Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 124


__ADS_3

Di rumah keluarga Reno, mama Lydia terus memandang laptop sang suami, kepalanya dipenuhi berbagai banyak tanya tentang sosok wanita yang berada di akun birunya, kenapa harus di sembunyikan, walau itu akun lama tapi hatinya sakit mendapati kenyataan jika sang suami menyimpan foto wanita lain.


"Kenapa aku seperti tidak asing dengan wajah ini?" gumamnya sambil terus menatap intens foto itu, kepalanya terangkat kala mendengar suara pintu ruang kerja Om Yudha terbuka, Ya saat ini mama Lydia, mamanya Reno sedang berada di dalam ruangan ini, entah kenapa ia mempunyai firasat tak enak saat suaminya mulai berlama lama di ruangan ini, apalagi semenjak pertemuan pertama mereka dengan sosok pria yang wajahnya separuh terbakar.


"Lho, kok di sini. Papa cariin juga," lelaki yang bergelar suami mama Lydia tersebut mengulas senyum sambil menyeret langkahnya mendekati sang istri yang tengah membuka laptopnya, ada perasaan takut saat lelaki itu melihat sorot mata yang mengandung kemarahan, dan begitu banyak pertanyaan di sana, apalagi saat istrinya tersebut membuka dan melihat isi laptop miliknya.


"Pa, dia siapa?" Mama Lydia bertanya sambil menunjuk wajah seorang wanita yang tengah tersenyum lebar, dan saat ini Om Yudha sudah berdiri tepat berada di samping Mama Lydia.


Degh, Om Yudha terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut sang istri. Netra Om Yudha mengikuti jari telunjuk sang istri, 'bagai-bagaimana Lydia bisa membukanya, bukankah sudah aku tutup dan sudah aku keluarkan?' gumam Om Yudha dalam hati.


"Siapa dia, Pahh!!??" Mama Lydia berteriak marah karena pertanyaan pertamanya tak juga di jawab, entah kenapa hatinya semakin yakin jika wanita ini sangat berharga untuk suaminya.


"Bukan siapa siapa, Mah," jawab Om Yudha berbohong, tidak sepenuhnya berbohong karena kenyataan nya wanita itu bukan kekasihnya, bukan adik atau bukan saudari nya, hanya wanita yang ia cintai.


"Bohong kamu!" sentak Mama Lydia sembari menunjuk wajah suaminya, "tidak mungkin dia bukan siapa siapa kamu jika sampai bertahun tahun fotonya masih kau simpan." nafas Mama Lydia tersenggal senggal, tak terasa bulir airmata membuat netra itu kabur.


"Katakan, dia siapa?" suara Mama Lydia hanyut dalam isak tangis, wanita yang melahirkan Reno tersebut menangis sembari memukuli dada bidang sang suami, sedang Om Yudha membiarkan, lelaki itu mendongak sambil mengatupkan kedua bibirnya, ada rasa sakit saat melihat wanita yang menemani dirinya bertahun tahun lamanya menangis karena keegoisannya, ya ia egois karena masih memiliki rasa untuk seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini, apalagi mereka sudah saling memiliki seseorang yang berhak atas diri mereka masing-masing.


"Maaf," hanya itu yang terucap dari mulut Om Yudha dan lelaki itu semakin mengeratkan pelukan mereka, sedang tangis Mama Lydia semakin histeris.


Satu setengah jam kemudian, "apa aku bisa percaya ucapan mu, Pah?" tanya Mama Lydia, kepalanya mendongak menatap wajah suami yang sangat ia cintai itu, dan kini mereka sudah berada di dalam kamar dan saling berpelukan dalam keadaan tanpa sehelai benang pun menempel pada tubuh keduanya, ya mereka telah melakukan ritual suami istri setelah perdebatan yang menguras emosi keduanya.

__ADS_1


"Ya hanya dirimu yang kini aku cintai, Sayang," ucap Om Yudha sembari mengecup kening Mama Lydia lama, dan wanita itu menikmati luapan kasih sayang sang suami.


'Maaf, Rina. Ini saatnya aku harus melupakan kisah kita, walau hatiku masih mencintai dirimu, kini ada hati wanita yang harus aku jaga,' gumam Om Yudha dalam hati, sebenarnya bisa saja Om Yudha move on dari dulu, namun semenjak pertemuan pertamanya dengan Ara membuat ia kembali mengingat sosok perempuan yang mirip dengan gadis itu, apalagi mendengar cerita Reno jika Rina sempat depresi beberapa tahun karena Rudi meninggalkan dirinya.


Hingga sosok Ayah Andri datang dan ingin membuat perempuan itu kembali ceria, walau dulu Ayah Andri jarang bertemu dengan Rani. Namun kesan yang wanita tinggalkan begitu dalam.


