Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 19


__ADS_3

"Abanggg," Diva yang baru melihat Rendra pulang sekolah begitu senang, Rendra yang melihat adik kecilnya itu tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya dan langsung menangkap tubuh kecil Diva.


"Abang baru pulang? Diva kesepian kalau abang pulang sore terus," Diva merajuk, "abang kamu sekolah Div, bukan bermain," tegur Nadin pada sang bungsu, gadis itu langsung memanyunkan bibirnya.


"Ya udah, adik abang mau main apa?" tidak ingin melihat adiknya kecewa, akhirnya Rendra memilih mengalah, Diva tersenyum senang.


"Ke kamar abang aja, yuk," Diva menarik tangan Rendra menuju kamar kakak lelakinya, kesempatan bermain dengan Rendra jarang Diva dapatkan, jika tidak dia ketiduran pasti ada Sera, kakak perempuannya yang selalu menjauhkan dia dari kakak lelakinya.


"Diva, bang Rendra pasti capek pulang sekolah," tegur Nadin sang mama, "hanya sebentar, Ma. Mumpung kak Sera ngga ada ini," tolak Diva yang terus menarik tangan Rendra, Nadin hanya pasrah dengan kelakuan kedua putrinya.


Akhirnya Rendra dan Diva belajar berdua, "bang, pacaran itu apa sih?" Diva bertanya sembari memiringkan kepalanya, Rendra yang sering mendengar kata 'pacaran' tapi tidak tahu artinya, akhirnya hanya mengedikkan bahu tidak tahu, Diva mencebik kesal.


"Di sekolah Diva ada yang pacaran, makanya Diva bertanya pacaran itu apa?" tanya Diva polos, Rendra tersenyum menanggapi celotehan adiknya. Tangannya kembali sibuk mengerjakan beberapa tugas sekolah yang tadi belum sempat ia kerjakan.


***


"Pa," Rea memanggil Reno yang sedang memeriksa berkas-berkas yang ia bawa, semenjak mbak Siti hamil, mas Seno sering minta izin, dan Reno mengizinkan. Alasan utamanya adalah Reno pernah mendampingi kehamilan Ara yang luar biasa.


"Ya, Tuan putri," Reno menghentikan gerakan tangannya mengetik pada laptop yang ia pangku, kemudian melepas kacamata baca yang selalu ia pakai saat mengerjakan atau meneliti berkas.


"Tadi Rea di panggil Bu Sri, katanya Rea di suruh ikut lomba cerdas cermat," Reno meletakkan laptop itu ke atas meja, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri putrinya yang tengah tiduran di ranjang miliknya, ya saat ini Reno da Rea tengah berdua di kamar utama.

__ADS_1


"Rea mau?" tanyanya sembari menatap iris mata Rea yang mirip dengan iris matanya, gadis itu mengangguk.


"Boleh kan, Pa?" Rea bertanya meminta pendapat, Reno segera mengangguk cepat lalu memeluk putrinya, "papa percaya kamu bisa," ujar Reno menyemangati Rea, keduanya lantas tersenyum lalu saling memeluk.


"Rea sayang, Papa," katanya yang kemudian mendapat kecupan bertubi tubi pada kepalanya.


***


"Rea, ayo sayang, katanya mau jalan jalan," Reno mengetuk pintu kamar Rea, hari ini hari libur dan mereka semalam sudah saling berjanji untuk menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan, "Rea, keburu siang, tuan putri," Reno kembali memanggil putrinya yang tak kunjung membuka pintu.


"Sabar papa, Sayang," Rea muncul dengan menutup mulut sambil terkikik, Reno mendengus kesal lalu merangkul dan menciumi kepala Rea.


"Kenapa kamu cantik sekali, tapi Mama Ara lebih cantik," puji Reno, Rea tersenyum hangat, "ya, Rea setuju. Perempuan paling cantik adalah mamanya Rea, Mama Ara. Jika mama Ara tidak cantik mungkin papa tidak akan mau sama mama, trus nggak akan ada Rea, iyakan," Rea mendongak dan melihat mata tua ayahnya tampak berkaca-kaca.


