ara.


Tangan kirinya menarik tuas agar mobilnya kembali berjalan, karena lampu sudah menjadi hijau kembali. Ara menoleh menatap keluar jendela, padahal tadi dirinya berharap Reno akan melakukan hal lebih pada bibirnya, tapi ternyata hanya menempel.


Kenapa Reno tidak seagresif biasanya, gumam Ara dalam hati. Reno melirik kearah Ara yang terlihat kesal lalu berkata, "jika kita lanjutkan yang tadi, bisa saja kita di maki maki orang lain karena kita sedang di jalan raya. Beda kalau sudah di kamar, khilaf pun tak apa, tak ada yang menganggu," seloroh Reno yang langsung mendapat delikan tajam dari Ara.


"Kakkk!" desis sebal Ara, kenapa ucapan Reno seakan menjawab pertanyaan dalam hatinya tadi. Tangan Ara bersedakep dan saling menopang, netranya melirik Reno yang tengah fokus pada jalanan. Ara memalingkan wajahnya kembali menatap keluar jendela, tanpa Ara tahu tiba-tiba terdengar lagu yang mengalir dari musik box milik Reno, lelaki itu pun mengikuti nyanyian yang sedang menggema di dalam mobil itu.


Kali ini kusadari


Aku telah jatuh cinta

__ADS_1


Dari hatiku terdalam


Sungguh aku cinta padamu


Terimalah pengakuanku


Percayalah kepadaku


Semua ini kulakukan


Karena kamu memang untukku



Cintaku bukanlah cinta biasa


Dan kamu yang temani seumur hidupku


(Bukan Cinta Biasa by Afgan)



Lagu yang terdengar mengalun bersamaan dengan suara Reno, mengalir begitu merdu di indera pendengaran Ara. Mata Ara memejam menikmati kedua suara itu. Dalam hati Ara juga ikut menyanyikan lagu itu.

__ADS_1


***


Di mobil yang Om Yudha, Tante Rina dan nenek tumpangi.


"Saya manggil anda dengan sebutan apa enaknya, mas, tuan atau apa?" Tante Rina bertanya karena tidak tahan dengan keheningan, Om Yudha menoleh dan menatap Tante Rina yang kini tengah menatap dirinya.


"Senyamannya kamu saja," ucap Om Yudha sembari tersenyum, netranya menatap kaca spion atas, bibirnya tersungging kala melihat wajah ibu dari wanita masa lalunya memejamkan kedua matanya, dan terdengar dengkuran halus.


"Ibu kamu sepertinya kelelahan," Tante Rina mengikuti arah pandangan Om Yudha, Tante Rina juga menyunggingkan senyum kala melihat ibunya tertidur.


"Iya, semalam pasti nggak bisa tidur karena kepikiran Ara," Tante Rina menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil tersebut.


"Oya, Andri-" ucapan Om Yudha terputus karena Tante Rina memotong nya, "anda kenal dengan kakak ipar saya?" tanya Tante Rina terkejut, Om Yudha mengangguk dan melirik kearah Tante Rina.


"Kenapa kakakmu nggak jadi menikah dengan Rudi, tapi kenapa malah menikah dengan Andri?" Tante Rina semakin heran, keningnya mengkerut bingung.


"Tunggu, tunggu. Anda kenal kakak dan kakak ipar saya di mana? Kenapa anda juga mengenal si brengsek Rudi itu?" Tante Rina segera mengecilkan suaranya saat sadar suaranya sudah terlalu tinggi dan takut terdengar sang ibu.


"Mereka, Rudi dan Andri sahabat saya. Dan Rani...." Om Yudha menarik nafas, terasa berat dan sesak setiap menyebut nama itu.


"Dia meninggalkan kakak saya karena sudah membuat sahabat kak Rani hamil, dan itu ia lakukan saat dua hari menjelang pernikahan," Tante Rina menjelaskan, tangannya menekan dadanya yang terasa sesak setiap mengingat sang kakak yang harus menahan malu karena calon suaminya meninggalkan dirinya.


"Sahabat Rani?" Om Yudha menoleh dan mengernyit bingung,

__ADS_1


"Dan saya berterima kasih pada mas Andri yang mau menanggung semua penderitaan kakak saya," Tante Rina menambahkan, Om Yudha mendengarkan sambil mengingat sosok perempuan yang pernah Rudi kenalkan sebelum Rani memperkenalkan dirinya sebagai calon suaminya


"Namanya Dita?" Tante Rina menoleh dan terkejut saat sebuah nama terlontar dari mulut Om Yudha, "anda mengenalnya?" tanya Tante Rina sambil menatap tajam netra Om Yudha yang kini juga tengah menatap dirinya.


__ADS_2