***


"Kak," Ara tersenyum kala pertama kali dirinya membuka mata yang ia lihat adalah Reno, "kamu sudah bangun, Ra?" Kak Fandi yang masih duduk di sebelah kiri Ara ikut tersenyum dan mengecupi punggung tangan Ara bertubi tubi, Ara menoleh dan terkejut. Seketika mendudukkan tubuhnya dan menarik tangannya yang di genggam Kak Fandi dan kemudian meringis karena jarum infus yang tertancap di tangannya ikut tertarik.


"Ssstt, jangan banyak bergerak dulu," ujar Reno sembari membantu Ara kembali merebahkan tubuhnya yang tiba tiba bangun karena terkejut tadi.


"Ra, aku di sini dari tadi nungguin kamu lho," ujar Kak Fandi terdengar kesal karena tiba-tiba Ara menarik tangannya, "maaf, kamu siapa?" kening Ara mengernyit bingung. Semua orang menatap bingung akan reaksi Ara, "aku Kak Fandi, Ra," kata Kak Fandi yang mencoba membingkai wajah Ara namun segera di tepis oleh Ara.


"Kak Eno, Rara nggak kenapa napa 'kan. Tadi aku lihat ayah ngedorong Rara ke jalanan setelah Rara ngedorong aku, dan pas Rara jatuh ada truk lewat," ucap Ara yang semakin membuat Kak Fandi bingung, sedang Reno mulai paham.


"Kamu sudah ingat semua, juga ingat siapa aku?" Reno duduk di brangkar di samping Ara sedang berbaring, wanita itu mengangguk.


"Kamu itu 'kan kak Eno, oya, bunda mana?" Reno segera memeluk tubuh Ara, di kecupinya pipi dan kening perempuan itu, sedang di sofa di mana ketiga wanita kesayangan Ara tersenyum lega karena Ara sudah mengingat semuanya.


Reno menarik nafas dan meminta Ara bersabar saat ia akan bercerita, Ara mengangguk. Dan mengalirlah cerita yang Reno tahu dan ia dapat dari berbagai sumber, Kak Fandi ikut terkejut saat mendengar cerita yang mengalir dari mulut Reno.

__ADS_1


"Ayah, ayah yang kamu maksud Om Amar?" Kak Fandi bertanya linglung, Reno mengangguk, seketika Kak Fandi lemas bahunya lunglai dan tubuhnya bersandar pada kursi yang ia duduki.


Kak Fandi tak menyangka jika penyebab Ara sakit dan sempat koma hingga kehilangan ingatannya juga kehilangan saudari kembarnya adalah pak Gito yang lebih ia kenal dengan Om Amar.


Dan lebih tega lagi, lelaki yang menyandang posisi sebagai ayah bagi Ara berniat menjual Ara pada ayahnya juga Om Amir, ayah Dion. Beruntung semua belum Reno ceritakan tentang Ria yang di jadikan jaminan pengganti Ara, dan Dion yang mencoba melecehkan Ara.


Rahang Kak Fandi mengeras, "Ra, sekarang aku ikhlas jika kau mau menikah dengan dia," ucap Kak Fandi sambil menunjuk Reno, "dia pantas mendapatkan cintamu karena dia begitu baik dan setia, masalah Om Amar, biar itu menjadi masalah ayah dan Om Amar. Sekarang kamu fokus sembuh saja, anggap aku kakakmu kalau kau mau," Kak Fandi menambahkan, Ara mengangguk.


Ria, tante Rina dan nenek tersenyum lega, sedang Anton yang duduk lesehan di samping Ria menyandarkan kepalanya di pangkuan gadis itu, dan tanpa sadar Ria mengusap kepala Anton.


***


Di tempat persembunyian seseorang, polisi berpakaian biasa datang mengetuk pintu. Tampak seorang setengah baya membuka pintu, kening lelaki itu mengernyit heran.


"Cari siapa, Mas?" tanya lelaki itu pada pria yang lebih muda darinya. Lelaki yang baru saja membuka pintu sengaja tidak membuka lebar pintu itu.


"Saya mau mencari Pak Toni," ujar polisi yang sedang menyamar itu, "Toni?" tanya ulang si lelaki itu, sedang si polisi itu mengangguk.


"Tapi maaf, di sini tidak ada yang namanya Toni, adalah-"


"Siapa Ron?" ucapan lelaki itu terpotong Karena temannya keluar dan bertanya, "ini lho, To. Ada yang nyariin Toni, kan di sini nggak ada yang namanya Toni," seloroh lelaki yang membuka pintu tadi.

__ADS_1


"Masa saya salah alamat, padahal beliau memberikan saya alamat di sini lho," ujar polisi itu sambil menyodorkan secarik kertas yang benar berisi alamat rumah itu.


Terus pantengin ya man teman, Reno mau tamat beberapa part lagi nih.


__ADS_2