
Di dalam kamar apartemen Mas Seno, "kak, gimana kalau aku pulang saja?" Ara yang saat ini berada di dekapan Reno mendongak, menatap wajah pria yang kini mengisi hatinya.
Terdengar helaan nafas panjang, Ara tahu ini pasti akan sangat sulit apalagi ada tragedi yang menimpa adiknya. Itu pasti alasan yang kuat untuk Reno menolak permintaan Ara, namun bukan Ara jika tidak keras kepala.
"Aku akan selalu menghubungi kamu jika ada apa apa dengan aku," Ara memainkan jemarinya di dada bidang Reno, membuat pria itu merasakan sesuatu.
"Kak Reno sayang," panggil Ara karena pria itu tak juga memberi jawaban, "tapi berjanjilah akan menjaga dirimu, hubungi aku jika ayah tirimu itu macam macam," ucap Reno terdengar tak rela.
"Tentu," Ara menjawab dengan yakin, tak ingin membuat pria di hadapannya ini lebih cemas, Ara sudah memiliki rencana untuk mencari bukti kejahatan ayahnya, juga mencari tahu di mana para pria yang sudah hampir melecehkan adiknya dan akan memberi mereka pelajaran agar kelak bisa menghargai wanita.
"Jam berapa kau akan pulang?" tanya Reno sembari mengeratkan pelukan itu, dan seakan ingin membuat tubuh Ara masuk dan bersatu dengan dirinya.
"Agak malam saja, aku masih ingin bersamamu," jawab Ara, mungkin pipinya berubah menjadi merah karena malu, tapi itulah kenyataannya. Kini dia tidak bisa jauh dari pria tua yang mengejar dirinya dan cintanya.
"Apa kau sedang merayuku?" Reno merenggangkan pelukan itu dan mengangkat dagu Ara, membuat kedua mata mereka beradu pandang.
"Huh, untuk apa aku merayumu," sungut Ara malu lalu menyingkirkan tangan kekar Reno, membuat pria beriris hasel tersebut tertawa terbahak.
__ADS_1
Di ruang tamu, Ria dan Mas Seno saling diam. Bingung ingin membahas apa, "eehhm," Mas Seno berdehem, Ria yang semula menunduk pun mendongak dan menatap wajah pria tampan di sampingnya.
Seandainya umur Ria sudah dewasa, pasti dia akan mengejar cinta mas Seno, eh. Bagi Ria, Mas Seno itu baik, gentle, jujur dan dewasa.
"Mas," akhirnya Ria bersuara, Mas Seno hanya mendongak menatap wajah Ria yang terlihat ragu mengatakan sesuatu.
"Bicaralah," kata Mas Seno lembut, Ria menarik nafas perlahan lalu mengeluarkan melalui mulut.
"Gimana kalau aku indekost aja, nggak enak jika kelamaan di sini," katanya dengan canggung, 'tidak baik juga bagi kesehatan jantungku' lanjutnya dalam hati.
Mas Seno tersenyum, "nanti tanya kakakmu dulu baiknya gimana," saran mas Seno yang langsung di angguki Ria.
"Ya, ada yang bisa di bantu?" tanyanya setelah sampai di depan meja, netra Mas Seno menatap Ara yang seyang berdiri di samping lemari pendingin.
"Ga pernah belanja buat masak?" tanya Ara begitu tidak mendapati satu pun bahan mentah untuk dia olah, tadi dia menawari Reno ingin di masakan apa, jawab pria itu terserah, asal dia yang memasak dan di bumbui dengam cinta sepenuh hati.
Mas Seno tertawa, "maaf, jarang masak. Paling masak mie instan atau pesen lewat online," Ara cemberut mendengar jawaban Mas Seno.
__ADS_1
"Nggak sehat tau makan mie instan mulu," tegur Ara, kini dia berani menasehati pria yang sudah dia anggap sebagai kakak tersebut.
"Ya ngga tiap hari juga, Ra. Terkadang tunangan ku kesini membawakan makanan hasil dia memasak," netra Ara melebat, "jadi tunangan Mas Seno sering kesini?" mas Seno memutar bola malas.
"Mereka udah dewasa ini, mau nikah juga. Jadi nggak ada yang perlu di khawatir kan," sahut Reno yang tiba tiba muncul di dapur.
"Bukan gitu maksud ku," Ara bingung mau berkata apa lagi, Mas Seno dan Reno tertawa melihat ekpresi yang Ara tunjukkan.
"Iya kami tahu kok," kata mereka bersamaan, jawaban mereka membuat wajahnya memerah menahan malu dan marah, 'memang mereka tahu apa yang aku pikirkan!' jerit Ara dalam hati.
"Ya sudah, aku belanja dulu. Mau masak apa?" tanya mas Seno, Ara pun tersenyum puas lalu menyebutkan bahan bahan makanan mentah yang akan dia olah.
"Uangnya minta calon suamikuya, Mas," Ara tersenyum sambil menatap wajah Reno, Mas Seno mengangguk cepat lalu menengedahkan tangannya di depan wajah Reno, membuat pria itu berdecak sebal.
"Pakai uang loe dulu, tar gue ganti," kata Reno, "oke," jawab mas Seno sumringah.
Bagaimana tidak sumringah, jika sahabatnya itu berhutang pasti di lebihkan. Uang lelah katanya, semua sahabat Reno tahu, walau pria itu terkenal jutek dan dingin, akan tetapi dia sangat solid saat bersama teman temannya.
__ADS_1
Mau dong sekali sekali di komen biar semangat updatenya hehehe, kalau di kasih hadiah pun ngga nolak. Salam sayang selalu. Boleh juga kok mampir ke karya saya yang lain berjudul "Gairah Cinta Duda Tampan" dan "Pernikahan Kontrak(pesona mantan istri kontrak) di web. Novel.