Dan terbukti, dua art yang bekerja padanya begitu telaten dan begitu menyayangi Ara sewaktu masih ada, saat Ara mengandung pun mereka selalu memberikan yang terbaik untuk istrinya tersebut.


Apalagi saat Ara pergi untuk selamanya, mereka membantu Ria, adik iparnya merawat dan menjaga Andrea atau Rea, putrinya.


Di dalam mobil yang mereka tumpangi, anak dan bapak itu bernyanyi apapun yang mereka hafal dan terkadang mereka tertawa karena keabsourdan mereka.


"Pa, tumben rame. Ada apa ya?" jalanan di depan mereka sangat lah ramai, banyak mobil yang berhenti dan menepi padahal bukan di perempatan lampu merah, Reno dan Rea terkejut saat ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.

__ADS_1


"Tuan, tolong hubungi ambulans. Ada korban kecelakaan di depan," ujar lelaki itu terlihat ngos-ngosan sambil memegang dan menekan dadanya seperti habis berlari kiloan meter.


"Tolongin yuk, Pa," Rea berkata dan terlihat cemas, Reno mengangguk lalu mereka keluar dari mobil itu dan menguncinya, hanya berjaga jaga jika ada orang yang menggunakan kesempatan ini untuk bertindak dalam kejahatan.


Reno, Rea dan laki-laki itu berlari kearah di mana seorang lelaki paruh baya terkapar sambil memegang kepalanya.


"Mundur, mundur, beri mereka udara!" Reno berteriak dengan nyaring, Reno berpikir, apa mereka tidak tahu jika bergerombol seperti ini membuat si korban sesak.


Deg, sedang lelaki paruh baya yang terkapar itu terkejut dan takut mendengar suara menggelegar yang baru saja dia lihat.


Reno yang sudah sampai di depan si korban ikut terkejut, "pak Gito," desis Reno sambil mengepalkan jemarinya, tatapan Pak Gito beralih pada gadis yang sedang memandang penuh rasa iba pada dirinya.


Selang beberapa detik, kedua kelopak mata Pak Gito tertutup, tak ingin kehilangan kesempatan Reno segera berteriak kembali, "ambulans, mana ambulans nya!!!!" Rea terkejut dengan perubahan sang ayah, baru kali ini ia melihat ayahnya terlihat begitu berbeda, bukan papanya yang penyabar, tapi lebih seperti monster.


Reno segera meraup wajahnya dengan kasar lalu menatap putrinya yang terus menatap dirinya, "maaf, Papa hanya cemas," ujarnya yang kemudian menarik Rea kedalam dekapannya.


"Papa ngga apa-apa?" Rea bertanya sambil mendongak menatap sang ayah, Reno hanya mengangguk menanggapi pertanyaan putrinya.


"Papa kenal kakek-kakek itu?" Rea kembali bertanya, Reno bingung hendak menjawab apa, sedang Rea tadi sempat melihat tatapan seperti rasa bersalah saat pandangan mereka bertemu.


"Dia, ayah sambung Mama Ara," akhirnya Reno mengatakan kebenaran, "berarti kakek Andri itu ayah kandung Mama Ara?" Reno mengangguk, "dengar, jika waktunya tepat, papa akan ceritakan semua pada Rea, oke?" Rea mengangguk mengerti, berarti ini bukan waktu yang tepat untuk ayahnya bercerita, dan Rea harus bersabar hingga waktu itu tiba.

__ADS_1


***


Di rumah sakit, Reno mondar mandir di ruang rawat Pak Gito yang kini terbujur tak berdaya. Reno menghubungi Ria dan suaminya, Reno mengatakan sudah menemukan pak Gito, dan mereka segera meluncur ke tkp.


__ADS_2