
Dering ponsel Ara mengganggu tidur dua insan yang baru saja terlelap itu, dengan malas Ara bangun dan mengambil ponsel yang dia letakkan di meja kecil di belakang Reno.
"Ria," gumamnya pelan, kemudian berdiri dan berdiri di depan jendela dan membukanya sedikit, "ya, halo," ucap Ara begitu telepon tersambung.
"Kakak di mana?" suara Ria terdengar seperti berbisik, "kakak lagi keluar kota, baru ngurus tempat buat buka cabang rumah makan kakak," bohong Ara.
"Ada apa?" Ara bertanya setelah beberapa saat tidak terdengar suara di seberang, "tidak ada, di rumah sepi kalau kakak nggak ada. Nggak ada yang bantuin Ria masak, kalau masak dikit takut ayah marah kaya kemarin waktu kakak pulang telat," keluh Ria yang setelahnya terdengar menghembuskan nafas.
"Kamu udah makan?" Ara melirik jam di atas pintu, "belum, nggak sempat masak juga." balas Ria, Ara terkejut kala ada tangan kekar melingkar di perutnya. Ara melebarkan netranya, kesal pada pria yang selalu membuat kinerja jantungnya bekerja lebih cepat.
Dengan tanpa seizin Ara, Reno mengambil ponsel itu dan meloud speaker panggilan telepon itu, "Kak," karena Ria tidak mendapati balasan dari sang kakak, dia memanggilnya.
"Eh, ya," Ara memukul lengan Reno yang malah mendapat kecupan di pipinya, "ayah belum pulang?" tanya Ara, Ria menghembuskan nafas pelan.
"Itu baru pulang," jawab Ria dari seberang sana, Ara melirik Reno sejenak dan menanyakan apa yang pria ini tadi katakan, "apa kamu tahu ayah suka judi?" tanya Ara hati-hati, "tahu, Kak," jawab Ria langsung, hati Ara seketika kesal pada ayahnya.
"Riaaa, mana kakak kamu? Kenapa belum pulang, ini ayah lapar! Sana masak buat ayah!!" Ara mendengar ayahnya berteriak dan mengedor pintu adiknya, tiba-tiba rasa takut mencuat di hati Ara. Takut ayahnya akan menyakiti adiknya, "iya sebentar ayahh!!" Ria balas berteriak.
__ADS_1
"Harusnya kamu itu seperti kakakmu, walau dia bodoh seperti ibumu tapi dia cekatan!" masih terdengar gerutuan ayahnya. Tangan Ara mengepal kuat, ternyata di belakang nya pria yang dia panggil ayah dan dia kira ayah kandungnya suka mengunjing dan mengolok olok dirinya, Ara merasakan dekapan Reno semakin kencang.
"Tenang, Ra," bisik Reno menguatkan kekasihnya, Ara hanya mengangguk dan menggenggam erat jemari Reno.
"Kak, sudah dulu ya. Ria mau masak buat ayah dulu," pamit Ria yang kemudian menutup sambungan telepon itu. Tubuh Ara seketika lemas, "kenapa di begitu membenci aku, kenapa?" Reno langsung memeluk dengan kuat agar wanita ini tidak jatuh.
"Tenang ada aku, ada nenek, ada bulek sama om Indra," ucap Reno menguatkan, "tadi dia bilang aku bodoh, aku memang bodoh. Aku memang bodoh karena mau di manfaatkan oleh orang yang aku panggil ayah huhuhu," Ara menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kita tidur lagi, ya. Besok kita ke makam bundamu dan ayahmu," bujuk Reno, dan benar saja. Tangisan Ara berubah menjadi isakan kecil, "kemakam bunda sama ayah?" Ara bertanya setelah memutar tubuhnya dan menatap lekat wajah pria di hadapannya.
"Iya, Sayang," Reno mengecup kening Ara, gadis itu tersenyum lalu dengan malu malu mengecup bibir Reno dengan sedikit berjinjit, "terima kasih selalu ada untuk aku, Sayang," Ara mengatupkan kedua bibirnya, dan pergi dari sana saat Reno tengah terkejut dengan tindakan wanita ini.
"Mikir apa?" Reno menarik tubuh Ara agar semakin merapat, gadis itu menurut dan menjadikan lengan Reno sebagai bantal.
"Apa ayah Gito tahu, ayah kandung ku orang berada?" Reno tampak berpikir dan akhirnya mengangguk, walau ragu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ara mendongak menatap wajah Reno, tatapan keduanya pun bertemu, "tetaplah bahagia dan jangan pikirkan apapun, biar aku dan Om Indra yang bekerja," Ara mengangguk dan masih menatap wajah Reno, entah siapa yang memulai dahulu tiba tiba bibir mereka menyatu, lidah mereka saling bertautan dan saling membelit. Keduanya pun saling bertukar saliva.
__ADS_1
"Ayo kita segera menikah," ujar Reno begitu penyatuan bibir itu lepas, Ara menelusupkan wajahnya di dada bidang Reno menahan malu karena baru kali ini dia menanggapi permainan Reno, dia yang biasanya pasrah kini mulai membalas.
Dan bagi Reno, sungguh berdekatan seperti ini dengan Ara jika tidak kuat iman dan mental, akan tidak baik dampaknya.
"Apa kau sudah izin nenek?" tangan Ara melingkar di perut Reno, di kepala Ara terasa kalau Reno sedang mengangguk.
"Bulek juga Om Indra sudah setuju, bukannya tadi mereka menyuruh ku segera menikah denganmu?" goda Reno yang langsung mendapat cubitan sayang di pinggang nya.
Tubuh Ara yang menempel pada tubuh Reno merasakan sesuatu yang menganjal di bawah sana, "Kak," Ara mendongak, dan gadis itu melihat Reno tengah memejamkan netranya, "ya, Sayang," Reno menjawab panggilan Ara tanpa membuka mata.
"Kamu udah ngantuk?" dengan polos Ara bertanya tanpa merasa betapa tersiksanya dirinya. Reno menggeleng, "kenapa?" tanyanya pada Ara.
"Kau menyembunyikan apa, kenapa di bawah sana ada yang menganjal?" Reno segera menarik tangan Ara yang hendak menyentuh batang berotot miliknya, gadis itu cemberut.
"Aku hanya penasaran, Sayang." Ara mencoba membujuk Reno memperlihatkan apa yang membuat dirinya penasaran, "besok kalau kita sudah menikah kau pasti tahu, dan setiap hari melihat nya," jawab Reno terdengar ambigu bagi Ara.
"Kenapa harus nunggu nikah dulu?" cecar Ara ingin tahu.
__ADS_1
"Itu karena...."